Pilih Laman

Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI menggelar seminar membahas mengenai ide Dewan Rating di industri penyiaran tanah air pada Jumat (11/11/2016) di Auditorium Gedung Komunikasi. Seminar dan diskusi tersebut menampilkan pembicara antara lain Dr. Eriyanto dari Aliansi Jurnalis Independen, Andini Wijendaru dari AC Nielsen, Wishnutama Kusubandio selaku CEO Netmediatama, Hardly Stefano dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) serta Dr. Pinckey Triputra M.Sc dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI.

Pentingnya bahasan mengenai sistem rating pada industri televisi tanah air dirasakan semakin kuat. Hal itu karena saat ini rating seolah menjadi raja yang menjadi acuan bagi industri untuk menempatkan iklannya di program-program tertentu. Imbasnya, saat ini stasiun televisi berlomba-lomba membuat program yang populer di masyarakat. Tidak jarang, kebijakan tersebut dilakukan dengan mengorbankan kualitas program.

Artikel Lainnya:  Tupperware serahkan 100 Unit Tempat Sampah ke FISIP UI

Mengingat hal tersebut, muncul sebuah ide untuk mendirikan sebuah dewan rating. Diskusi mengenai adanya dewan rating sendiri muncul dari Eriyanto. Dia menjelaskan bahwa ada lima alternatif bentuk penyedia rating. Lima alternatif tersebut antara lain mendorong keterbukaan penyedia data rating dan melakukan edukasi, mendorong negara atau badan regulator untuk menyediakan data rating, mendorong munculnya perusahaan rating sejenis selain Nielsen, mendorong riset lain di luar yang dilakukan Nielsen, dan mendorong adanya Dewan Rating.

Bagi Eriyanto, pilihan terakhir itulah yang saat ini menjadi solusi terbaik. Adanya Dewan Rating akan menjadi lembaga yang memberikan rating kepada program televisi. “Sistem yang diterapkan di Indonesia adalah yang paling lemah diantara yang lain, hal ini karena kontrol berada di pihak penyelenggara,” kata Eriyanto. Oleh karena itu, sistem audit sangat penting dan di sanalah peran Dewan Rating berada.

Artikel Lainnya:  Peresmian Lapangan Olahraga dan Syukuran Beberapa Pencapaian Prestasi FISIP UI

Selain dari sudut pandang AJI, sudut pandang pihak industri, akademisi, regulator serta penyelenggara rating pun dihadirkan. Wishnutama selaku CEO dari Netmediatama mahfum bahwa rating menjadi alat tukar dari bisnis pertelevisian sampai hari ini. Meskipun demikian, dirinya tidak serta merta menjadikan rating sebagai acuan dalam membuat sebuah program. Hingga saat ini, kata Wishnutama, NET TV masih berupaya menyediakan konten yang bagus secara kualitas.

Senada dengan Wishnutama, Hardly Stefano selaku Komisioner KPI Pusat mengatakan bahwa kualitas tayangan TV harus tetap dijaga. Tantangan bagi industri penyiaran menurutnya adalah bagaimana melakukan proses kreatif yang menghasilkan tayangan edukatif namun tetap menghibur, berkualitas, sekaligus menguntungkan bisnis.

Artikel Lainnya:  Peran Pemuda dalam Mengimplementasikan Pendidikan sebagai Sustainable Development Goal

Dr. Pinckey Triputra menutup diskusi dengan memberikan pendapatnya mengenai rating. Ia memaparkan bahwa rating hanya akan menjadi berbahaya apabila dijadikan satu-satunya acuan bagi stasiun televisi. Ia mengatakan Nielsen hanyalah instrumen yang melakukan survei. Oleh karena itu, pihak stasiun televisi harus bertanggung jawab untuk tetap membuat tayangan yang bagus secara kualitas. “TV yang menggunakan ranah publik seharusnya tidak hanya memikirkan rating,” kata Pinckey.