Select Page
Dua Alumni Kriminologi Berbagi Pengalaman Penelitian Menggunakan Metode Etnografi

Dua Alumni Kriminologi Berbagi Pengalaman Penelitian Menggunakan Metode Etnografi

Setiap peneliti dalam sebuah riset harus melalui proses pengumpulan data untuk kemudian diolah dan dianalisa. Prosedur tata cara dan langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan secara sistematis dengan menggunakan metode penelitian yang dipilih oleh peneliti namun dalam prosesnya peneliti seringkali mengalami berbagai kendala seperti keterbatasan akses terhadap narasumber, perbedaan waktu dan jarak dengan lokasi penelitian, keterbatasan dalam mendapatkan data skunder dan kendala lainnya.

Peneliti yang melakukan riset terkait kejahatan, kekerasan dan penyimpangan ataupun isu-isu sensitif memiliki tantangan tersendiri yaitu akses terhadap data sensitif yang cenderung rahasia sehingga informasi sulit digali lebih dalam. Sejalan dengan hal tersebut maka Departemen Kriminologi FISIP UI bekerjasama dengan Intitut Français Indonesia dan France Alumni Indonesia mengadakan webinar dengan topik Metode Etnografi dan Etnohistori dalam Penelitian Kejahatan di Indonesia pada Jumat (13/04).

Menghadirkan narasumber Eduardo Erlangga Drestanta (Peneliti Laboratoire Médiations Université Paris-Sorbonne) dan Gloria Truly Estrelita (Kandidat Doktor Centre Asie du Sud-Est EHESS/Co-Founder AlterSEA) yang akan berbagai pengalaman tentang penelitian etnografi dan etnohistori dalam penelitian kejahatan di indonesia.

Eduardo Erlangga Drestanta, yang saat ini sedang melakukan penelitian terkait etnik yang ada di Maluku yaitu etnis Alifuru yang berjudul Kebangkitan Adat – Konflik Etnis Pulau Seram Maluku, dalam penelitiannya Eduardo menggunakan metode etnografi untuk menjelaskan pemetaan. “Kebangitan adat menjadi fenomena pasca reformasi, kurang lebih tahun 2015 undang-undang desa adat di sahkan namun di Indonesia Timur tepatnya di Maluku malah terjadi banyak gesekan padahal permintaan kebangkitan adat menjadi salah satu yang dibutuhkan,” ujar Eduardo.

Lebih lanjut Eduardo mengatakan bahwa etnografi intinya adalah suatu deskripsi yang menggambarkan dan menjelaskan bagaimana kebudayaan suatu suku bangsa. Kualitatif bersifat subjektif, peneliti melakukan interaksi secara langsung terhadap onjek yang ditelitinya menggunakan kata-kata personal, prosesnya induktif dan desainnya dapat berkembang dan dinamis. Etnografi juga mempunyai beberapa bentuk dan jenis seperti etnografi klasik, etnografi sistematis, etnografi interpretive dan critical ethnography

“Ada Sembilan unsur wajib kerangka laporan penelitian etnografi seperti lokasi, lingkungan alam, demografi, asal mula sejarah subjek penelitian, Bahasa, sistem teknologi, sistem matapencarian atau ekonomi, sistem pengetahuan, organisasi sosial, kesenian, sistem kepercayaan atau religi. Dalam penelitian yang menggunakan etnografi yang pertama adalah identifikasi masalah dan sampel/fokus area penelitian, kedua pembuatan timeline, lalu pengumpulan data di lapangan, terakhir analisis dan laporan akhir,” jelas Eduardo.

Selain itu tentunya ada kelemahan dan keunggulan penelitian yang menggunakan metode etnografi ini seperti proses waktu lama, kurang berperan dalam penyelesaian masalah sosial secara cepat dan cenderung memotret dalam satu kurun waktu tertentu. Keunggulannya lebih dalam, tidak membosankan, holistic, fleksibilitas analisis.

