Pilih Laman

Di Indonesia dari kurun waktu 2010 hingga 2017 tercatat terjadi 130 kasus terorisme. 896 pelaku telah ditangkap dan dijatuhi hukuman, 126 di antaranya dihukum mati, 674 sedang dalam hukuman dan 96 pelaku bebas. Jumlah kasus tersebut menunjukkan bahwa terorisme masih menjadi masalah serius di Indonesia yang tak hanya melibatkan pelaku di dalam negeri, melainkan jaringan lintas negara.

Menyadari hal tersebut, ASEAN Study Center bekerja sama dengan Mission Canada to ASEAN menyelenggarakan seminar publik dengan tema “Responses to Terrorism and Transnational Crime in Southeast Asia: Canada, Interpol, and Indonesia.

Diselenggarakan di Auditorium Juwono Sudarsono pada Kamis (8/3), acara ini menghadirkan Dr. Sulastiana, S.IP., M.Si., Head of PhD Program The Indonesia Police Science College, Harold O’Connel, Director Capacity Building and Training Directorate Interpol Global Complex for Innovation, Broto Wardoyo Ph.D., Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP UI, dan Stuart Shaw, Political Consellor Mission of Canada to ASEAN.

Menurut Sulastiana, tren terorirsme di Indonesia terbagi menjadi empat pembabakan waktu. Periode pertama adalah masa DI/TII  di era 1949 hingga 1954 yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia. Gerakan ini dipimpin Kahar Muzakar di Sulawesi, Kartosuwiryo di Jawa Barat, dan Daud Bireuh di Aceh.

Tren terorisme kemudian berubah pada periode Jamaah Islamiyyah yang dimulai tahun 1983 dengan ditokohi oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Kelompok terorisme ini berawal dari Pondok Pesantren Al Mukmin di Sukoharjo dan menyebarkan paham-paham radikalnya dari pesantren tersebut. Jamaah Islamiyyah eksis di Indonesia hingga awal 2000-an dan berhasil melakukan teror Bom Bali 1, Bom Bali 2, Bom di Kedutaan Besar Australia, dan Bom JW Marriot.

Artikel Lainnya:  Pemilihan Ketua BEM dan BPM FISIP UI

Periode selanjutnya yaitu periode ISIS. Teroris-teroris ini terpengaruh gerakan terorisme global yang berpusat di Iran dan Syiria.

Ketiga periode ini memiliki perbedaan di bdiang struktur, pattern of attack, pendanaan, dan pola komunikais, diseminasi ideologi, dan rekrutmen. Secara struktur, periode Jamaah Islamiyyah memiliki struktur manajerial yang rapih, dimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Teroris pada periode Jamaah Islamiyyah melakukan serangan dengan menggunakan high explosive bombs.

Mengenai pendanaan, ketiganya memiliki persamaan yaitu dana yang digunakan bersumber dari tiga hal: donasi individual, infiltrasi sumbangan, hasil dari kejahatan tingkat rendah dan kejahatan terorganisasi lainnya, serta legitimasi bisnis. Dana ini kemudian ditransfer ke kelompok teroris juga dengan berbagai cara, misalnya: transfer melalui fmekanisme formal melalui bank, informal money transfer atau kerap disebut hawala, atau menggunakan manusia sebagai kurir.

Berkembangnya teknologi saat ini membuat tyren jaringan komunikasi, diseminasi ideologi dan rekrutmen menjadi berbeda. Periode ISIS menggunakan blog, website, media sosial, serta instant messagers untuk menyebarluaskan ideologinya, melakukan komunikasi atau bahkan merekrut anggota baru.

Untuk penanganannya, Indonesia memiliki empat badan yang telah bekerja keras memberantas terorisme. Melalui tim khusus densus 88 dari kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelejen Negara (BIN), serta badan hukum seperti kejaksaan. Akan tetapi, Sulistiana menilai keempat badan tersebut belum bersinergi secara maksimal dan masih berjalan sendiri-sendiri dalam penanggulangan teror di Indonesia.

Artikel Lainnya:  Tambah Wawasan Dunia Kreatif di Kantor Ogilvy