Pilih Laman

Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) menggandeng Departemen Kesejahteraan Sosial FISIP UI adakan kampanye mengenai program pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) kepada mahasiswa. Pengenalan program ini dilakukan di Auditorium Gedung Komunikasi pada Rabu (13/12).

Pada sambutannya, Ketua Departemen Kesejahteran Sosial, Dr. Johanna Debora Imelda, M.A. berharap melalui program ini, mahasiswa sebegai generasi muda mau untuk mengenali, menjelajahi, dan mencintai Indonesia mulai dari daerah-daerah terpencil.

“Semoga melalui kampanye ini, makin banyak lagi generasi muda yang tertarik dan mau terlibat pada pemberdayaan komunitas adat terpencil di Indonesia,” kata Debora.

Pada pengenalan program pemberdayaan KAT ini hadir sebagai pembicara: Dr Harapan Lumbang Gaol, Direktur Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Kemensos RI, Prof. Bambang Shergi Laksmono, Ketua Pusat Studi Papua Center sekaligus Guru Besar Kesejahteraan Sosial FISIP UI, dan Asti Mochtar, Duta KAT 2015-2017.

Artikel Lainnya:  Kiprah Antropologi Indonesia Masa Kini: Semakin “Lenyap”, “Sekadar Bertahan”, ataukah “Menguat” dalam Ranah Publik?

Program ini berdasarkan data persebaran populasi KAT di Indonesia yang mencapai 231.268  kepala keluarga di tahun 2017. Dari seluruh populasi ini, terdapat 3.955 yang sedang diberdayakan dan 123.977 KK yang belum diberdayakan.

Berlandaskan UU RI No. 11 Tahun 2009 kemudian Kemensos berfokus untuk memberdayakan KAT dalam aspek keterpencilan yang menyebabkan terbatasnya aksesibilitas pelayanan sosial dasar. Pemberdayaan sendiri dilakukan dalam bentuk pelatihan, diskusi, bantaun aksesibilitas pelayanan sosial dasar seperti pendidikan, dll.

Terdapat tiga kategori KAT yang diberdayakan dalam program ini. Pertama komunitas sangat tertinggal yang sifatnya masih berkelana atau berpindah-pindah tempat untuk bertahan hidup. Pemberdayaan untuk kelompok ini akan dilakukan selama tiga tahun. Kategori kedua adalah komunitas yang tinggal sementara di suatu tempat dengan berladang atau bertahan hidup. Contohnya adalah Suku Anak Dalam di Jambi. Komunitas ini akan dibina selama dua tahun. Dan kategori terakhir adalah komunitas yang menetap. Mereka bertahan hidup dengan bertani atau berkebun. Pemberdayaannya dilakukan selama satu tahun.

Artikel Lainnya:  Seminar MDGs dan Pencapaian Indonesia

Sepanjang tahun 2017, lokasi pemberdayaan pada program ini telah tersebar di 22 provinsi, 61 kabupaten, 77 kecamatan, dan 83 desa.

Salah satu bentuk konkret yang berhubungan langsung dengan program pemberdayaan KAT Kemensos dilakukan sivitas akademika UI yang tergabung dalam Pusat Studi Papua Center adalah upaya pembentukan universitas negeri baru di Biak, Papua. Hal ini untuk mendekatkan pusat pendidikan dan kebudayaan sampai ke daerah-daerah terpencil di Papua, mengingat baru ada satu universitas negeri di sana yaitu Universitas Cendrawasih. Berbagai usaha terus dilakukan untuk mewujudkan hal ini salah satunya dengan audiensi di kantor presiden dan pendampingan dari dosen UI yang akan membantu membuat kurikulum di universitas baru tersebut. Sebelumnya, beberapa mahasiswa Uncen dibawa ke UI Depok untuk pertukaran pelajar.

Artikel Lainnya:  Menguatkan Peneliti, Pelaku, dan Praktisi Perlindungan Anak Indonesia