Berbeda dengan Eduardo, Gloria Truly menggunakan metode etnografi dalam kajian pemenjaraan di Indonesia, “kita bisa paham debat agama dan politik di Indonesia melalui kehidupan di penjara. Metode etnografi ini sebagai metode lintas ilmu dan bukan hanya mengumpukan data tetapi juga terjun langsung kedalam sebuah komunitas tertentu unutk melakukan observasi. Ada hal yang menarik ketika melakukan penelitian dengan menggunakan metode etnografi yaitu ketika terjun langsung kedalam komunitas tertentu kita menanggalkan semua penghakiman agar tidak ada asumsi apapun”.

“Sumber untuk penelitian juga menggunakan kulitatif dengan wawancara secara langsung agar dapat mengeksplorasi hal-hal tersembunyi yang tidak ada di arsip, dokumen maupun tertulis. Dari pengalaman saya ada beberapa kesalahan yang saya lakukan seperti berusaha menjadi bagian dari komunitas padahal ternyata itu tidak diwajibkan, lalu saya sudah mengeneralisasi duluan padahal setiap orang mempunyai ceritanya masing-masing walaupun dikomunitas yang sama,” ungkap Gloria.

Selain itu, ia menambahkan bahwa metode penelitian etnografi ini mempunyai keterbatasan seperti sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah, terkadang juga tidak akurat, bias, tidak lengkap. Dilebih-lebihkan bahkan imajiner.

Orasi Ilmiah Andi Widjajanto: Tantangan yang Dihadapi Indonesia Menuju 2045 Indonesia 100 Tahun

Orasi Ilmiah Andi Widjajanto: Tantangan yang Dihadapi Indonesia Menuju 2045 Indonesia 100 Tahun

Pada upacara wisuda virtual Pascasarjana, Gubernur Lemhannas yang juga merupakan alumnus FISIP UI Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc mendapatkan kesempatan untuk memberikan orasi ilmiah yang memaparkan beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam perjalanan menuju 2045, Indonesia 100 tahun.

Andi mengatakan, “Indonesia harus mampu berpikir komprehensif, kompleks dan berpikir holistik. Mulai dari memperkuat demokrasi, mengokohkan pertumbuhan ekonomi, mempercepat pemerataan infrastruktur, memanfaatkan bonus demografi, melakukan modelisasi dan tranformasi pertahanan kedepan, dan yang paling utama adalah bagaimana memperkuat budaya strategis dengan perkembangan terkini di abad ke-21.”

Di sinilah pentingnya peran perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia selalu melaksanakan Tridarma pendidikannya untuk membuat program-program pendidikan, penelitian, kajian yang dilakukan oleh universitas mampu mempersiapkan Indonesia untuk melakukan transformasi-transformasi variabel utama.  “Sehingga Indonesia mampu memproyeksikan kekuatannya tidak hanya di kawasan Asia Timur tapi bahkan di lingkungan global,” ujar Andi.

Andi menjelaskan, menuju tahun 2045, mengkaji konsolidasi demokrasi untuk politik demokrasi sangat terkait dengan peran perguruan tinggi dan mahasiswa untuk memperkokoh konsolidasi demokrasi, saat ini secara global kecenderungan dunia sudah berubah dari rezim otoritarian menjadi rata-rata negara menganut rezim demokrasi oleh karena itu ada tantangan proses menuju konsolidasi demokrasi atau demokratisasi, disinilah peran pendidikan tinggi untuk mengawal dan memberikan kesadaran tentang konsolidasi demokrasi.

Tantangan lainnya adalah peningkatan kesejahteraan, terjadinya pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri untuk ekonomi Indonesia, pemerintah mempunyai program-program ekonomi untuk mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara maju.

