The 9th International Symposium of Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI) menutup rangkaian kegiatan pada Jumat (7/8) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI. Setelah berlangsung selama empat hari dengan menghadirkan 35 panel.

Tupan kegiatan ini dilanjutkan dengan symposium summary yang disampaikan oleh Irwan Martua Hidayana, Ph.D., anggota steering committee ISJAI 2026 dan dosen Antropologi FISIP UI. Dalam pengantarnya, Irwan menyampaikan bahwa ISJAI tahun ini merupakan salah satu penyelenggaraan dengan jumlah panel terbesar, yakni sebanyak 35 panel. Karena banyaknya panel yang berlangsung secara paralel, ia juga menyampaikan bahwa rangkuman tersebut tidak dapat sepenuhnya mencakup seluruh pembahasan yang berlangsung selama symposium.

Meskipun demikian, sejumlah tema besar berhasil ditarik dari berbagai diskusi. Tema pertama adalah Global South sebagai site of theory, yang menegaskan bahwa Global South tidak hanya menjadi sumber data empiris, tetapi juga ruang lahirnya teori dan pengetahuan melalui pengalaman lokal, pengetahuan adat, kajian feminis, serta penelitian kolaboratif.

Tema kedua adalah pluriversal futures, yang menunjukkan bahwa masa depan tidak semata dirancang melalui kebijakan dari atas, tetapi terus dibentuk melalui praktik sehari-hari, adaptasi, kerja sama, dan resiliensi masyarakat dalam menghadapi berbagai ketidakpastian.

Selanjutnya, diskusi mengenai multipolaritas memperluas pemahamannya dari sekadar pergeseran kekuatan geopolitik menjadi sesuatu yang juga hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui beragam sistem hukum, institusi lokal, wilayah adat, platform digital, hingga tata kelola masyarakat. Care juga muncul sebagai tema lintas panel, tidak hanya dalam konteks kesehatan, tetapi sebagai praktik politik yang berkaitan dengan tanggung jawab, keadilan, dan keberlanjutan komunitas serta lingkungan.

Sementara itu, dekolonisasi dipahami sebagai proses berkelanjutan untuk mengubah cara pengetahuan diproduksi, dibagikan, dan dihargai, dengan menempatkan komunitas bukan sekadar sebagai objek penelitian. Pembahasan terakhir mengenai relasi manusia, non-manusia, dan lingkungan turut menegaskan pentingnya perspektif multispecies dalam memahami masa depan yang plural dan saling terhubung.

Rangkaian symposium summary kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi dan tanggapan dari peserta. Sejumlah peserta mengapresiasi upaya ISJAI dalam menghadirkan perspektif yang inklusif, termasuk penelitian dari berbagai wilayah dan pembahasan mengenai isu perempuan, masyarakat adat, LGBT+, serta berbagai pengalaman dari India, Tiongkok, Papua, dan wilayah lainnya. Peserta juga menyoroti pentingnya memperluas akses terhadap diskusi yang berlangsung dalam bahasa Indonesia agar dapat menjangkau audiens internasional secara lebih luas.

Dengan berakhirnya sesi penutupan di Auditorium Juwono Sudarsono, ISJAI 2026 menutup rangkaian empat hari pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dari berbagai latar belakang. Lebih dari sekadar merangkum hasil diskusi, penutupan ini menegaskan kembali semangat symposium untuk melihat masa depan sebagai sesuatu yang plural, relasional, kolaboratif, dan terus diproduksi melalui pengalaman masyarakat.