Select Page

Novia Nurul Badi’ah mejadi doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial dengan judul disertasi “Kontribusi Kapital Manusia, Kapital Spiritual dan Kapital Sosial Pada Pengurangan Risiko Bencana Tsunami Di Sumberjaya, Pandeglang, Banten” pada hari Senin (9/1) di Auditorium Juwono Sudarsono.

Sidang terbuka promosi doktor Novia di ketuai oleh Prof. Dr. Ibnu Hamad, M. Si, Dr. Ety Rahayu, M.Si. selaku promotor dan Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes., Ph.D. selaku kopromotor, serta para dewan penguji Prof. Dr. Robert Markus Zaka Lawang, Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS, Dr. Marlina Adisty, M.Sis, Johanna Debora Imelda, M.A, Ph.D, dan Dr. Triyanti Anugrahini, M.Si.

Studi ini bertujuan menganalisis kontribusi kapital manusia, spiritual, dan sosial pada pengurangan risiko bencana tsunami Sumberjaya, Pandeglang, Banten 2018 pada tiga fase yaitu fase respons menghadapi bencana, fase recovery, dan fase mitigasi bencana. Tsunami vulkanik Gunung Anak Krakatau yang datang begitu cepat tapa didahului tanda alam dan tanpa adanya peringatan dini, membuat banyak korban jiwa hilang dan tewas.

Dalam ilmu kesejahteraan sosial, tidak adanya peringatan dini menjadi masalah dikarenakan warga tidak mendapatkan informasi awal, yang ini merupakan bagian dari perlindungan negara. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam secara hybrid, studi dokumentasi, dan observasi online. Kebaruan penelitian ini salah satunya adalah metode pengumpulan data secara hybrid (offline dan online). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Nvivo 12.

Pada fase recovery hail menunjukkan kapital manusia sebagai pengurai masalah mental pasca tsunami, memberikan penguatan visi; dan kapital manusia memberikan kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi dengan suasana baru; kapital sosial memunculkan aksi kolektif warga berdasarkan bonding yang kuat dari perasaan kolektif.

Sementara pada fase mitigasi menunjukkan kapital sosial dengan adanya lingking mendukung jaminan keselamatan; kapital manusia mendukung mitigasi nonstruktural dan dapat memproduksi keuntungan; serta kapital spiritual yang melahirkan inovasi baru dalam pendidikan mitigasi bencana didasarkan pada homogenitas warga.

Pengurangan risiko bencana dengan kontribusi kapital manusia, kapital spiritual, dan kapital sosial pada studi ini menunjukkan bahwa interaksi yang terjadi pada fase respons berada pada ranah mikro-messo, fase recovery berada pada ranah messo-makro, dan fase mitigasi bencana berada pada ranah makro. Hal ini berimplikasi pada upaya intervensi yang dilakukan oleh social worker, lembaga terkait, maupun pemerintah dalam mewujudkan pengurangan risiko bencana untuk mencapai kondisi security. Hasil penelitian mendukung dan memperkaya konsep dan tori yang telah digunakan, selain itu juga mengusulkan penambahan strategi dalam praktik pembangunan sosial untuk mencapai kesejahteraan sosial yaitu dengan menambahkan strategi kapital spiritual.

Secara makro kesimpulan penelitian ini adalah bahwa dari kapital tersebut memiliki kontribusi spesifik pada fase manajemen bencana. Kapital tersebut memiliki fungsi konvertability terhadap kapital lainnya. Satu kesatuan memiliki khas dalam mendukung upacaya pengurangan risiko bencana tsunami dangan karakteristik lokalnya yang kuat. Dari semua kapital yang muncul pada tiap fase dengan berbagai upaya untuk manajemen bencana untuk pengurangan risiko bencana serta interaksi yang muncul baik yang menguatkan bonding, bridging, dan linking dapat diupayakan menju pada kondisi yang aman.

Hasil studi menunjukkan pada fase respons, kapital manusia menjadi penentu dalam memutuskan saat merespons tsunami; kapital sosial mendukung jaminan keamanan; dan kapital spiritual mendukung kapital manusia dalam upaya penyelamatan diri.

Peneliti merekomendasikan, dalam mitigasi bencana, pemerintah daerah perlu menganggarkan untuk pengadaan Pusat Informasi Desa (PID), yang terdiri dari untuk akses informasi secara real time terkait informasi kebencanaan di balai desanya, misalnya menyediakan layar informasi digital yang menampilkan informasi realtime dari BMKG maupun lembaga terkait lain terkait informasi kebencanaan, yang jika terdapat peringatan dini dapat langsung terhubung dengan sirine. Program ini dapat difasilitasi oleh Kementerian Desa.