Select Page

Banyaknya informasi hoax terkait COVID-19 yang bertebaran semakin mendorong acuhnya masyarakat untuk menjaga diri. Selain itu, tingkat edukasi masyarakat dapat berpengaruh. Banyak pihak telah mengeluarkan panduan pembelajaran serta promosi Prokes sejak awal pandemi. Akan tetapi sayang, banyak warga masyarakat masih belum disiplin dan konsisten untuk melakukannya. Oleh karena itu, diperlukan agen-agen perubahan untuk berani memberikan contoh baik bagi lingkungannya.

Pada bulan November 2021 yang lalu, Tim Lintas Disiplin Edukasi COVID-19 Universitas Indonesia telah meluncurkan sebuah panduan edukasi COVID-19. Program edukasi tersebut bertujuan untuk melatih pemandu (training of trainers) secara berjenjang untuk dapat melaksanakan kegiatan edukasi-literasi langsung ke warga masyarakat.

Dalam acara Filantropi pada Rabu (16/02) yang ditayangkan melalui channel YouTube, mengundang para ahli sebagai pembicara salah satunya dari bidang ilmu sosial FISIP UI, Prof. Yunita T. Winarto yang berbagi informasi tentang pelaksanaan program edukasi-literasi yang telah disiapkannya melalui Pelatihan bagi Pemandu agar memiliki keterampilan melaksanakan edukasi-literasi bagi warga kelompok-kelompok sosial/klaster tentang karakteristik virus, persebaran dan pencegahannya, hingga pembentukan pranata budaya dalam mendukung pelaksanaan Protokol Kesehatan.

“Bahwa metode edukasi literasi ini yang betul-betul perlu kita benahi, jadi tidak bisa hanya promosi, leaflet, poster atau bahkan sanksi yang misalnya push-up dan denda. Karena pengetahuannya saja belum lengkap, belum lagi adanya hoax tentang Covid varian Omnicron ini. Jadi metode edukasinya harus mencerminkan kesetaraan antara pemandu dan masyarakat,” ujar Prof. Yunita.

Lebih lanjut Prof. Yunita menjelaskan, “kita berinteraksi dan berdialog, melibatkan masyarakat, komunikasi dua arah, partisipatif dan implusif. Kita sebagai pemandu juga perlu tahu bahwa mereka (masyarakat) sudah punya pengetahuan sebelumnya dari berbagai media. Pemandu juga harus menahan diri untuk tidak menggurui dan tidak bersikap mengajar, kita saling berbagi pengetahuan karena pemandu bisa jadi tidak tahu apa yang terjadi di lapangan.”

Perubahan perilaku mendukung protokol kesehatan sulit di wujudkan karena virus tidak terlihat, keberadaan virus juga hanya dapat diperkirakan dan dibayangkan saja. Disebagain masyarakat menganggap bahwa protokol Kesehatan itu tidak nyaman dan merepotkan.

“Cara yang efektif untuk mencegahnya, yaitu menjelaskan dampak virus ini pada tubuh, perlu juga ditunjukan bukti-bukti dampak nyata dari perilaku yang tidak mematuhi protokol kesehatan serta dilakukan secara berulang-ulang jangan bosan agar masyarakat betul-betul paham,” jelas Prof. Yunita.

Terkait dengan internalisasi norma-norma budaya, kita harus menginternalisasi nilai budaya baru Pemerintah sudah menayangkan protokol kesehatan melalui berbagai media dan sudah cukup gencar tetapi menginternalisasikan sehingga mengubah perilaku ada pranata budaya, peraturan baru, gajaran dan sanksi oleh masyarakat sendiri itu yang diperlukan, maka Prof. Yunita bersama tim membuat buku panduan “Mengenali Covid-19, Memantapkan Perilaku: Mengendalikan Pandemi.”