Pilih Laman

Kebakaran lahan gambut berulang kali terjadi sejak tahun 1990-an di Indonesia. Upaya-upaya pengendalian kebakaran yang sudah banyak dilakukan pemerintah dan pihak-pihak lain melalui beragam program belum berhasil menyelesaikan masalah kebakaran hutan.

Zulkifli Lubis, dosen Antropologi Universitas Sematera Utara yang mengambil program doktoral Antropologi di FISIP UI berusaha meneliti hal tersebut. Zulkifli mencari tahu mengapa program pemerintah yang ada belum dapat menyelesaikan masalah kebakaran lahan gambut. Zulkifli juga meneliti keadaan masyarakat khususnya di bekas proyek LPG, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mengapa belum ada subjek-subjek peduli lingkungan yang mengubah kultur membakar menjadi anti-membakar dalam konteks pengelolaan lahan gambut.

Disertasi ini merupakan kajian etnografi multi-aktor yang menggunakan perspektif environmentaliti. Pengumpulan data dilakukan dalam kurun waktu 2010-2015. Hasilnya, upaya tata kelola lingkungan melalui intervensi regulasi dan rehabilitasi tidak berhasil membentuk objek peduli lingkungan. Sebalinya, lebih cenderung melahirkan aktor yang berpandangan miopik dan bertindka pragmatik. Gejala budaya environmentaliti friksional ini menghambat efektivitas pengendalian kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Artikel Lainnya:  Ruang Kelas Multifungsi Persembahan dari Alumni FIS UI 76