Pilih Laman

Millenials merupakan kelompok usia yang sangat penting dalam konteks perebutan suara menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Menurut data sensus BPS tahun 2018, dari total penduduk berusia 17 tahun ke atas , sebanyak 55% di antaranya berumur 17-38 tahun. Apabila mengacu pada definisi kelompok Milenials menurut Pew Research Center, yakni gabungan generasi kelahiran 1981-1996 (Millenial) dan generasi kelahiran 1997+ (Post-Millenial), maka angka 55% tersebut diproyeksikan pada 187 juta pemilih terdaftar akan diperoleh sekitar 103 juta Milenials dalam Pemilu 20189 nanti.

Jumlahnya yang sangat besar tersebut dinilai sangat menentukan perolehan suara dalam kontestasi politik besar tersebut. Tidak heran apabila selama masa kampanye yang berlangsung telah terlihat beragam manuver para pelaku politik praktis dalam berlomba memenangkan hati Millenials. Namun, apakah strategi dalam manuver tersebut telah mengakomodasi aspirasi milenials yang sesungguhnya serta membidik secara tepat pola Perilaku Memilih (Voting Behaviour) mereka?

Sebuah analisis tentang perilaku generasi Milennials terhadap Pemilu 2019 yang dilakukan Erwin Panigoro (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI) bersama Tim mencoba menjawab dua pertanyaan tersebut. Riset ini merupakan riset kualitatif dengan menggunakan metode survey online di 3 kota besar di Indonesia.

“Analisis ini menerapkan applied research, menelurkan pemikiran untuk menyusun sebuah strategi. Ingin memprofile, baru setelah ini akan meluas di 11 kota besar di Indonesia”, ungkap Erwin.

Artikel Lainnya:  Sidang Promosi Doktor: Bobi Guntarto (Program Studi Ilmu Komunikasi)

Riset ini memetakan karakter Pemilih Milennials dalam aspirasi politik serta perilakunya dengan membedah general trait (sifat umum) serta atribusi-atribusi yang dimiliki oleh mereka. Hasilnya, terdapat 3 hal paling besar yang dilihat oleh Milenials dalam kancah persaingan kandidat, yakni integritas, bekerja, dan berkarya. Sementara, karakter yang diharapkan Millenials ada dalam Presiden antara lain; peduli, intelektual, rendah hati, tegas dan cerdas. Adapun dua faktor yang dapat mendeterminasi pilihan mereka, yakni pengetahuan politik (knowledge) dan partisipasi politik (Participation). Kedua faktor ini merupakan atribusi kuat (strong attribut) untuk Millenials ketika mereka ingin memilih (political behaviour)

Menggunakan pendekatan perceptual mapping, didapatkan hasil bahwa karakter pemilih Milennials berdasarkan pengetahuan dan partisipasi politiknya dapat dikelompokkan ke dalam empat kuadran, yakni doubtfulness, open minded, apathetic, dan  modest. Dalam kuadran pertama dengan tingkat partisipasi rendah dan pengetahuan tinggi, doubtfulness didefinisikan sebagai orang-orang yang belum mendapatkan satu pilihan yang pasti, sehingga dari perspektif politik, kelompok ini dikenal sebagai swing voters. Kuadran kedua dengan tingkat partisipasi rendah dan pengetahuan rendah dimiliki oleh kelompok apathetic yang tidak peduli dengan perpolitikan, sehingga definisi dari Harvard mengatakan bahwa kelompok ini adalah pemilih yang apatis. Kelompok Modest berada pada kuadran ketiga dengan karakteristik pilihan yang didasarkan pada pilihan kolektif lingkaran terdekatnya, sehingga dikatakan bahwa tingkat partisipasi mereka tinggi dan pengetahuan politik yang rendah. Kuadran terakhir dengan tingkat partisipasi dan pengetahuan yang sama-sama tinggi dimiliki oleh kelompok Open Minded, yang secara koleltif dipersepsikan sebagai kelompok yang rasional, logis, dan cerdas.

Artikel Lainnya:  Menilik Proses Legislasi lahirnya BPJS

Dari metode profiling tersebut, Erwin mengungkapkan cara pendekatan yang paling efektif untuk tiap karakteristik. Misalnya, untuk merebut suara dari kelompok doubtfulness, Erwin menyebutkan bahwa cara terbaik adalah dengan peer pressure dan influence yang bisa diwujudkan melalui taktik aksi persuasi oleh endorser.Berbeda dengan open-minded yang membutuhkan keterbukaan terhadap informasi, sehingga berbicara dengan mereka harus berlandaskan data, temuan, teori, serta pernyataan dari ahli. Sementara, kelompok apathetic menginginkan informasi yang ringan dan jenaka, sehingga meme atau konten media sosial yang ringan merupakan cara terbaik untuk mendapatkan suara mereka. Terakhir, untuk kelompok Modest diperlukan strategi story sharing dengan simulasi sederhana, misalkan cerita yang dikaitkan dengan nilai-nilai keluarga.

Namun sayangnya, strategi yang dilakukan oleh banyak pemain politik praktis saat ini belum mendekati pendekatan-pendekatan yang disarankan, justru memilih untuk mengotori strategi mereka sendiri dengan menggunakan informasi-informasi salah seperti propaganda Firehouse of Falsehood, kampanye memanfaatkan ketakutan-ketidakpastian-dan keraguan (Fear, Uncertainty, Doubt Campaign), kamuflase berita (dumbing down). Oleh karena itu, Erwin mengajukan tiga saran untuk masing-masing tim pemenangan di dua kubu kandidat, antara lain; menggunakan persepsi atribusi milenials yang kuat dalam perilaku memilihnya sebagai narasi konten, fokus pada masing-masing profil karakter untuk mendapatkan pemahaman mereka terhadap tujuan politis kampanye, dan aktif untuk memproduksi narasi konten yang dapat melawan konten dengan informasi yang salah.

Artikel Lainnya:  Sidang Promosi Doktor: Lisa Adhrianti (Program Studi Ilmu Komunikasi)

“Kami berharap masing-masing tim kandidat jangan hanya meng-euforiakan milennials, tetapi beri mereka konten yang sesuai dengan aspirasinya milennials.” ungkap Erwin mengakhiri pemaparannya.