Pilih Laman

Pada awalnya, Pondok Cina adalah sebuah kawasan yang menjadi konsentrasi pemondokan orang-orang Tionghoa yang berada di Depok. Kawasan itu adalah salah satu dari banyak perkampungan masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Indonesia. Pada masa orde baru, adanya sentimen terhadap etnis Tionghoa membuat mereka melakukan kegiatan secara tertutup, termasuk ketika merayakan hari raya Imlek. Keadaan tersebut membuat munculnya berbagai macam variasi tentang bagaimana melakukan perayaan pada hari-hari tertentu, bahkan sampai pada masa paska reformasi di mana sentimen tersebut berangsur hilang.

Isu tersebut kemudian dibawa oleh Ernalem Bangun, mahasiswi Program Doktoral Antropologi FISIP UI, dalam disertasinya yang berjudul “Imlek: Transformasi dan Kontinuitas Kecinaan pada Komunitas Cina Pondok Cina.” Disertasi ini dibahas dalam sidang promosi doktor pada Kamis (16/6/2016) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI. Disertasinya berusaha mencari tahu bagaimana munculnya variasi representasi sebuah identitas, yang dalam kasus ini mengambil objek penelitian masyarakat Tionghoa di Pondok Cina.

Artikel Lainnya:  6 Besar Finalis Mapres FISIP UI Beradu Gagasan di Tahap Debat Bahasa Inggris

Lebih lanjut soal penelitian yang ia buat, Ernalem menjelaskan bahwa disertasi ini merupakan studi mengenai variasi identitas etnik di dalam sebuah komunitas sosial di mana setiap anggotanya menampilkan kesamaan sekaligus keberagaman dalam merepresentasikan identitas mereka. Dengan menggunakan etnografi sistematika penelitian dan Teori Strukturasi dari Anthony Giddens serta dilengkapi oleh Teori Populasional Kebudayaan dari Emil Durkheim sebagai kerangka pemikiran, peneliti mengatakan dalam disertasinya bahwa penelitian ini berusaha untuk menelisik perayaan Imlek sebagai pintu untuk memahami konstruksi identitas masyarakat Tionghoa di Pondok Cina.

Lewat penelitian ini, Ernalem menyimpulkan beberapa hal. Pertama, ia menemukan bahwa aspek kekerabatan dan kepercayaan dalam kaitannya dengan nilai bakti melalui perayaan Imlek telah memengaruhi munculnya bentuk-bentuk representasi kecinaan yang bervariasi. Ia menyebutkan bahwa perayaan Imlek di Pondok Cina merefleksikan satu bentuk rekacipta sehingga menghasilkan bentuk-bentuk tradisi baru lewat perayaan Imlek yang bervariasi. Namun di sisi lain, tetap menggunakan fungsi lama yaitu sebagai penghormatan leluhur sebagai salah satu ekspresi bakti.

Artikel Lainnya:  Human Security dalam Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN

Selain itu, adanya variasi bentuk dari rekacipta tradisi ini juga terjadi karena perbedaan artikulasi dalam memaknai dan mengejawantahkan aspek kepercayaan. Meski demikian, Ernalem menemenukan bahwa variasi bentuk perayaan Imlek tersebut menunjukan fungsi yang relatif sama, yaitu adanya usaha untuk mempertahankan ikatan kekerabatan.

Disertasi ini dipromotori oleh Prof. Dr. Yasmine Zaky Shahab, M.A. serta kopromotor Irwan Martua Hidayana, M.A., Ph.D. Sidang promosi doktor ini diuji di hadapan segenap tim penguji yang diketuai oleh Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes., Ph.D. dan anggota tim penguji Dr. Thung Ju Lan, Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin, Dr. Tony Rudyansjah, M.A. dan Dr. Dian Sulistiawati, M.A.

Artikel Lainnya:  Konflik Kepentingan dan Konsensus Dalam Pengelolaan Sumber Daya Hutan