Penguatan kapasitas metodologis menjadi bagian penting dalam pengembangan riset sosial dan politik yang mampu membaca kompleksitas perubahan di kawasan Global South. Untuk mendukung agenda tersebut, Unit Riset, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat bekerja sama dengan Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menyelenggarakan workshop bertajuk “Historical-Comparative Research in Practice: Comparing the Global South” pada Selasa (29/9), di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI Depok.

Kegiatan yang ditujukan bagi dosen dan mahasiswa program doktoral (S3) ini menghadirkan Prof. Alf Gunvald Nilsen, Profesor Sosiologi Universitas Pretoria, Afrika Selatan, sekaligus Direktur Centre for Asian Studies in Africa (CASA), sebagai narasumber utama. Workshop dirancang untuk memperkuat kapasitas metodologis sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan jejaring riset mengenai studi komparatif di kawasan Global South.

Dalam penelitian komparatif, peneliti menghadapi tantangan untuk menemukan persamaan yang bermakna antarkasus tanpa mereduksi kompleksitas sejarah menjadi sekadar variabel yang kaku. Pada saat yang sama, setiap kasus perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan sosialnya agar perbandingan tidak mengabaikan kekhasan lokal.

Tantangan tersebut menjadi semakin relevan dalam studi Global South, ketika transformasi sosial dan politik dibentuk oleh interkoneksi sejarah kolonialisme, pembangunan ekonomi kapitalis, pembentukan negara, demokratisasi, gerakan sosial, serta relasi antara elite dan kelas populer.

Melalui workshop ini, Prof. Nilsen memperkenalkan pendekatan komparatif yang berbasis pada sejarah dan relasi (historically grounded and relational approach). Pendekatan tersebut dikembangkan melalui kajian komparatif mengenai populisme otoriter (authoritarian populism) di lima negara, yaitu Afrika Selatan, Turki, India, Filipina, dan Brasil. Perbandingan lintas wilayah tersebut menunjukkan pentingnya memahami fenomena politik dengan menelusuri hubungan antarkasus sekaligus proses historis yang membentuknya.

Selain itu, Prof. Nilsen membagikan penggunaan analisis konjungtural (conjunctural analysis) sebagai perangkat untuk memahami krisis politik, pembentukan aliansi, serta perubahan dan pergeseran kekuasaan. Pendekatan ini memberikan ruang bagi peneliti untuk membaca berbagai kekuatan sosial, politik, dan ekonomi yang berinteraksi dalam suatu periode tertentu, sekaligus memahami bagaimana konfigurasi tersebut dapat berubah secara historis.

Workshop juga menjadi ruang pembelajaran metodologis yang bersifat interaktif, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Nilsen dan diskusi terfasilitasi. Peserta diajak membedah rancangan penelitian masing-masing berdasarkan bahan bacaan terpilih yang telah didistribusikan sebelum kegiatan.

Penyelenggaraan workshop ini menegaskan komitmen FISIP UI dalam memperkuat ekosistem riset yang reflektif, kontekstual, dan memiliki daya jelajah komparatif. Penguasaan metodologi komparatif-historis diharapkan dapat memperkaya kemampuan peneliti dalam memahami transformasi sosial-politik Global South secara lebih mendalam, dengan tetap mempertimbangkan keterhubungan sejarah dan kekhasan masing-masing wilayah.