
Aisha Putri Safrianty, mahasiswa Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) angkatan 2023, meraih juara pertama dalam ASEAN Symposium for Youth Leaders (ASYL) 2026. Bersama timnya, 5EAblings, Aisha dinobatkan sebagai Inaugural Champion setelah mengungguli sembilan tim lainnya dari berbagai negara Asia Tenggara.
Tim 5EAblings terdiri atas pemuda dari lima negara ASEAN, yakni Indonesia, Vietnam, Filipina, Singapura, dan Malaysia. Keberagaman latar belakang tersebut menjadi modal penting bagi tim dalam mengembangkan gagasan lintas perspektif mengenai tantangan kawasan.
ASYL 2026 diselenggarakan oleh Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP), National University of Singapore (NUS), pada 10–12 September 2026 di NUSS Kent Ridge Guild House, Singapura. Mengusung tema “ASEAN Youth Leaders: Diverse Perspectives, Shared Future,” penyelenggaraan perdana ASYL mempertemukan pemimpin muda dari negara-negara ASEAN untuk membahas isu tata kelola dan kebijakan publik yang membentuk masa depan kawasan. Dalam forum tersebut, Aisha hadir mewakili Indonesia dan Universitas Indonesia.
Dalam kompetisi tersebut, tim 5EAblings mengangkat persoalan banjir di Filipina sebagai fokus proyek kelompok. Pengalaman masing-masing anggota dalam menghadapi risiko banjir dan mengelola wilayah perairan di negara asal menjadi bahan pembanding untuk merumuskan solusi bersama.
Tim kemudian mengembangkan visi jangka panjang agar Filipina dapat mengubah tantangan banjir menjadi fondasi menuju Blue Economy Capital pada 2050, yakni pusat ekonomi biru yang mampu mengelola sumber daya perairan secara berkelanjutan.
Gagasan tersebut dikembangkan melalui rangkaian lokakarya futures thinking, mulai dari penentuan fokus masalah dan horizon scanning, identifikasi driving forces, visioning and prototyping, hingga backcasting. Pendekatan tersebut digunakan untuk memetakan langkah yang diperlukan dari visi 2050 menuju kondisi saat ini.
Pada sesi Final Presentations and Judging di hari terakhir, tim mempresentasikan gagasan tersebut di hadapan dewan juri sebelum diumumkan sebagai pemenang pada upacara penutupan.

“Kami berangkat dari pertanyaan sederhana: bagaimana masyarakat yang paling terdampak banjir bisa menjadi bagian dari solusinya, bukan hanya penerima dampak. Dalam hal ini, kami mengambil fokus komunitas nelayan di Hagonoy, Filipina. Bekerja dalam tim dengan latar belakang negara yang berbeda mengajarkan saya bahwa solusi kawasan lahir dari kesediaan untuk saling mendengar lebih dulu,” ujar Aisha.
Selama tiga hari penyelenggaraan, peserta mengikuti sesi pleno, dialog, dan lokakarya keterampilan yang dipandu oleh fakultas LKYSPP serta praktisi senior. Sejumlah topik yang dibahas meliputi transformasi digital di Singapura bersama Prof. Yaacob Ibrahim, posisi ASEAN di tengah dinamika geopolitik bersama Assoc. Prof. Selina Ho, pertumbuhan inklusif dan mobilitas sosial bersama Dr. Ng Kok Hoe, serta dilema antara pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan bersama Terence Ho. Peserta juga mengikuti learning journey ke sejumlah lokasi di Singapura untuk melihat praktik kebijakan publik secara langsung.
Aisha merupakan mahasiswa tingkat akhir Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI dengan fokus pada pendidikan, kesejahteraan anak, literasi, dan advokasi hak anak. Ia juga merupakan Duta Baca DKI Jakarta 2026 dan Juara 1 Mahasiswa Berprestasi Utama FISIP UI 2025.
ASEAN Symposium for Youth Leaders merupakan forum regional yang diselenggarakan LKYSPP, NUS, untuk membekali pemimpin muda ASEAN dengan wawasan, jejaring, dan perspektif praktis mengenai tata kelola dan kebijakan publik. ASYL 2026 menjadi penyelenggaraan perdana program tersebut.


