Pilih Laman

Aksi menentang korupsi bukan hanya dapat dilakukan melalui pendekatan politik, hukum, dan aksi demonstrasi di jalan. Bentuk lain dari gerakan anti korupsi juga dapat disuarakan lewat media seni dan budaya dengan menulis buku puisi esai yang bertema anti korupsi.

Hal ini dikemukakan oleh Dr. Satrio Arismunandar pada peluncuran dan bedah buku karyanya yang berjudul “Antologi Puisi Esai: Mereka yang Takluk di Hadapan Korupsi,” di Auditorium Gedung Komunikasi FISIP UI, pada Kamis (26/3/2015). Hadir sebagai pembahas buku ini; Abdullah Hehamahua (Mantan Penasihat KPK), Dr. Manneke Budiman (Dosen Sastra FIB-UI), dan Agus R. Sarjono (penyair sekaligus Pemimpin Umum “Jurnal Sajak”).

Buku ini merupakan salah satu bentuk pernyataan keprihatinan terhadap semakin marak tindak pidana korupsi di tanah air. Dari sisi format penulisan, buku ini sangat berbeda karena ditulis dalam bentuk puisi panjang yang dilengkapi catatan kaki sebagai keterangan. Berkisah lima profil lakon fiktif, karya Satrio ini menarasikan perjalanan kelima tokoh yang berpendidikan tinggi dan agamais namun terbawa arus menjadi koruptor kelas kakap. Terinspirasi dari keadaan sesungguhnya yang terjadi di Indonesia, kelima lakon fiktif tersebut merupakan mantan aktivis mahasiswa, dosen teladan, penghafal kitab suci, tokoh partai, hingga hakim agung.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Jajaki Kerjasama dengan Tongji University China

Dr. Satrio Arismunandar adalah mantan aktivis mahasiswa, mantan cerpenis remaja tahun 1980-an, jurnalis, dosen, serta seorang penulis buku. Acara peluncuran dan bedah buku ini merupakan bentuk kerja sama antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UI dan Penerbit Inspirasi.co.