Pilih Laman

“Hanya 2000 tunanetra dari 3,7 juta tunanetra yang dapat mengakses buku Braille di Indonesia. Kondisi ini sangat disayangkan dimana 40% dari 3,7 juta tunantera masih dalam usia sekolah dan membutuhkan akses terhadap ilmu pengetahuan melalui buku.”

Deka Komanda Yogyantara, Mahasiswa Ilmu Politik UI berhasil menjadi Top 5 Social Business Project dalam Program Community Leaders Ayamin Plus yang diadakan oleh NAMA Foundation dan Ghadan Institute yang berbasis di Arab saudi serta didukung oleh Waffa Indonesia Gemilang. Deka meraih posisi empat dari 20 proyek bisnis sosial yang terpilih sehingga ia menerima pendanaan senilai 17 juta rupiah untuk mengembangkan bisnis sosialnya yang bertujuan untuk membantu tunanetra di Indonesia.

Artikel Lainnya:  MNCTV Pahlawan Untuk Indonesia 2014

Community Leaders Ayamin Plus sendiri adalah kompetisi ide social-entrepreneur yang diadakan serentak di empat negara yakni Indonesia, Kyrgyzstan, Lebanon, dan Tanzania yang berlangsung secara paralel sejak Maret 2016. Awalnya, pada Maret lalu diseleksi menjadi 100 peserta, kemudian diambil 20 peserta terbaik untuk diberikan pendanaan proyek, 20 peserta ini juga akan diberangkatkan ke Turki akhir tahun ini untuk mengikuti training social entrepreneurship di sana.

Gagasan Deka berangkat dari mahalnya buku Braille yang harganya bisa berlipat-lipat dari buku konvensional, serta judul buku yang sangat terbatas, terutama buku dalam bahasa Indonesia. Di sisi lain, audiobook untuk tunanetra juga masih terbatas dan mayoritas masih berbentuk CD sehingga distribusi masih terbatas di daerah tertentu. Deka menawarkan solusi yakni sebuah aplikasi dan website yang bernama Ayobaca.in. “Melalui aplikasi ini masyarakat umum dapat membacakan suatu buku, yang kemudian direkam secara real-time dan dikonversi menjadi audiobook. Teman-teman tunanetra dapat mengakses audiobook tersebut melalui website maupun aplikasi Ayo Bacain di handphone secara gratis”, ungkap Deka.

Artikel Lainnya:  Promosi Doktor Kriminologi FISIP UI Secara Daring

Deka mendapat inspirasi ide Ayobaca.in ketika Februari 2016 lalu mengikuti kegiatan kepemudaan di Thailand. Ia berkesempatan bertemu dengan Tab, founder GuideLight Thailand. Guidelight Thailand adalah gerakan sosial dimana masyarakat terlibat dalam kegiatan sosial mengkonversi buku konvensional menjadi audiobooks.

Deka percaya Ayobaca.in ke depannya akan meningkatkan jumlah audiobooks di Indonesia serta mempermudah akses ilmu pengetahuan bagi 3,7 juta teman-teman tunanetra yang ada di Indonesia. Agenda terdekat Ayobaca.in yakni peluncuran aplikasi serta kegiatan membacakan buku bersama pada bulan Agustus yang diadakan di Jakarta. (oleh: DKY)