Select Page

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan Kuliah Kebangsaan dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni. Kuliah Kebangsaan seri perdana kali ini mengambil judul “Nasionalisme, Ketahanan Nasional dan Pancasila: Relevansi dan Tantangan Indonesia Kontemporer” dengan narasumber Andi Widjajanto (Gubernur LEMHANNAS) dan dipandu moderator Dr. Sri Budi Eko Wardani (Dosen dan Sekretaris Program Studi Pascasarjana Departemen Ilmu Politik FISIP UI) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI dan secara daring (02/06).

Dalam sambutan pembukaannya, Dekan FISIP UI Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, mengatakan bahwa Kuliah Kebangsaan yang akan diselenggarakan secara berkelanjutan pada peringatan hari besar nasional lainnya ini, diyakini dapat meningkatkan semangat kebangsaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Mengambil momentum hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni, Universitas Indonesia menempatkan diri sebagai salah satu institusi pendidikan yang secara khusus ingin mengkaji bagaimana aktualisasi Pancasila di kehidupan kontemporer,” ujar Prof. Dr. Semiarto dalam sambutannya. Beliau juga mengungkapkan bahwa pemahaman yang kokoh akan Pancasila sebagai ideologi nasional adalah kunci bagi ketahanan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan yang hadir dari dalam maupun luar negeri. Pada dasarnya, “Pancasila adalah konsesus nasional yang sudah menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Di masa kini, melihat Pancasila sebagai refleksi dari apa yang dilakukan kita hari ini, mengantar teman beribadah walaupun berbeda keyakinan, praktis semua yang dilakukan itu adalah cerminan dari Pancasila.”

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, yang hadir mewakili Rektor UI, mengatakan bahwa Universitas Indonesia memiliki tugas untuk selalu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kampus.

Dalam paparannya, Gubernur Lemhannas menyebutkan bahwa salah satu elemen penting dalam upaya merawat nasionalisme Indonesia adalah ikhtiar untuk terus menghidupkan ideologi yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa sebagai pemersatu, yaitu Pancasila. “Pentingnya penguatan ideologi Pancasila adalah untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan kontemporer bagi Indonesia di era Geopolitik generasi kelima. Penguatan nilai-nilai Pancasila akan mengkonsolidasikan sistem politik Indonesia,” tutur Andi Widjajanto, tokoh yang juga dikenal sebagai ahli pertahanan ini. Andi juga memaparkan berbagai potensi kerawanan dan ancaman yang dihadapi oleh Indonesia di era kontemporer, yang ditandai dengan apa yang disebutnya sebagai “konflik konektivitas.”

Dalam konteks konflik ini, Indonesia menghadapi berbagai kerawanan dan ancaman dari dalam maupun luar negeri, mulai dari konflik Zona Abu-Abu (Gray Zone), instabilitas domestik yang dipicu oleh separatisme, konflik horizontal maupun vertikal, serta KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), ancaman siber, ancaman kerawanan lingkungan, ancaman kesehatan lingkungan, ancaman terhadap keamanan manusia, hingga tarikan berbagai ideologi global. Untuk menghadapi ini semua, penguatan pemahaman dan praktik nilai-nilai Pancasila menjadi kunci yang penting. Untuk menangkal kerawanan nasional dari segi pengelola krisis diperlukan tata kelola manajemen resiko, manajemen krisis, pemulihan cepat yang keberlanjutan. “Dari segi institusi, diperlukan regulasi, operasional, alokasi sumber daya dan adopsi teknologi” ujar Andi.

Lanjutnya, “Pancasila adalah ideologi yang mengakomodasi berbagai nilai yang ada di kehidupan manusia. Pancasila mengandung mulai dari nilai demokrasi, keagamaan, kebudayaan, keadilan, kedaulatan, sampai dengan solidaritas”. Dalam kancah pertarungan ideologi politik global (baik dalam kuadran neoliberalisme, konservatisme, sosialisme, dan liberalisme, maupun dalam kuadran liberalism, kosmopolitanisme, komunitarianisme, dan statisme) – Pancasila berada di titik tengah kedua kuadran tersebut, yang meletakkan Indonesia di tengah pusaran tarik-menarik semua ideologi tersebut. Ini bisa berarti Pancasila berada di tengah ancaman ideologi-ideologi besar, atau di sisi lain ia menjadi titik keseimbangan bangsa Indonesia di tengah kontestasi ideologi global.

Menutup paparannya, Andi menyampaikan bahwa akan ada mata pelajaran baru Pendidikan Pancasila untuk semua tingkat Pendidikan, mulai dari Pendidikan dasar hingga universitas yang akan ditetapkan sebagai bagian dari kurikulum yang akan diberlakukan segera oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam penyampaian kesimpulannya, Dr. Sri Budi Eko Wardani selaku moderator, menegaskan kembali bahwa Pancasila adalah rumah kita, Pancasila sebagai ideologi terbukti dapat mengatasi semua masalah, walaupun hal ini terjadi hanya pada tataran knowledge, dan belum terefleksi pada tataran relasi sosial personal.

Melalui rangkaian Kuliah Kebangsaan FISIP UI, diharapkan para mahasiswa UI akan mendapatkan gambaran mengenai berbagai tantangan kontemporer yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia; mendiskusikan relevansi ideologi bagi upaya membangun ketahanan nasional; serta membangun pemahaman yang lebih kokoh mengenai Pancasila sebagai ideologi bangsa.