Select Page
Melawan “Keletihan Sosial” di Masa Pandemi

Melawan “Keletihan Sosial” di Masa Pandemi

📣[Melawan “Keletihan Sosial” di Masa Pandemi]📣

Setelah beberapa fase pembatasan sosial, terlihat indikasi dimana masyarakat menjadi semakin tidak peduli akan kondisi pandemi yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan kejenuhan, dan semakin mengabaikan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini disebut sebagai social fatigue (keletihan sosial) atau pandemic fatigue. Ini adalah kondisi dimana kondisi mental masyarakat sudah jauh menurun dalam usaha melawan pandemi. Kondisi ini adalah fenomena global yang terjadi di hampir semua belahan dunia. Contoh di Amerika Serikat, survey Gallup pada awal tahun 2021 menunjukkan semakin sedikit orang yang mewaspadai virus ini.

Keletihan sosial ini berbahaya karena masyarakat menjadi semakin skeptis terhadap kebijakan pemerintah, kurang responsif terhadap pesan yang disampaikan dalam kampanye publik, dan kurang peduli pada protokol kesehatan. Kasus kerumunan di tempat hiburan, acara sosial dan kegiatan politik adalah penanda yang jelas dari kondisi keletihan sosial ini. Alih-alih semakin waspada, masyarakat mulai menerima hidup dengan pandemi yang merupakan new normal namun dengan sikap dan perilaku yang tidak berbeda dengan sebelumnya, alias masih old normal”.

Pendekatan baru yang bersifat multidisiplin inilah yang  diperlukan untuk memecahkan masalah ini dengan hadirnya diskusi panel ini yang bertujuan mengupas solusi praktis untuk mendukung usaha mitigasi pandemi COVID-19 secara lebih efektif dengan melibatkan pakar dan praktisi di bidang Sosiologi, Kesehatan Masyarakat, Komunikasi dan Pemerintahan.

Para pembicara:

⚪ Baequni Boerman, SKM, MKes, Ph.D (Ketua Pengda IAKMI DKI Jakarta dan Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Terlibat dalam penyusunan Perang Akar Rumput COVID-19 (PARC-19);

⚪ Dr. phil. Idhamsyah Eka Putra
(Dosen Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia, yang juga sebagai Direktur Division for Applied Social Psychology Research (DASPR);

⚪ Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc (Guru Besar Sosiologi FISIP UI yang akan berbagi hasil riset tentang kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan di masa pandemi mewakili tim peneliti Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial Politik FISIP UI)

Moderator:
Imam B Prasodjo, MA, Ph.D.
(Dosen Departemen Sosiologi FISIP UI)

Acara akan diselenggarakan pada :
📅Kamis, 25  Februari 2021
⏰Pukul 09.00 – 12.00 WIB

Kegiatan ini merupakan  salah satu bagian dari Selo Soemardjan Memorial Discussion–Panel Session yang merupakan salah satu acara yang termasuk dalam rangkaian Dies Natalis FISIP UI ke–53.

Tautan registrasi👇
https://bit.ly/panelsessiondiesfisipui53

Live Youtube:
https://bit.ly/youtube-panelsessiondiesfisipui53

DiesNatalisFISIPUI53
TetapSemangat
TerusBerprestasi
DanBerkontribusi
Alumni FISIP UI Berbagi Cerita Pengalaman Studi di Luar Negeri Melalui ‘Inspiring Talk’

Alumni FISIP UI Berbagi Cerita Pengalaman Studi di Luar Negeri Melalui ‘Inspiring Talk’

Masih dalam rangka Dies Natalis FISIP UI ke-53. FISIP UI menyelenggarakan acara Inspiring Talk, ini adalah acara yang diselenggarakan sebagai ajang berbagi ilmu, wawasan dan pengalaman dari dosen muda FISIP UI yang merupakan peserta dan/atau lulusan program doktoral dari universitas ternama di luar negeri. Acara Inspiring Talk diselenggarakan pada Kamis (11/02). Acara ini bersifat semi formal dan ditujukan untuk alumni dan mahasiswa FISIP UI.

Dekan FISIP UI, Arie Setiabudi Soesilo memberikan sambutan “acara ini dibuat untuk memberi pengalaman bagi para lulusan baru yang berencana untuk melanjutkan studinya keluar negeri. Semoga apa yang disampaikan oleh para narasumber pada acara inspiring talk ini membantu memberikan pengalaman dan wawasannya”.