Lalu tantangan mengamankan poltik kebangsaan, ancaman ideologi radikal, gerakan transnasionalisasi yang muncul dalam bentuk serangan teror di Indonesia, sejauh ini Indonesia ada kecenderungan bahwa Indonesia berhasil untuk melakukan mitigasi terornya, namun kita tidak boleh lengah, untuk itu peran perguruan tinggi menjadi sentral terhadap pemahaman kebangsaan.

Indonesia juga harus mengantisipasi perubahan global, seperti peluang kemungkinan munculnya perang dalam skala besar contohnya perang Rusia dengan Ukraina, “untuk itu perlu adanya perencanaan jangka panjang strategis yang diikuti oleh komitmen untuk melaksanakan proses pertahanan menuju tahun 2045 yang dimulai dari reformasi militer, moderenisasi pertahanan, investasi pertahanan, transformasi pertahanan dan TNI 2045 menjadi kekuatan militer Asia Timur.”

Wisuda virtual dilakukan kembali oleh Universitas Indonesia pada semester gasal tahun akademik 2020/2021, hari Jumat (25/02/) dan Sabtu (26/02) secara daring. Sebanyak 333 wisudawan/wisudawati FISIP UI, merupakan lulusan Program Sarjana, Magister dan Doktor. Mahasiswa cumlaude diraih oleh Trisha Dantiani, S.Sos dengan IPK 3.98, Anisa Nur Rohmah, M.Kesos dengan IPK 3.90 dan Dr. Muh. Ardilla Amry dengan IPK 3.88.

 

 

Magang Mandiri Untuk Mengeksplorasi Pengalaman dan Keterampilan Baru

Magang Mandiri Untuk Mengeksplorasi Pengalaman dan Keterampilan Baru

Mahasiswa magang mandiri Departemen Kriminologi FISIP UI, Ilham Dwi Hatmawan mendapatkan kesempatan untuk magang di tech company, Grab Indonesia. Ilham mencari kesempatan untuk dapat bekerja di tech company karena ia menyadari bahwa industri teknologi di dunia dan Indonesia sedang berkembang sangat pesat, sehingga keterampilan digital memegang peran penting dalam kesuksesan karir di masa depan.

“Pada saat yang bersamaan, keterampilan dan pengetahuan yang saya peroleh dari kampus belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk itu, saya berpikir bahwa dengan memiliki pengalaman bekerja dengan perusahaan teknologi berskala global, saya dapat mengisi skills gap sehingga memungkinkan saya untuk lebih standout di antara digital talents yang lain ketika nantinya saya lulus dari UI,” ujar Ilham.

Grab menjadi pilihan Ilham untuk mencari pengalaman kerja pertamanya di perusahaan teknologi, “karena setelah berkonsultasi dengan Pembimbing Akademik di Departemen Kriminologi dan career mentor, saya mendapati bahwa Grab memiliki manajemen perusahaan yang sangat baik. Selain itu, Grab sebagai global unicorn dengan reputasi yang tidak perlu diragukan lagi menarik perhatian saya untuk berkesempatan belajar dan bekerja bersama digital minds unggulan dari Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara.”

Selama magang, Ilham mempunyai beberapa tugas seperti, Grab Campus Apprenticeship Trainee melakukan pekerjaan yang berbeda berdasarkan divisi dimana ia ditempatkan, “saya ditugaskan di East Territory dengan working scope: Commercial, project operations, and strategy. Selain mengerjakan pekerjaan keseharian yang sudah direncanakan oleh Grab, saya juga dapat meminta untuk diekspos ke pekerjaan yang sesuai dengan aspirasi saya.”

“Sebagai contoh, saya juga dilibatkan dalam proyek yang berkaitan dengan risk management dimana pekerjaan tersebut sesuai dengan minat saya untuk mendalami pengetahuan dan keterampilan pada area business intelligence dan forensik kriminologi terapan yang sesuai dengan bidang studi saya,” jelas Ilham.

