Hubungan antara Indonesia dan Jepang yang telah berkembang menjadi kemitraan strategis komprehensif kembali menjadi sorotan dalam Kuliah Duta Besar Studi Jepang XIV/2026 bertajuk “Kemitraan Jepang–Indonesia” pada Senin (27/4) di Auditorium Center for Japanese Studies.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center for Japanese Studies Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Kuliah yang merupakan bagian dari rangkaian Ambassadorial Lecture sejak 2012 ini menghadirkan Myochin Mitsuru (Chargé d’Affaires ad interim of Japan to the Republic of Indonesia) sebagai pembicara utama, dengan moderator Asra Virgianita, Ph.D (Dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI).

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan hubungan bilateral kedua negara, termasuk perspektif diplomasi, kerja sama, dan peluang kolaborasi ke depan.

Dalam pemaparannya, Myochin Mitsuru menyoroti tiga isu utama terkait posisi Jepang dalam dinamika global dan regional. Pertama, ia menegaskan bahwa kemitraan Jepang–Indonesia tetap memiliki nilai strategis dan tidak kehilangan keistimewaannya. Meskipun muncul aktor-aktor baru di kawasan, Jepang dinilai tetap menjadi mitra penting dalam bidang investasi, transfer teknologi, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, hubungan kedua negara kini telah bertransformasi menjadi kemitraan yang lebih setara dan kolaboratif.

Kedua, terkait dinamika hubungan Jepang–Tiongkok, Myochin menyampaikan bahwa meskipun terdapat unsur kompetisi, hal tersebut tidak secara langsung melemahkan stabilitas kawasan. Jepang, lanjutnya, tetap berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas melalui pendekatan kerja sama regional, khususnya dengan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, serta mendorong tatanan internasional berbasis aturan.

Ketiga, Myochin menegaskan bahwa Jepang masih memiliki relevansi global yang kuat. Jepang terus berperan aktif dalam berbagai isu global seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, keamanan maritim, dan inovasi teknologi, serta konsisten dalam mempromosikan nilai-nilai demokrasi dan kerja sama internasional.

Secara keseluruhan, Myochin menggambarkan Jepang sebagai aktor global yang adaptif dalam menghadapi perubahan dinamika internasional. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara Jepang dan Indonesia dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.

Kuliah umum ini berlangsung secara interaktif, dengan partisipasi aktif mahasiswa dalam sesi tanya jawab. Diskusi tersebut menjadi ruang dialog yang memperkaya perspektif akademik sekaligus memperkuat jejaring antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi dalam kajian hubungan internasional dan studi Jepang.