Select Page

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi dengan promovenda atas nama Melati Mediana Tobing. Melati menyampaikan penelitian disertasi dengan judul, “Kontradiksi Proksemik pada Masyarakat Kolektivistik Kampung Kota (Tinjauan Komunikasi Antarbudaya terhadap Perubahan Konteks Ruang di Rumah Susun oleh Warga Relokasi Bantaran Ciliwung Kampung Pulo)”. Promotor Melati adalah Prof. Dr. Ilya Revianti S. Sunarwinadi, M. Si. dengan Kopromotor Endah Triastuti, M.Si., PhD. Melati menjalani sidang terbuka secara daring pada Rabu (04/08), dan berhasil dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Penguji dalam sidang ini adalah Prof. Dr. Alois Agus Nugroho, Ph.D.; Dr. Widjajanti Santoso, M. Litt.; Prof. Zulhasril Nasir, Ph.D.; Prof. Dr. Billy K. Sarwono, M.A.; Dr. Hendriyani; dan Inaya Rakhmani, M.A., Ph.D. Sidang diketuai oleh Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc.

Disertasi Melati adalah penelitian komunikasi antarbudaya khususnya tentang proksemik atau jarak komunikasi pada warga relokasi Kampung Pulo di rumah susun sewa Jatinegara Barat. Konflik komunikasi antarbudaya yang dialami warga relokasi bantaran Ciliwung tersebut karena konteks ruang hunian yang berubah, yaitu dari hunian horisontal yang organik dan terbuka menjadi hunian vertikal yang terstruktur dan tertutup. Kemudian melakukan analisa komunikasi antarbudaya melalui pendekatan teori proksemik. Teori ini pernah populer di Amerika Utara (1960-1980) saat mengkaji persepsi jarak komunikasi pada para diplomat Amerika Serikat, yang rupanya masih relevan dalam mengkaji persepsi ruang masyarakat kampung kota di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui wawancara kepada empat keluarga sebagai narasumber dengan menggunakan delapan dimensi proksemik, yaitu: postural-sex identifiers (identifikasi postur berdasarkan jenis kelamin), sociofugal-sociapetal axis (sumbu sosiofugal-sosiopetal), kinesthetic factors (faktor kinestetik), touching (sentuhan), retinal combinations (kombinasi tatapan mata), thermal code (kode panas suhu tubuh), oldfaction code (kode penciuman), dan voice loudness scale (skala kerasnya suara).

Penelitian ini mengidentifikasi adanya satu dimensi lain yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan rumah susun, yaitu dimensi iklim (climate). Konsep rumah susun adalah teknologi yang mengadopsi budaya individualistik yang umumnya mengalami 4 musim, sehingga menjadi kontradiktif dengan hunian masyarakat kolektivistik di belahan selatan dunia yang mengalami 2 musim. Hunian pada masyarakat kolektivistik cenderung terbuka, di mana komunikasi terjadi pada ruang-ruang informal tak terstruktur dengan konsep form follow function. Interaksi antarwarga kolektivistik yang guyub berlangsung secara dinamis dan tidak mengenal batasan gender maupun usia. Mereka terbiasa berkumpul di ruang-ruang terbuka yang dialiri hembusan angin sejuk kali Ciliwung, sehingga dapat dipahami perbedaan kenyamanan mereka saat harus tinggal pada hunian vertikal yang tertutup rapat.

Dalam penelitian ini merekomendasikan analisa proksemik pada level mikro di empat ruang rumah susun sebagai dasar perencanaan hunian vertikal bagi masyarakat kolektivistik, yaitu: (a) ruang antarkamar, (b) ruang antarunit, (c) ruang antarlantai, dan (d) ruang antarbangunan. Analisa empat ruang dengan menggunakan sembilan dimensi proksemik dapat membantu perencana lingkungan dalam membuat hunian yang lebih nyaman bagi warga kota yang tidak memiliki akses dalam memperoleh pendidikan dan penghasilan yang tinggi. Mereka yang mengadu nasibnya pada usaha kaki lima atau tenaga kasar, yang ikut membantu jalannya roda perekonomian kota sejak era kemerdekaan Indonesia.

Program revitalisasi utilitas kota Jakarta maupun kota-kota lainnya yang berdampak pada relokasi hunian masyarakat yang mengutamakan tinggal bersama kelompoknya ini, kiranya perlu mempertimbangkan proses adaptasi warga secara kolektif. Karenanya, penelitian ini melihat ada 5 (lima) tahapan pembentukan kesadaran kolektif saat orang kolektivistik bantaran kali direlokasi ke hunian vertikal, yaitu: (a) Collective Powerless stage (tahap ketidakberdayaan kelompok), (b) Individual Adaptation stage (tahap adaptasi individu), (c) Individual Internalization stage (tahap internalisasi individu), (d) Collective Internalization stage (tahap internalisasi kolektif), (e) Collective Awareness stage (tahap kesadaran kolektif).. Kelima tahap ini lebih efektif bila dilakukan melalui proses dialog secara langsung antara warga relokasi sebagai calon penghuni dengan pihak perencana kota, dengan peranan pihak ketiga hanya sebagai mediator. Upaya menemukan konsep ruang untuk memfasilitasi interaksi warga kolektifistik kampung kota tersebut menjadi data utama perencanaan pemukiman dan perkotaan, yang dapat disebut dengan analisa dampak sosial budaya.