Selain itu, Ilham juga mengalami beberapa kesulitan yang dirasakan saat magang di Grab Indonesia. Pekerjaannya di Grab ada pada area special projects operation, risk management dan business strategy. Dari ketiganya Ilham merasa paling tidak familiar dengan business strategy atau strategi bisnis. Sebetulnya strategi bisnis menjadi satu kesatuan dari seluruh pekerjaan tim di Grab, karena perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi seluruh aktivitas bisnis perlu mempertimbangan pencapaian key performance indicators (KPI) divisi maupun perusahaan. Misalnya, ketika memikirkan mengenai inovasi, kita juga perlu mempertimbangkan bagaimana inovasi tersebut mendukung pencapaian keuntungan (profit) dan menekan risiko kerugian (loss)

“Namun, selama saya belajar di kampus saya belum pernah mempelajarinya secara khusus sehingga pada awalnya saya sangat asing dan tidak memahami dengan baik mengenai bagaimana relasi antara pekerjaan yang saya lakukan dengan dampak bisnis yang dihasilkan. Meskipun awalnya cukup kesulitan, saya memiliki Mentor dan Project Buddy yang memberikan bimbingan dengan sangat baik sehingga saya dapat beradaptasi dengan lebih cepat. Dengan keadaan yang demikian, tujuan saya untuk mengeksplorasi pengalaman dan keterampilan baru menjadi dapat terealisasi,” jelas Ilham. 

Ilham juga mempunyai masukan untuk program studi Departemen Kriminologi maupun FISIP UI, “sudah waktunya mendukung mahasiswa-mahasiswinya untuk mencari pengalaman kerja yang sesuai dengan aspirasi karir masing-masing. Meskipun terkadang tidak terlihat align dengan pengalaman pendidikan di dalam kampus, justru kesempatan untuk mengeksplorasi pengalaman di luar bidang menjadi kesempatan yang luar biasa untuk menerapkan pengalaman akademik yang diperoleh di kampus ke berbagai ruang-ruang pekerjaan yang beragam.”

Selain perusahaan tersebut, mahasiswa FISIP UI melaksanakan magang di berbagai instansi pemerintah atau perusahaan swasta:

  1. Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ)
  2. Harian Kompas
  3. Kementerian Sekertariat Negara Republik Indonesia
  4. Media AKUTAHU
  5. Akulaku Indonesia
  6. Apple Developer Academy @BINUS
  7. Indonesia Port Company Cabang Panjang
  8. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia
  9. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
  10. PLK UI
  11. PT Akulaku Silvrr Indonesia
  12. PT Berau Coal
  13. PT Permodalan Nasional Madani
  14. Pertamina Power Indonesia
  15. Usaha Saudara Mandiri
  16. Summarecon
  17. Yayasan Kampus Diakoneia Modern
  18. Adhi Karya (persero) Tbk.
  19. Akutahu Media Positif
  20. INALUM (persero)
  21. Sekretariat Jendral DPR RI
  22. SOS Children’s Village Indonesia
  23. The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH
  24. Tiket.com (PT. Global Tiket Network)
  25. Tokocrypto
  26. Wahana Artha Group
  27. Yayasan Pulih
Ibu Kota Negara Merupakan Gerakan Utama Dalam Menyelesaikan Permasalahan di Pulau Jawa

Ibu Kota Negara Merupakan Gerakan Utama Dalam Menyelesaikan Permasalahan di Pulau Jawa

Ada banyak tanda tanya dan pro-kontra di balik rencana pemindahan ibu kota yang disahkan melalui Rancangan Undang-Undang tentang Ibu Kota Negara pada Januari lalu. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2014-2015 dan Dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI, Andrinof Chaniago mengatakan, pemindahan IKN (Ibu Kota Negara) itu bukan karena satu atau dua alasan saja.

Dalam webinar Forum Diskusi Salemba 77-Menelaah Proses Perpindahan Ibu Kota Negara yang diselenggarakan oleh ILUNI UI pada Sabtu (19/02), Adrinof mengatakan, “ide dari pemindahan ibu kota ini ini didasarkan oleh serangkaian alasan-alasan. Jadi bukan satu atau dua, tapi belasan alasan yang harus dilihat sebagai satu paket terintegrasi.”

