Select Page

Perubahan iklim akan menjadi pemicu krisis sosial ekologis yang luas dan intens di seantero bumi. Persoalan menjadi semakin kompleks karena krisis sosial ekologis yang timbul tidak tersebar merata. Negara-negara miskin lebih rentan terhadap risiko perubahan iklim dibanding negara-negara maju. Golongan berpenghasilan rendah atau miskin lebih rentan terhadap perubahan iklim dibanding yang berpenghasilan menengah atau kaya. Demikian pula kaum perempuan dan anak-anak, terutama rumah tangga miskin di pedesaan, mereka tergolong paling rentan terhadap perubahan iklim.

Pandemi Coronavirus-19 (COVID-19) yang terjadi di hampir seluruh dunia termasuk Indonesia, telah membawa banyak dampak buruk pada berbagai aspek kehidupan termasuk krisis pangan. Risiko kelangkaan pangan mengemuka sebagai efek disraptif dari pandemi COVID-19 dan menyebabkan bencana kelaparan di berbagai tempat di penjuru dunia. Risiko krisis pangan yang terjadi di Indonesia juga sempat disampaikan oleh Presiden Joko Widodo.

Beberapa permasalahan ketahanan pangan di Indonesia yang harus segera dicarikan solusi antara lain (1) Umur rata-rata petani semakin tua, maka diperlukan upaya untuk menjadikan pertanian sebagai sumber matapencaharian yang atraktif bagi kaum muda. Untuk itu perlu diketengahkan berbagai inovasi dalam teknik bertani yang lebih dekat dengan alam pikiran dan gaya hidup kaum muda, (2) Rantai pasok (supply chain), membangun rantai pasok yang ringkas dan efisien sehingga memperbaiki struktur harga dan pasokan bahan makanan maka diperlukan penumbuhan komitmen untuk memprioritaskan pemanfaatan bahan pangan lokal (lokavor) dan (3) Waste, produksi pertanian perlu menganut teknik produksi nir­limbah (zero waste) dengan pendekatan ekonomi sirkuler. Kondisi tersebut merupakan peringatan agar segera dilakukan langkah-langkah konkret dalam rangka menguatkan daya dukung lingkungan dalam aspek pangan.

Ketahanan pangan bisa tercapai jika bersinergi dan beriringan dengan ketahanan iklim. Dalam era new normal ini seluruh dunia perlu untuk mendahulukan program ketahanan pangan, energi, dan air sebaga kebutuhan dasar manusia. Berdasarkan uraian di atas, maka diskusi Pojok Iklim bermaksud membahas potensi pengembangan pangan sebagai penjamin kehidupan di tengah pandemi COVID-19 dan kaitannya dengan lingkungan dan ketahanan iklim sebagai penjamin keberlanjutan pembangunan.

  • Pengantar:
    Dr. Ir. Agus Justianto, M.Sc – Kepala Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian LHK
  • Narasumber:
    Ketahanan Pangan di Pemukiman
    Ir. Bambang Irianto – Inisiator Kampung Glintung Go Green (3G)
  • Pertanian Adaptif Perubahan Iklim
    Prof. Dr. Yunita Triwardani Winarto – Guru Besar Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia
  • COVID-19 dan Perubahan Iklim
    dr. Jossep F. William – Relawan Medis Satgas Penanganan COVID-19, Tenaga Ahli Menteri LHK
  • Food Systems for a Sustainable, Healthy and Just Society: Regenerative Agriculture in Indonesia and Beyond
    Prof. Thomas Reuter – Asia Institute, University of Melbourne, Australia
  • Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim
    Dr. Ir. Ai Dariah – Peneliti Utama Badan Penelitian Tanah Kementerian Pertanian
  • Moderator:
    Dr. Soeryo Adiwibowo – Penasihat Senior Menteri LHK

Materi Paparan Prof. Dr. Yunita T. Winarto dapat diunduh dalam tautan: