Isu warisan kolonial di kota-kota Jawa terus menjadi perdebatan penting dalam kajian postkolonial sekaligus praktik revitalisasi ruang kota. Di satu sisi, bangunan dan situs peninggalan kolonial merupakan bagian dari sejarah serta identitas kota. Namun di sisi lain, muncul diskursus mengenai dekolonisasi ruang publik dan bagaimana warisan tersebut seharusnya diposisikan dalam konteks Indonesia kontemporer.

Menjawab kompleksitas tersebut, Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) menjalin kerja sama akademik dengan University of Passau, Jerman melalui kegiatan joint excursion yang berlangsung pada Selasa hingga Kamis (3–5 Februari). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran kolaboratif yang menggabungkan diskusi akademik, pertukaran perspektif lintas negara, serta kerja lapangan berbasis mini project di kawasan Depok Lama.

Ketua Departemen Antropologi, Imam Ardhianto, dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari kedua universitas untuk mengeksplorasi dinamika revitalisasi serta perdebatan dekolonisasi warisan kolonial melalui pendekatan etnografis dan metode visual.

Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta, seraya ia berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman baru yang berharga serta pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa.

Program ini bertujuan untuk mempelajari sejarah colonial heritage di Depok sekaligus mendorong pembelajaran kolaboratif lintas budaya antara mahasiswa. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri dari 6–8 orang, dengan komposisi lima mahasiswa dari Passau dan dua hingga tiga mahasiswa dari UI.

Setiap kelompok ditugaskan untuk memilih serta mengeksplorasi situs tertentu di kawasan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) dan sekitarnya, antara lain Monumen Cornelis Chastelein, Gereja Immanuel, Dopamine Cafe, Kantor YLCC, serta Gedung Pertemuan Eben Haezer.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa melakukan dokumentasi sekaligus analisis terhadap perjalanan historis masing-masing situs, mulai dari periode kolonial Belanda hingga kondisi kontemporer saat ini.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa mengidentifikasi jejak warisan kolonial yang masih bertahan maupun yang telah mengalami perubahan, sekaligus menganalisis kondisi terkini dalam konteks revitalisasi, pelestarian, atau bahkan pemudaran warisan postkolonial.

Sebagai keluaran dari kegiatan joint excursion, setiap kelompok menghasilkan mini project dalam berbagai bentuk kreatif, seperti photo story, infografik, video pendek, maupun medium visual lainnya yang menggabungkan dokumentasi lapangan dengan analisis kritis.

Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman akademik mahasiswa, tetapi juga membuka ruang dialog lintas budaya dalam melihat ulang warisan kolonial di Indonesia secara lebih reflektif dan kontekstual.