Pilih Laman

Kurnianing Isololipu, Mahasiswa doktoral Ilmu Administrasi FISIP UI, meneliti proses perkembangan ekosistem wirausaha (entrepreneurial ecosytem) yang terjadi pada perusahaan kosmetik raksasa, Martha Tilaar Group (MTG). Analisis kualitatif dalam penelitiannya ini didasarkan pada identifikasi kemampuan individu wirausaha (Entrepreneurial Human Capital), dengan meletakkan pusat perhatian pada pemilik MTG, yakni Dr. (HC) Martha Tilaar.


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan ekosistem wirausaha dari MTG dapat terjadi karena interaksi dari elemen-elemen yang ada dalam ekosistem. Interaksi antar elemen ini tidak terlepas dari peran sentral dari Pemilik MTG dengan Entrepreneurial Human Capital (EHC) yang dimiliki. Entrepreneurial Human Capital (EHC) merupakan kompetensi, pengetahuan, pengalaman, dan personalitas yang dapat menumbuhkan inovasi untuk menciptakan nilai ekonomi. Yang menarik, selama 48 tahun jatuh-bangun mengembangkan usahanya, Martha Tilaar berperan sebagai activators, browsers, sekaligus creators dalam ekosistem wirausahanya. Sebagai activators, Martha Tilaar selalu berusaha untuk menghasilkan inovasi dan percaya bahwa ide barunya dapat direalisasikan dalam bentuk produk MTG. Hal ini terungkap dari salah satu cerita di balik kelahiran lipstik dua warna merk dagang Sari Ayu. Martha Tilaar terjun langsung mencari insight ke Padang untuk bertemu orang yang dituakan dan menanyakan warna dasar tanah Minang yang kemudian diketahui yakni kuning dan merah. Ia kemudian berdiskusi dengan tim kreatif dan produksi untuk dapat mentransformasikan warna kuning dan merah menjadi kosmetik. Akhirnya, lahirlah lipstik dua wana yang menaikkan pendapatan hingga 400% dan menyelamatkan perusahaannya di tengah krisis moneter.

Artikel Lainnya:  Sosialisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia untuk jenjang Program Pascasarjana


Dalam peran sebagai browser, Martha Tilaar berusaha mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti datang langsung ke pelosok Indonesia, membaca buku, ataupun mengikuti pelatihan. Informasi terbaru yang ia peroleh digunakan untuk menghasilkan ide-ide inovatif, salah satu contohnya membuka spa di Bali. Sementara, peran creators terlihat pada gagasan-gagasan kreatifnya yang dapat direalisasikan dalam bentuk produk dan jasa, salah satu contohnya adalah membuat produk kosmetik yang cocok untuk kulit orang Indonesia dengan meraciknya sendiri pada awal Ia mulai merintis usaha salon pertamanya.


Kusnianing juga menuliskan bahwa sepanjang Ia melakukan penelitian, terlihat satu hal yang secara konsisten dipegang kuat oleh perusahaan MTG beserta pemimpinnya, yakni filosofi. Filosofi Indonesia: nature and culture menjadi landasan dalam setiap aktivitas wirausaha yang dijalankan MTG. Di setiap produk-produk MTG dalam ekosistem wirausahanya, kearifan lokal dari daerah-daerah di seluruh Indonesia, selalu berusaha diangkat.

Artikel Lainnya:  Menentang Korupsi Lewat Puisi


Keberadaan filosofi yang terus dipegang teguh oleh MTG tidak terlepas dari self-determination yang dimiliki oleh Martha Tilaar. Mengutip Kirkley (2016), Kusnianing menjabarkan bahwa seorang wirausaha perlu memiliki self-determination sebagai salah satu konstruk diri, dengan dua lainnya yakni self-identity dan self-efficacy. Self determination atau otonomi individu untuk bertindak secara tepat terlihat dalam diri Martha Tilaar ketika Ia menentukan dan mengembangkan bisnisnya, yakni berusaha menggali kebudayaan lokal sebagai bahan dasar produk kecantikannya di tengah-tengah tren produk kecantikan pada masa itu berkiblat pada ‘Barat’. Di sisi lain, Self-identity yang dimiliki Martha Tilaar membuat ekosistem wirausahanya tidak hanya diisi oleh elemen-elemen usaha bisnis, tetapi juga pemberdayaan perempuan. Martha Tilar Training Center (MTTC) merupakan pemberdayaan perempuan yang Ia inisiasi setelah bertemu dengan seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Hongkong. Identitas dirinya sebagai wirausaha tidak semata-mata membuatnya melihat keuntungan sebagai hal utama, tetapi berbagi bersama adalah hal yang dikedepankan dalam tindakan bisnisnya. Sementara, konstruk diri terakhir, yakni self-efficacy terlihat dari usaha kerasnya dalam mengembangkan bisnisnya yang dimulai dari nol, di sebuah garasi mobil hingga menjadi sebuah bisnis dengan delapan anak perusahaan.

Artikel Lainnya:  Perilaku Sibernomie dan Tindakan Persekusi di Era Post-Truth


Atas disertasinya yang sarat inspirasi bagi para pegiat wirausaha ini, Kusnianing berhasil mendapatkan gelar doktornya dengan yudisium Sangat Memuaskan, pada Senin (17/12).