
Korea–Indonesia Youth Collaboration 2026 mempertemukan generasi muda Indonesia dan Republik Korea dalam rangkaian kegiatan akademik, budaya, dan kolaboratif yang berlangsung pada 17–20 Agustus 2026 di Jakarta.
Program yang diselenggarakan Korea–Indonesia Connection (KIC) FISIP Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Chung Mong-Koo (CMK) School of ASEAN Studies (CSAS) ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman lintas budaya sekaligus mengeksplorasi peluang kerja sama di masa depan.
Program ini melibatkan 20 mahasiswa FISIP UI, 20 mahasiswa angkatan ke-4 CMK School of ASEAN Studies, serta 13 perwakilan ASEAN Youth Organization (AYO) Indonesia Chapter. Para peserta mengikuti kegiatan berbasis tim, diskusi, pertukaran budaya, hingga persiapan Model Korea–ASEAN Summit.
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari misi CSAS dalam membentuk generasi pemimpin dan analis ASEAN masa depan yang berkontribusi memperkuat hubungan Republik Korea dan ASEAN. Didirikan pada 2023 dan didukung Hyundai Motor Chung Mong-Koo Foundation, CSAS memberikan pembekalan akademik mengenai ASEAN kepada mahasiswa Korea Selatan, sekaligus membuka kesempatan penelitian kolaboratif dan pembelajaran berbasis lapangan di Asia Tenggara.


Rangkaian kegiatan dimulai pada 17 Agustus melalui keterlibatan peserta dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia bersama masyarakat Rusunawa KS Tubun. Kegiatan ini melanjutkan kerja sama KIC FISIP UI dengan masyarakat setempat melalui proyek Global Partnership in Advancing Sustainable Cities: Collaborative Study on Waste Management in Vertical Housing at Rusunawa KS Tubun.
Pada 19 Agustus, peserta mengikuti lokakarya pra-negosiasi di Menara Syariah, PIK 2, sebagai persiapan Korea–ASEAN Summit. Melalui pemaparan materi dan diskusi kelompok, peserta menyempurnakan posisi delegasi serta strategi negosiasi yang telah dipersiapkan secara daring.
Puncak kegiatan berlangsung pada 20 Agustus di Sekretariat ASEAN, Jakarta, melalui Model Korea–ASEAN Summit Town Hall Meeting. Simulasi pertemuan tingkat tinggi ini dirancang menghasilkan Joint Declaration on ASEAN–Korea Youth Empowerment.
Kegiatan diawali sambutan Duta Besar Republik Korea untuk ASEAN dan Sekretaris Jenderal ASEAN Foundation, kemudian dilanjutkan keynote address oleh Sekretaris Jenderal ASEAN atau pejabat senior Sekretariat ASEAN. Diskusi terbagi dalam dua sesi Town Hall, yakni antara negara-negara ASEAN Daratan dan Republik Korea, serta negara-negara ASEAN Maritim dan Republik Korea. Rangkaian ditutup dengan pengesahan Joint Declaration on ASEAN–Korea Youth Empowerment dan networking.
Minju Kim, mahasiswa CMK School of ASEAN Studies dari Yonsei University, menilai program ini membuka ruang bagi pemuda Korea dan ASEAN untuk terhubung sekaligus memahami tantangan bersama, seperti hambatan visa, diskriminasi, dan kesalahpahaman lintas budaya. Pengalaman dalam Model ASEAN-ROK Summit juga memperkuat kemampuan kolaborasinya serta mendorong komitmen untuk kembali berkontribusi di ASEAN melalui studi dan kerja sama di masa depan.
Sementara itu, Ailsa Laras, mahasiswa FISIP UI sekaligus Ketua Joint Declaration Group, menyampaikan bahwa pengalaman menyatukan berbagai posisi delegasi menjadi pernyataan bersama memberikan pembelajaran mengenai proses membangun konsensus dalam praktik.
“Program ini memberikan kesempatan yang sangat berarti untuk melakukan pertukaran lintas budaya bersama rekan-rekan dari Indonesia dan Korea Selatan. Sebagai Ketua Joint Declaration Group, menyaksikan para delegasi mengubah berbagai posisi individu menjadi satu pernyataan bersama melalui berbagai perbedaan pendapat mengajarkan saya banyak hal tentang bagaimana konsensus dicapai dalam praktik,” ujar Ailsa.
Program ini juga memberikan pengalaman langsung mengenai diplomasi regional dan organisasi internasional melalui kolaborasi dengan Misi Republik Korea untuk ASEAN, ASEAN Foundation, dan Sekretariat ASEAN.
Program Director KIC FISIP UI, Getar Hati, Ph.D., mengatakan Korea–Indonesia Youth Collaboration 2026 tidak sekadar menjadi ruang interaksi, tetapi juga ruang belajar dan dialog untuk membangun kepercayaan melalui pengalaman kolaboratif.
“Harapannya jejaring yang terbangun dalam kegiatan ini akan menjadi pondasi terbentuknya generasi pemimpin dan agen pembangunan ASEAN–Korea di masa depan,” ujar Getar.
Melalui perpaduan kolaborasi akademik, pertukaran budaya, diskusi kebijakan, dan keterlibatan dengan institusi ASEAN, program ini diharapkan memperkuat jejaring generasi penerus ASEAN dan Republik Korea serta mendorong kontribusi nyata pemuda dalam isu pendidikan, keberlanjutan, bisnis, dan kerja sama kawasan.


