Select Page

Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengakomodir amanah yang disebutkan oleh Permendikbud No.3 Tahun 2020. Merdeka Belajar Kampus Merdeka memberikan kesempatan bagi mahasiswa memiliki pengalaman belajar lain di luar program studinya.

Program magang MBKM ini diharapkan memberikan pengalaman yang cukup kepada mahasiswa, pembelajaran langsung di tempat kerja. Selama magang mahasiswa akan mendapatkan hardskills maupun soft skills. Melalui kegiatan ini, permasalahan industri akan mengalir ke perguruan tinggi sehingga meng-update bahan ajar dan pembelajaran dosen serta topik-topik riset di perguruan tinggi akan makin relevan.

Menurut Manajer Pendidikan dan Kepala Pusat Pelayanan Administrasi Akademik (PPAA) FISIP UI, Dr. Nadia Yovani, “magang MBKM di FISIP UI merupakan kegiatan akademis yang dapat menjadi pilihan mahasiswa setara penerapan 20 SKS Mata Kuliah yang dilaksanakan di luar kampus sebagai media bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman rill dalam dunia industri.”

“Tujuan dari magang MBKM di FISIP UI, menjadi tempat untuk mahasiswa memenuhi hak belajarnya di luar program studi 20-60 SKS. Pengaturan angka konversi SKS tergantung kurikulum yang didesain oleh program studi. Selain itu juga di dalam MBKM, mahasiswa bisa mendapatkan skill yang belum tereksplorasi pada saat belajar di dalam program studi,” jelas Dr. Nadia.

Dalam pelaksanaan magang MBKM di FISIP UI, mahasiswa diminta untuk mengunjungi website CIL UI (Center fot Independent Learning Universitas Indonesia). Salah satu prasyarat dari magang MBKM ini adalah mendapat approval atau persetujuan dari dosen pembimbing akademik, program studi serta rekomendasi fakultas dan disitulah letak peran fakultas dan program studi bahkan dosen pembimbing akademik mengarahkan jenis magang yang diambil oleh mahasiswa.

Mahasiswa FISIP adalah mahasiswa yang memiliki minat besar pada magang. Pada tahun 2021 ada sekitar 66 mahasiswa dari berbagai departemen di FISIP UI yang mengikuti kegiatan magang.

Lebih lanjut Dr. Nadia menejalskan bahwa magang MBKM sementara ini mitranya yang dimiliki oleh Kemendikbud. FISIP UI mengirimkan mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam Magang MBKM yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Diharapkan di tahun 2022 ini ada program studi yang mulai bisa merintis kerjasama dengan mitra magang MBKM untuk kegiatan magang mahasiswa FISIP UI.

Mitra magang MBKM untuk kegiatan magang mahasiswa FISIP UI, yaitu:

  1. Balitbang SDM Kementerian Kominfo
  2. Perkumpulan Integrasi Kolaborasi dan Inovasi Pendidikan
  3. PT Bank DBS Indonesia
  4. PT Barata Indonesia (Persero)
  5. PT Berau Coal
  6. PT Bukalapak.com
  7. PT DIGITAL INISIATIF
  8. PT Global Tiket Network
  9. PT Grab Teknologi Indonesia
  10. PT Impactbyte Teknologi Edukasi
  11. PT Indosat, Tbk
  12. PT Karya Dua Anyam
  13. PT Media Dokter Investama
  14. PT Microsoft Indonesia
  15. PT Nestle Indonesia
  16. PT Sarihusada Generasi Mahardhika
  17. PT Shopee International Indonesia
  18. PT TANI HUB INDONESIA
  19. PT Telekomunikasi Selular
  20. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
  21. PT Tirta Investama
  22. PT Tokopedia
  23. PT Uni Tokopo Teknologi
  24. PT Vidio Dot Com
  25. PT XL Axiata Tbk
  26. Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
  27. Yayasan Adipurna Inovasi Asia
  28. Yayasan Bakti Achmad Zaky
  29. Yayasan Bintang Langit
  30. Yayasan Sekolah Ekspor Nasional

Dari sisi mahasiswa, Muhammad Iqbal dari Departemen Ilmu Politik, memilih instani pemerintah yaitu Sekertaris Jendral DPR RI sebagai tempat magangnya. Ia mengikuti program magang MKBM selama kurang lebih empat bulan. Iqbal menjelaskan bahwa dari Sekertaris Jendral DPR RI membuka program magang dan ia mendaftar karena berhubungan dengan jurusannya yaitu ilmu politik.

“Banyak kegiatan yang dirancang oleh panitia magang dan disana anak-anak magang di bagi kedalam kelompok kecil yang di mentori oleh dua atau tiga orang dari Sekjen DPR RI. Tujuannya dibagi perkelompok supaya kami (anak magang) bisa rolling terus sitting nya dimana. Jadi, setiap seminggu, kami sitting di tempat yang berbeda-beda, bisa di komisi, pusat, ataupun badan,” ujar Iqbal.

Mentor tersebut mempunyai fungsi salah satunya untuk penilaian terhadap anak magang, bentuk penilaiannya berupa rincian komponen seperti nilai, total nilainya dan sertifikat magang. Setelah itu nanti diserahkan ke kampus untuk proses konversi SKS nya.

Iqbal menjelaskan bahwa dengan metode rolling seperti itu, ia merasa belajar banyak soal bagaimana hubungan antar pusat, badan, ataupun komisi di DPR dalam menjalankan tugas dan fungsi. “Saya pribadi juga jadi tau apa saja hambatan-hambatan yang ditemui masing-masing komisi, pusat atau badan itu dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.”

Di sisi lain Iqbal mengatakan dengan metode sitting seperti itu ada beberapa kelemahan atau kekurangan yang ia alami, “memang saya ga begitu terlalu paham apa permasalahan masing-masing tempat itu karena cuma satu minggu kan saya sitting di satu tempat dan minggu berikutnya sitting ditempat yang berbeda lagi. Ibaratnya kita cuman tau dinamika kulit luarnya saja.”

Selain itu, Amanda Kenriva Inshira mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI yang magang di perusahaan multinasional PT. Nestle Indonesia. Ia memilih posisi Corporate Communication yang sesuai dengan jurusan dan peminatan di kampus.

Amanda menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan selama magang sesuai dengan posisi tersebut, “contohnya adalah saya berkomunikasi dengan pihak internal dan eksternal perusahaan melalui produk komunikasi dan berhubungan baik dengan mereka. Contoh produk komunikasi bisa seperti membuat konten bulletin, majalah.”

“saya juga ikut support dalam proyek CSR perusahaan. Setelah itu penilaian magang dilakukan oleh departemen HR atau pihak perusahaan yang bertanggung jawab dalam proses magang tersebut yang bekerja sama dengan Kemdikbud,” jelas Amanda.

Amanda juga merasakan adanya hambatan saat magang, yaitu dalam membagi waktu dan menentukan prioritas pekerjaan, “karena belum pernah magang di perusahaan multinasional sebelumnya, saya memerlukan proses adaptasi dan harus banyak belajar mengenai perusahaan itu sendiri,” ujar Amanda mengakhiri wawancara dengan reporter HUMAS FISIP UI.