Pilih Laman

 

Selasa (01/08), FISIP UI kembali mengadakan sebuah kuliah umum. Kali ini tamu yang diundang adalah Silvy W Puntowati, seorang alumnus Ilmu Antropologi UI yang kini bekerja di museum Volkenkunde, Belanda. Silvy yang sedang berada di Indonesia untuk berlibur musim panas menyempatkan diri hadir di almamaternya untuk berbagi pengetahuan mengenai koleksi benda-benda Indonesia di museum Volkenkunde. Kuliah umum ini bertempat di gedung H ruang 102, Kampus FISIP UI.

Silvy memaparkan sejarah panjang Museum Volkenkunde yang terletak di kota Leiden ini yang mulanya adalah sebuah rumah sakit berkapasitas 250 tempat tidur yang dibangun pada tahun 1873. Setelah mengalami penutupan pada tahun 1926 dan ditinggalkan selama 11 tahun, bangunan ini akhirnya dialihfungsikan menjadi museum Volkenkunde (Het Rijksmuseum voor Volkenkunde) pada tahun 1937. Benda-benda etnografi dari Indonesia memang bukan menjadi koleksi pertama museum Volkenkunde, tetapi menjadi salah satu koleksi terbanyak di musem Volkenkunde. Mulai dari tahun 1860, benda-benda etnografi dari Indonesia menjadi bagian dari Museum Volkenkunde yang didapatkan dengan berbagai macam cara. Beberapa cara diantaranya yakni ekspedisi ilmiah, rampasan perang, penemuan pribadi, hadiah dari para duta besar dan kolektor, temuan arkeologi, dan hibah dari pameran dunia. Beberapa koleksi benda-benda etnografi dari Indonesia yang otentik adalah patung-patung dari candi Singasari, Keris Jogja dari Dr Groneman (Dokter pribadi Sultan Hamengku Buwono VI), Badik Teuku Umar, dan Harta Cakra Negara. Dituturkan pula oleh Silvy bahwa gamelan berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung anak-anak di Belanda.

Artikel Lainnya:  Membedah Pemikiran Émile Durkheim

“Anak-anak di sana kan kalau ulang tahun kebanyakan justru suka dirayakan dengan paket wisata edukasi keliling museum. Mereka yang memilih paket wisata edukasi ke koleksi Indonesia pasti tidak mau pulang padahal durasi waktunya sudah habis. Masih ingin bermain gamelan kata mereka” tuturnya senang.

Kuliah umum ini dihadiri para antropolog, pegiat museum dan komunitas pecinta museum. Pada sesi tanya jawab, para peserta kuliah umum terlibat diskusi yang aktif terkait perbandingan program-program museum di Indonesia dan Belanda, juga wacana tentang orisinalitas benda-benda yang ada di museum.