Select Page

FISIP UI menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Antropologi dengan promovendus atas nama Rudolf Rahabeath. Disertasi ini berjudul, Kelenturan Relasi Dan Rasa Keterhubungan Dalam Ruang Pluralitas: Studi Antropologis Terhadap Etnis Bugis dan Etnis Ambon  di Maluku”. Sidang terbuka Promosi Doktor secara daring dilaksanakan pada Kamis (05/08). Rudolf berhasil dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Etnisitas dan relasi antar-etnis merupakan salah satu tema penting dalam studi antropologi. Hal ini berkaitan dengan pemahaman dan praktek budaya masyarakat yang berpotensi memperkuat kohesi dan solidaritas sosial namun pada sisi lain, rentan terjadi benturan bahkan konflik. Fenomena konflik antar etnis  ini dalam skala luas terjadi di berbagai wilayah di Indonesia bahkan di dunia.

Olehnya, studi tentang etnisitas dan relasi antar etnis tetap relevan dan penting dalam konteks perubahan kebudayaan dan masyarakat yang semakin kompleks. Sebagai contoh, konflik Ambon/Maluku 1999, selain dipicu faktor agama dan problem sosial ekonomi politik, maka faktor etnisitas turut berkontribusi dalam konflik tersebut.

Disertasi ini mengkaji interaksi dan relasi antara etnik Bugis dan etnis Ambon di Maluku. Kedua etnis ini memiliki streotipe dan tipikal yang khas. Etnis Bugis dikenal sebagai etnis perantau dan pengusaha, yang memiliki kemampuan adaptasi di wilayah-wilayah yang ditempati. Di sisi lain, etnis Bugis kerap diidentikan dengan “badik” yang dipersepsi oleh sebagian orang sebagai kecederungan menggunakan kekerasan dalam mengatasi masalah. Etnis Ambon dipersepsi (streotipe)  sebagai kelompok yang mudah terbawa amarah dan suka berkelahi. Stereotipe ini berpotensi menimbulkan ketegangan bahkan konflik.

Studi ini memandang etnisitas secara lebih kritis. Seperti disebutkan Yasmine Shahab, masalah diversitas etnis bukanlah cuma masalah dalam arti kuantitatif seperti masalah frekuensi dan distribusi kelompok-kelompok etnis, tetapi masalah diversitas etnis justru lebih merupakan masalah kualitatif seperti masalah batasan kelompok etnis, interpretasi etnis, fungsi etnis, manipulasi etnis, dinamika etnis, rekayasa etnis dan seterusnya.

Masalah etnisitas tidak dapat dipersepsi dan disikapi secara teknis instrumental semata, melainkan membutuhkan kajian yang mendalam dan komprehensif, serta pendekatan lintas ilmu. Salah satunya adalah kontribusi sejarah dalam studi antropologi.  Seperti disebutkan Rudyansjah, studi sejarah dapat memperkaya studi antropologi. Suatu penelitian historis akan memberikan kedalaman historis terhadap gejala yang ingin dipelajari.

“Hal ini tentu akan sulit apabila hanya mengandalkan penelitian lapangan. Dalam kesadaran itu dalam penulisan ini saya menggali sejarah masyarakat Bugis dan Ambon dalam lintasan sejarahnya. Pendekatan sejarah etnis Bugis saya gunakan dengan menggali kosmologis masyarakat seperti antara lain pada naskah La Galigo, budaya Sirri, Telu cappa (tiga ujung) dan sejarah migrasi (Passompe)” ujar Rudolf.

Penelitian ini bertujuan: (1) Memahami dan menjelaskan proses interaksi antar etnis yang ditelusuri melalui relasi antaretnis  dalam praktik-praktik ekonomi, perdagangan, keagamaan, pendidikan dan politik sebagaimana terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. (2) Menjelaskan peran para aktor dalam ruang (space) sosial yang berpotensi memperkuat atau melemahkan relasi antar etnis dalam  konteks masyarakat plural. (3) Menemukan  konsep teoretik terkait relasi etnis dalam masyarakat plural dan korelasi praktisnya dalam mewujudkan tatanan sosial yang adil dan berkeadaban.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian di atas  maka untuk memperoleh data dan informasi yang valid terkait subjek penelitian ini maka observasi partisipatif, wawancara mendalam serta life history digunakan sebagai metode pengumpulan data. Riset dilakukan di pulau Ambon ditambah penelitian singkat di Bone dan Makasar yang bertujuan mengkonfirmasi data-data dan temuan riset di Ambon. Adapun subjek penelitian mencakup aktor negara, tokoh adat dan agama, pelaku ekonomi, pendidik serta masyarakat awam. Selain itu, riset ini diperkaya pula dengan telaah pustaka, khususnya sumber-sumber sejarah dan historitas etnis Bugis dan Ambon.

Berdasarkan analisis terhadap data dan informasi yang ada, maka studi ini menemukan adanya diversitas kekayaan tiap-tiap etnis dalam interaksi dan relasinya pada ruang sosial. Etnis Bugis maupun masyarakat setempat (etnis Ambon) memiliki kemampuan artikulasi dan adaptasi serta strategi untuk menjadikan perjumpaan  itu saling menguntungkan, walau bukan berarti tanpa ketegangan dan konflik sama sekali.

Penelitian ini juga menemukan fenomena melemahnya pranata budaya lokal seperti Pela, peran negara yang ambigu serta kontribusi masyarakat sipil dalam transformasi sosial.  Pada tataran masyarakat bawah (grassroots) terdapat dinamika kreatif yang berperan mentransformasi relasi antar etnis sehingga turut memperkuat kohesi sosial dan rasa keterhubungan antar etnis. Selain itu, studi ini berkontribusi teoretik terhadap konsep kelenturan relasi antar etnis dan menguatnya rasa keterhubungan   di ruang pluralitas.

Kelenturan relasi berarti kemampuan dan kapabilitas untuk membangun relasi antar etnis. Bukan sikap kaku dan mekanistik. Kelenturan mengandung makna keterbukaan untuk menerima perbedaan dan mengakui kelebihan orang lain sambil terus menerus saling bekerjasama untuk kepentingan bersama. Kelenturan juga memberi akses untuk saling berinteraksi melalui  berbagai medium dan membangun solidaritas yang menumbuhkan rasa keterhubungan antar individu dan antar etnis. Dengan begitu berpotensi pula untuk memperkuat kohesi dan integrasi sosial.