Dalam paparan Andrinof, terdapat enam frasa story yang mendasari pemindahan IKN itu, yaitu pertama, sejak tahun 2008 wacana pemindahan Ibu Kota muncul secara musiman setiap tahun (karena peristiwa banjir, arus mudik); Kedua, presiden SBY (2004-2014) beberapa kali melontarkan “Wacana Tiga Opsi Pindah Ibu Kota”; Ketiga, hingga Pemerintahan Presiden SBY berakhir tahun 2014 tidak ada kajian untuk merespons wacana yang sudah muncul berulang-ulang setiap tahun; Keempat, pada 9 Desember 2008 Tim Visi Indonesia 2033 melakukan Soft Launching dan melontarkan ide Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan berdasarkan kajian sangat awal; Kelima, pada tahun 2015, untuk merespon wacana yang muncul secara rutin, Kementerian PPN/Bappenas melakukan kajian untuk pembangunan kota-kota baru, termasuk untuk di Kalimantan di Kalimantan (dalam rangka mengantisipasi menguatnya kembali wacana pemindahan Ibu Kota); Keenam, tahun 2016, wacana Pemindahan Ibu Kota kembali menguat dan ditanggapi oleh Presiden Jokowi setelah Presiden Jokowi berkunjung ke Palangka Raya, dengan memerintahkan Bappenas melakukan kajian.

Andrinof juga menekankan, Jakarta dan sekitarnya masih menjadi magnet urbanisasi. Data kependudukan pergerakan urbanisasi menunjukkan angka pertumbuhan penduduk Jabodetabek mencapai 4,5 persen per tahun. Kenapa pertumbuhan penduduk Bodetabek 4,5 persen per tahun, karena magnetnya Jakarta. Kenapa pertumbuhan penduduk Jawa Tengah di bawah satu persen setiap tahun, karena angka pertumbuhan penduduknya dikurangi signifikan oleh mereka yang migrasi ke Jawa Barat, Bodetabek, dan Jakarta.

“Salah satu jawaban untuk membenahi Jakarta adalah kurangi bebannya. Maka Jakarta akan lebih mudah ditata jadi kota berkualitas. Jabodetabek lebih mudah ditata menjadi kawasan mega urban berkualitas dan pulau Jawa lebih mudah ditata kalau mengubah pola migrasi penduduk,” kata Andrinof.

Lebih lanjut, Andrinof menegaskan, rencana IKN merupakan gerakan utama dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di pulau Jawa. Lokasi IKN berada di tengah Indonesia dan di lahan tidak produktif yang sebagian besar sudah dikuasai negara. Hal ini menyebabkan perencanaan lebih mudah karena dibangun di lahan jarang penduduk.

“Efek pemerataan, keadilan dan fungsi untuk menarik kota-kota satelit dan rencana kawasan industri yang sudah lama tapi mandek, mungkin akan tumbuh,” jelas Andrinof.

Hal itu menurut Andrinof akan terjadi karena dengan pemindahan IKN tersebut, pembangunan tak lagi tertumpu pada Kota Jakarta. Dengan pembangunan yang merata itu, investor juga akan melirik daerah lain di luar Pulau Jawa.

“Mungkin akan tumbuh kawasan industri maritim, entah itu di Penajam Paser atau itu di Sangatta, kemudian kawasan di Kaltara dan sebagainya. Itu lebih berpeluang untuk hidup dibanding dengan periode ketika Jakarta jadi satu-satunya kota dominan yang menghalangi keinginan investor untuk masuk ke sana,” ujar Andrinof.

Andrinof menilai bahwa sentra industri di Kalimantan Timur sebetulnya sudah ada. Namun tak bisa berkembang karena pembangunan terlalu tersentralisasi di Pulau Jawa.

