Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) kembali meluluskan doktor baru melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor yang diselenggarakan pada 6 Agustus 2026 di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok.
Dalam sidang tersebut, Diah Ayu Candraningrum berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Konstruksi Sosial Autentisitas di Media Sosial: Studi Kasus Ganda Multi-Sumber Data dalam Komunikasi Pemasaran Pariwisata Digital Desa Wisata.”
Penelitian Diah mengkaji bagaimana autentisitas desa wisata dibangun, dikomunikasikan, dan dimaknai dalam ekosistem digital melalui studi kasus pada Desa Wisata Candirejo dan Desa Wisata Karangrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus ganda berbasis multi-sumber data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, observasi media sosial Instagram, serta analisis ulasan wisatawan pada Google Reviews dan Tripadvisor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa autentisitas dalam pariwisata digital tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai keberadaan budaya, tradisi, atau lanskap yang dianggap asli. Autentisitas merupakan proses sosial yang terus dikonstruksi melalui interaksi antara realitas lokal, representasi digital, teknologi platform, interpretasi wisatawan, pengalaman destinasi, dan reproduksi makna melalui ulasan digital.
Media sosial, menurut penelitian tersebut, tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga menjadi ruang konstruksi identitas destinasi. Masyarakat dan pengelola memilih berbagai unsur kehidupan lokal untuk dikomunikasikan kepada publik, sementara wisatawan turut memproduksi makna melalui foto, video, komentar, dan ulasan perjalanan.
Penelitian juga menemukan perbedaan pola representasi antara kedua desa wisata. Di Desa Wisata Candirejo, autentisitas lebih banyak dibangun melalui kehidupan masyarakat, seperti aktivitas pertanian, tradisi, kuliner, dan interaksi warga. Sementara itu, representasi digital Desa Wisata Karangrejo lebih banyak dipengaruhi oleh dominasi atraksi Punthuk Setumbu. Temuan ini menunjukkan pentingnya kemampuan desa dalam mengelola narasi dan strategi komunikasi digital agar identitas destinasi tidak terfragmentasi.
Sebagai kontribusi akademik, penelitian Diah menghasilkan “Hexagon Model Konstruksi Autentisitas Desa Wisata” yang terdiri atas enam elemen, yakni produsen makna, representasi autentisitas, mediasi platform, interpretasi wisatawan, pengalaman destinasi, dan reproduksi makna digital. Model tersebut menegaskan bahwa autentisitas merupakan sesuatu yang dinamis dan terus dinegosiasikan antara masyarakat, teknologi, dan wisatawan.
Penelitian ini juga menyoroti dua sisi digitalisasi desa wisata. Media sosial membuka peluang untuk memperluas jangkauan promosi, memperkuat identitas lokal, dan mendukung ekonomi masyarakat. Namun, digitalisasi juga menghadirkan risiko penyederhanaan budaya, komersialisasi identitas, ketergantungan terhadap algoritma, serta ketimpangan keterlihatan antarkelompok dan atraksi.
Diah merekomendasikan penguatan literasi digital masyarakat, kapasitas pengelolaan komunikasi destinasi, tata kelola kelembagaan, reputasi daring, dan strategi keberlanjutan berbasis masyarakat. Dengan demikian, desa wisata tidak hanya dituntut populer di ruang digital, tetapi juga mampu menjaga kesesuaian antara identitas yang dikomunikasikan, pengalaman wisatawan, dan kehidupan masyarakat.
Penelitian ini diharapkan berkontribusi bagi pengembangan komunikasi pemasaran pariwisata digital sekaligus mendukung penguatan desa wisata Indonesia yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada masyarakat sebagai subjek utama pembangunan pariwisata.