Acara Inspiring Talk dikemas dalam bentuk talkshow, yang dipandu oleh satu orang alumni yang menjadi master of ceremony (MC) sekaligus host acara, Muhammad Syaeful Mujab, S.I.P (alumni FISIP UI dan penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan RI). Narasumber terdiri dari empat orang yaitu, Dwi Ardhanariswari Sundrijo, Ph.D. (Dosen Departemen Hubungan Internasional, pengalaman studi di Inggris); Lucia Ratih Kusumadewi, S.Sos., DEA.,Ph.D (Dosen Departemen Sosiologi,  pengalaman studi di Belanda); Ni Luh Putu Maitra Agastya, MA (Dosen Departemen Kesejahteraan Sosial, pengalaman studi di Australia); Ikhsan Darmawan, M.Si (Dosen Departemen Ilmu Politik, pengalaman studi di Amerika Serikat).

“Ada perbandingan kuliah di luar negeri dengan kuliah di dalam negeri. Kalau di Amerika lebih ada semangat kompetisi. Fasilitas disini juga lebih mendukung seperti perpustakaannya tetapi pressure nya juga lebih tinggi karena saya mendapatkan beasiswa Doktoral yang mana dalam dua tahun pertama GPA saya tidak boleh dibawah 3.5 tapi menurut saya itu juga menjadi semangat. Intinya jangan takut untuk mencoba, walaupun sudah gagal berkali-kali dan hampir putus asa tetapi malah dari kegagalan itu biasanya muncul keberhasilan untuk kuliah di luar negeri” ujar Iksan.

“Untuk mencoba kuliah di luar negeri, jangan hanya memilih satu universitas kalau bisa pilih sebanyak-banyaknya karena makin banyak kesempatan jika di universitas lain gagal atau tidak diterima. Hikmah yang bisa diambil dari proses ini adalah penolakan itu bukan karena kita ga mampu, kadang kita ngerasa i’m not good enough. Jangan pernah menyerah karena prosesnya tidak pendek dan sebentar. Selain itu yang penting adalah jejaring dan berkenalan dengan orang lain karena bisa jadi kita mendapatkan beasiswa melalui kenalan kita tersebut maka perluas juga jejaring pertemanan” jelas Agast.

Lucia merasakan tantangan berkuliah di Prancis yaitu bahasa, ia harus les bahasa Prancis selama 6 bulan di Indonesia dan 6 bulan lagi di Prancis. Ia juga menegaskan ketika mendapatkan beasiswa kita harus melampirkan letter of accepted dari universitas yang dituju dan untuk mendapatkan letter of accepted itu, harus menulis motivation letter yang bagus dan menarik.

Saran di berikan oleh Riris untuk mahasiswa yang ingin menlanjutkan studinya di luar negeri, untuk mendaftar kuliah di luar negeri harus benar-benar tau kita ingin mendalami bidang apa jangan hanya ‘mau kuliah di luar negeri’ saja, kita harus tau nantinya kita mau jadi apa dengan begitu selama studi di luar negeri kita akan mencari peluang-peluang untuk bisa mengembangkan diri. Jadi Ketika pulang ke Indonesia tidak hanya bawa gelar tapi juga membawa pengalaman hidup dan membuka wawasan. Maka saya menyarankan ke mahasiswa yang meminta rekomendasi untuk berkuliah di luar negeri untuk kerja dulu setahun atau dua tahun untuk bisa melihat kondisi di lapangan agar bisa mengidentifikasi gap yang bisa di isi agar ketika pulang ke Indonesia tidak disorientasi. Hal ini akan berpengaruh pada saat menulis statement of interest untuk mendaftar beasiswa di universitas yang di tuju.

Ajang ini merupakan sarana untuk memberikan gambaran tentang peluang dan tantangan serta kisah suka duka mahasiswa dan alumni FISIP UI yang memiliki rencana meneruskan studi di luar negeri. Sesuai namanya, acara ini juga diharapkan memberikan inspirasi bagi perserta webinar untuk mengembangkan diri lebih lanjut setelah lulus dari FISIP UI.