Select Page

Transisi energi juga menjadi salah satu topik utama dalam Presidensi G20 Indonesia. Oleh karena itu Science20 bekerjasama dengan Energy Transition Working Group, melalui Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Universitas Indonesia (UI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Asian Development Bank (ADB), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berupaya untuk memastikan ekosistem transisi energi yang optimal serta mensukseskan inisiatif konkret G20 2022, melalui penyelenggaraan rangkaian Webinar Nasional pada Kamis (17/02).

Mengangkat tema Webinar Nasional: “Transisi Energi: Menuju Pembangunan Berkelanjutan”. Transisi energi dapat didefinisikan sebagai perubahan komposisi atau struktur pasokan energi, di mana terjadi proses pergeseran dari pola penyediaan energi berbasis energi fosil ke energi terbarukan secara bertahap.

Transisi energi bukan hanya tentang perubahan pemanfaatan dan penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan tetapi juga terkait dengan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Untuk mengukur seberapa efektif proses transisi energi berlangsung, maka semua aspek tersebut harus diperhitungkan dengan tepat. Oleh karenanya, diperlukan kerjasama, kolaborasi dan sinergi para pemangku kepentingan yang memiliki peran strategis dalam transisi energi di Indonesia.

Direktur Asia Research Center Universitas Indonesia sekaligus dosen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Dr, Inaya Rakhmani menjelaskan, pada abad ke-21, banyak negara yang menghadapi peningkatan persamaan krisis seperti pandemi Covid-19, perubahan iklim serta ekonomi global yang bergejolak. Krisis ini saling berkaitan dan membutuhkan logika interdisipliner.

“Industrialisasi besar-besaran telah menggeser komunitas pedesaan, mendorong orang ke industri manufaktur dan jasa yang tidak selalu menyediakan kepastian pekerjaan,” ujar Inaya.

Dislokasi sosial manusia, alam, hewan telah mengintensifkan penyebaran penyakit karena hewan dan manusia semakin hidup berdekatan. Perpindahan penduduk secara besar-besaran juga berkontribusi terhadap berkembangnya kawasan kumuh di kota-kota besar.

“Sehingga kita perlu memerhatikan keseimbangan ekosistemik untuk pembangunan berkelanjutan dan merespon tidak hanya krisis didepan mata tetapi juga krisis-krisis potensial yang akan datang beberapa tahun mendatang,” jelas Inaya.

Clean energy atau renewable energy adalah energi yang berasal dari proses alam yang berkelanjutan, seperti tenaga surya, tenaga angin, air, proses biologi, dan panas bumi.

Inaya menjelaskan bahwa secara sosial clean energy, berarti mengambil yang sesuai dengan kebutuhan ‘taking as much as we need’, berusaha untuk meninggalkan energi atau sumber daya alam sebanyak yang kita bisa untuk masa depan bumi dan penghuninya.