Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar kuliah umum internasional bertajuk “Social and Community Development Ideas: Addressing Extreme Poverty in Indonesia” pada Senin (22/6). Kegiatan ini menghadirkan Profesor Manohar Pawar dari Charles Sturt University, Australia, yang juga pernah menjabat sebagai Presiden International Council of Social Development.Ketua Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Dr. Sari Viciawati Machdum, dalam sambutannya menegaskan bahwa kemiskinan merupakan realitas yang dialami oleh jutaan individu dan keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar maupun mengembangkan potensi mereka.
Ia menilai bahwa pengentasan kemiskinan membutuhkan pendekatan yang berpusat pada manusia melalui pemberdayaan masyarakat, partisipasi aktif warga, serta inovasi sosial yang berkelanjutan. Menurutnya, kelompok rentan tidak boleh diposisikan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai aktor utama dalam proses perubahan sosial.

Sementara itu, Dekan FISIP UI, Prof. Evi Fitriani, menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam mencari solusi terhadap berbagai tantangan sosial global, termasuk kemiskinan. Ia menekankan bahwa inovasi sosial yang lahir dari lingkungan akademik harus mampu menjangkau masyarakat dan menghasilkan dampak nyata.
“Negara yang kuat adalah negara yang memiliki sumber daya manusia berkualitas. Kualitas tersebut dibangun melalui pendidikan dan pengembangan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Pawar menekankan bahwa kemiskinan tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan angka dan statistik. Menurutnya, kemiskinan merupakan persoalan manusia yang bersifat multidimensional sehingga membutuhkan pendekatan pembangunan sosial yang lebih komprehensif.
“Pembangunan sosial tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang martabat manusia, partisipasi, keadilan sosial, dan pengembangan kapasitas masyarakat,” jelas Prof. Pawar.
Prof. Pawar menjelaskan bahwa konsep pembangunan sosial telah berkembang sejak awal abad ke-20 dan semakin diperkuat melalui berbagai agenda global, mulai dari World Summit for Social Development 1995 di Kopenhagen hingga Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurut Prof. Pawar, pengukuran kemiskinan yang hanya berfokus pada pendapatan tidak cukup untuk menggambarkan kesejahteraan masyarakat. Faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, kondisi lingkungan, perumahan, partisipasi sosial, hingga kapasitas individu juga harus menjadi perhatian dalam proses pembangunan.
Mengacu pada kondisi Indonesia, Prof. Pawar menyoroti masih tingginya kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Meskipun tingkat kemiskinan nasional terus menurun dan Indonesia telah berstatus negara berpendapatan menengah atas, kelompok masyarakat miskin masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, teknologi, energi, dan berbagai layanan dasar lainnya.
Dalam konteks tersebut, pembangunan masyarakat dinilai menjadi strategi penting untuk memperkuat kapasitas warga. Prof. Pawar menekankan bahwa keberhasilan pembangunan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengumpulkan warga dalam sebuah program, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kebersamaan dan mendorong kerja sama yang berkelanjutan.
Menutup sesi kuliah, moderator Ni Luh Putu Maitra Agastya, Ph.D., merangkum empat pesan utama dari diskusi tersebut, yaitu pentingnya fondasi nilai dalam pembangunan sosial, perlunya investasi multidimensional pada sektor pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, pentingnya redistribusi sumber daya bagi kelompok miskin, serta penguatan masyarakat rentan di tingkat lokal sebagai ruang strategis bagi praktik pekerjaan sosial.