Harapan Dekan FISIP UI kepada Andi Widjajanto Gubernur Lemhannas

Harapan Dekan FISIP UI kepada Andi Widjajanto Gubernur Lemhannas

Andi Widjajanto, alumnus FISIP UI dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Pelantikan dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/2). Presiden Joko Widodo mengambil sumpah jabatan Andi Widjajanto di hadapan sejumlah pejabat negara.

Andi Widjajanto selama ini dikenal sebagai akademisi yang punya perhatian khusus soal militer dan hubungan internasional. Dia pernah mengajar sebagai dosen di Departemen Hubungan Internasional FISIP UI sebelum kemudian keluar dan memilih menjadi politisi. Andi adalah lulusan Prodi Sarjana Hubungan Internasional FISIP UI tahun 1996.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto memberikan pandangannya terhadap Andi, bahwa pengalaman belajar, mengajar dan melakukan penelitian akademik menjadikan Andi sebagai politisi yang berbeda. Analisis yang konseptual berdasarkan data yang mencukupi selalu menjadi batas pernyataan dan sikapnya. Hal ini terlihat terutama ketika Andi memberikan pernyataan terkait dengan isu pertahanan yang menjadi spesialisasinya.

Lebih lanjut Dekan FISIP UI  mengatakan, “lama menjadi bagian dari kampus UI, sebuah lembaga pendidikan tinggi terbaik di Indonesia, Andi tentu amat berpengalaman dengan kegiatan akademik. Oleh karena itu, dalam posisi sebagai Gubernur Lemhannas, saya amat berharap Andi memberikan warna baru dalam transformasi Lemhannas sebagai lembaga pencetak penyelenggara negara yang handal.”

“Lemhannas harus mampu membekali para siswanya yang merupakan calon pimpinan yang berasal dari dunia militer, polisi, birokrat, politisi dan unsur masyarakat lain dengan konsep, teori dan kecukupan data dalam bekerja sebagai penyelenggara negara. Para alumni diharapkan mampu mengambil keputusan secara rasional, dengan data yang cukup, analisis yang tepat, tapi tetap mempertahankan aspek humanisme dan nasionalisme,” ujar Prof. Semiarto.

Dalam wawancara dengan reporter Humas FISIP UI Andi Widjajanto menyampaikan bahwa “Di Lemhannas ada tiga fungsi, yang pertama adalah mencetak kepemimpinan nasional yang tentunya dibekali dengan landasan ideologi Pancasila yang kuat sehingga bisa memunculkan ketahanan ideologi yang tangguh di lembaga yang dipimpinnya; Kedua adalah kajian–kajian strategis yang disampaikan ke  Presiden tentang bagaimana bisa segera dilakukan kebijakan-kebijakan operasional sehingga kita memiliki ketahanan yang kuat untuk ideologi-ideologi yang ekstrem; Ketiga adalah di Lemhannas ada fungsi pemantapan nilai kebangsaan yang skala pendidikannya lebih besar itu berlangsung di daerah sampai ke tingkat desa dengan menggandeng aparat pemerintah daerah. Dalam memorandum serah terima jabatan tahun 2016-2022 itu sudah hampir 6000-an program-program pemantapan nilai untuk memperkuat ketahanan ideologi itu dilakukan oleh Lemhannas.”

Lebih lanjut Andi menjelaskan, “untuk penanganan Papua pada dasarnya sama pendidikan kepemimpinan di Lemhannas yang nantinya akan bersentuhan dengan calon-calon pejabat yang nanti akan berdinas di Papua baik dari TNI, Polri dan Pemerintah daerah. Diharapakan disana nantinya lebih mampu untuk merumuskan strategi-strategi yang lebih relevan untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di Papua.”

