Select Page

Konferensi Internasional G20 yang diadakan Universitas Indonesia (UI) pada 15-16 Juni 2022 lalu berisikan diskusi dari materi-materi penting dalam meningkatkan peran Indonesia di Presidensi G20 tahun 2022.

Menurut Munawar, jika S20 dapat memberikan sumbangsih, salah satunya adalah dengan pembentukan G20 Academy of Science. “S20 belum memiliki pengimplementasian yang konkret sehingga membutuhkan G20 Academy of Science sebagai institusi untuk merealisasikannya,” kata Munawar.

Dilatarbelakangi ketimpangan ekonomi dunia dan minimnya pembahasan khusus mengenai microfinance, Makmur Keliat, Ph.D., peneliti dari Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, menjelaskan pentingnya pengusulan pembentukan Global Microfinance Governance melalui G20 yang diiringi dengan pembentukan sekretariat tetap G20 di bawah pengawasan G20. Institusi terkait diharapkan aktif dalam melakukan pengaturan standar normatif kepada institusi keuangan besar lainnya, seperti International Monetary Fund (IMF) dan Basel Accord, untuk mendorong pemberlakuan target kuantitatif yang jelas. “Walaupun saya tahu ini bukan merupakan isu prioritas untuk rencana yang akan datang, namun saya menganggap isu microfinance ini sangat penting untuk dibahas,” kata Makmur.

Kontribusi sektor swasta pada SDGs juga harus diperhatikan dari sudut pandang environmental, social and governance (ESG). IMF mengatakan potensi pembiayaan SDGs swasta sebagian besar masih belum terealisasi dan situasi ini diperburuk oleh pandemi Covid-19.

Selain itu, diperlukan pula kemitraan pemulihan hijau dalam simbiosis industri sebagai strategi ESG di era pasca Covid-19. Hal ini akan menjadi kolaborasi antara Business Management & Public Rolling, Costumer Behavior, dan Engineering (Chemical).

Disunting dari: https://www.hetanews.com/article/243190/peneliti-ui-berikan-ide-dalam-transformasi-g20-academy-of-science