Pilih Laman

Konservasi untuk menjaga keanekaragaman pada dasarnya berperan penting dalam kehidupan sosial-budaya. Hal ini yang menjadi titik tolak Mohammad Fathi Royyani dalam menyusun disertasi yang berjudul Cagar Biosfer: Perubahan Status Kawasan, Relasi Sosial dan Relasi Manusia-Alam dalam Isu Konservasi.

Mohammad Fathi Royyani menjalani sidang terbuka promosi doktor pada Senin (2/7)  di Auditorium Juwono Sudarsono. Sidang ini dipimpin oleh Dekan FISIP UI Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc., dengan promotor Prof. Dr. Achmad Fedyani Saifuddin, ko-promotor Dr. Herry Yogaswara, serta tim penguji beranggotakan Prof. Johan Iskandar, Ph.D., Mia Siscawati, Ph.D., Dr. Prihandoko Sanjatmiko, M.Si., dan Irwan Martua Hidayana., M.A., Ph.D.

Melalui sudut pandang etnografi, Mohammad Fathi Royyani melihat bahwa perubahan status kawasan adalah peristiwa penting yang menjadi titik mula berbagai peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bermula dari kawasan yang dikelola secara komersil lalu menjadi kawasan yang harus dilindungi. Sehingga, konservasi adalah bentuk dari konstruksi yang dibangun oleh aktor manusia yang terlibat dalam pengelolaan cagar biosfer. Perubahan status yang demikian menjadi peristiwa yang turut berperan dalam menjalin berbagai kejadian yang terdapat dalam kawasan konservasi.

Disertasi ini mengambil latar pada dinamika proses pembentukan dan pengelolaan kawasan konservasi yang bernama Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Mohammad Fathi Royyani melihat bahwa dinamika yang terjadi di kawasan konservasi melibatkan berbagai agen, seperti negara, swasta, masyarakat, serta keanekaragaman hayati di dalam kawasan konservasi tersebut. Keanekaragaman hayati dipandang sebagai “jangkar” yang menghubungkan berbagai fenomena sosial dalam konteks hubungan manusia dengan manusia maupun manusia dengan alam.

Artikel Lainnya:  Indonesia Perlu Perhatikan Lima Pilar Kebijakan Maritim Untuk Menjadi Poros Maritim Dunia

Keunikan fenomena sosial yang terjadi di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu adalah kronologi terbalik dari status kawasan eksploitasi (yang diintervensi untuk kepentingan manusia) menjadi kawasan dengan status konservasi (dibiarkan berkembang secara alamiah). Fenomena ini tentunya berbeda dengan berbagai kasus yang terjadi di kawasan konservasi lain yang menunjukkan proses perubahan dari kawasan konservasi menjadi kawasan eksploitasi.

Atas penelitiannya, Mohammad Fathi Royyani dikukuhkan menjadi doktor dalam bidang Antropologi dengan yudisium sangat memuaskan.