“Ada satu arahan Presiden yang harus segera dilakukan adalah transformasi dari Lemhannas sehingga akan lebih siap baik dari sisi metodologi kajian maupun dari sisi pedagogi pendidikan untuk mengadopsi perkembangan-perkembangan teknologi terkini sehingga tantangan geopolitik dan geostrategi baru termasuk perang siber dan perang hibrida bisa segera diantisipasi oleh Lemhannas itu salah satu tugas yang tadi diberikan oleh Presiden ke saya,” ujar Andi.

Reza Juniarshah: Inovasi Traveloka ditengah Era yang Tidak Pasti Saat ini

Reza Juniarshah: Inovasi Traveloka ditengah Era yang Tidak Pasti Saat ini

Berangkat dari keresahan akan pandemi dan berbagai kejadian yang terjadi belakangan ini, Pekan Komunikasi UI 2021 hadir dengan tema besar “Adaptation in the Uncertainty Era”.  Tema ini diangkat untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran mengenai cara beradaptasi di era pandemi yang membawa implikasi terhadap sendi-sendi kehidupan, melalui optimalisasi penggunaan teknologi di era hyper-connected society (keterhubungan antar masyarakat). 

Penggunaan teknologi ini diyakini dapat menjadi celah untuk tetap bertahan di era ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi dan menjawab kebutuhan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tahun ini, Pekan Komunikasi UI mengangkat tagline “See the Unseen” untuk mendorong semangat berpikir kreatif dan melihat peluang dalam pengoptimalan teknologi digital agar dapat beradaptasi di era pandemi.

Pada tahun 2021, Pekan Komunikasi UI di mulai dengan Opening Ceremony sekaligus seminar pada Senin (05/04) yang disiarkan langsung melalui Zoom dan streaming melalui detik.com, menghadirkan pembicara salah satunya, Reza Juniarshah sebagai Corporate Communication Director di Traveloka dan Alumni Ilmu Komunikasi FISIP UI.

Pada seminar pembukaan kagiatan Pekan Komunikasi UI ini, mengangkat judul Communication Strategy: Seize the Opportunity in the Uncertainty Era. Berbicara mengenai aspek komunikasi yang akan melihat bagaimana strategi komunikasi dapat merebut peluang di era ketidakpastian seperti saat pandemi ini.

Salah satu faktor penyebaran Covid-19 yaitu mobilitas dan traveling. Ketika itu terjadi yang sangat jelas terdampak adalah industri pariwisata. Selama pandemi terdapat perubahan pola kebutuhan dan perilaku masyarakat dalam menentukan aktivitas berwisata.

“Traveloka melakukan studi melibatkan beberapa ribu pengguna dan menghasilkan tiga kesimpulan yaitu penerapan protokol kesehatan yang terjaga, fleksibilitas pemesanan dan promosi harga yang selalu dicari customers. Dari hal tersebut lahirlah inovasi-inovasi baru Traveloka dan strategi untuk tetap bisa melayani para customers pada saat pandemi, seperti Clean Partners merupakan komitmen dari partners Traveloka untuk mematuhi protokol kesehatan, Order Now and Delivery untuk mengaja social distancing, serta Traveloka Live Stream untuk menawarkan program seru dan promosi dari aplikasi dan media sosial Traveloka,” jelas Reza Juniarshah.

Reza juga menjelaskan, “tim komunikasi di Traveloka berperan untuk membangun brand awarness perusahaan dan produk, memastikan pesan perusahaan konsisten dan sesuai dengan narasi perusahaan, manajemen isu dan krisis serta memastikan komunikasi dua arah antara manajemen perusahaan dan seluruh karyawan.”

Sebagai penutup, Reza membagi hal yang harus disiapkan untuk masuk ke dunia pekerjaan khususnya Traveloka kepada para mahasiswa yaitu mempersiapkan dan mengasah hard skill maupun soft skill, melakukan observasi terhadap situasi terkini untuk memahami perkembangan industri dan membangun koneksi untuk memperkaya sudut pandang dan membuka kesempatan kerja yang luas.