Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menggelar sidang promosi doktor atas nama Nicky Stephani pada Senin (22/6) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI. Melalui disertasinya yang berjudul “Dialectical Entrapment dan Performative Balance pada Ibu-Mahasiswa Doktoral: Ketegangan antara Kerja Akademik dan Keluarga dalam Struktur Neoliberal-Patriarkal”, Nicky berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi.

Penelitian ini mengkaji pengalaman ibu yang sedang menempuh pendidikan doktoral dalam menghadapi tuntutan akademik dan tanggung jawab keluarga secara bersamaan. Berangkat dari perspektif matricentric feminism, yang menempatkan pengalaman keibuan sebagai sumber pengetahuan yang sah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa berbagai kesulitan yang dialami ibu-mahasiswa doktoral bukan semata-mata akibat ketidakmampuan individu mengelola peran ganda. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan dampak dari sistem sosial yang secara bersamaan menuntut produktivitas akademik tanpa henti dan pengasuhan yang ideal serta total.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma critical constructivism dan melibatkan tujuh ibu-mahasiswa doktoral sebagai partisipan. Selama 6 minggu, para partisipan menuliskan pengalaman mereka melalui diary reflektif yang kemudian dianalisis untuk memahami dinamika kehidupan akademik dan keluarga yang mereka jalani.

Hasil penelitian menemukan adanya lima ketegangan utama yang terus dihadapi para ibu-mahasiswa doktoral. Ketegangan tersebut meliputi keinginan untuk mandiri yang berhadapan dengan kebutuhan untuk tetap dekat dengan keluarga, kebutuhan akan stabilitas yang berbenturan dengan tuntutan perubahan, keinginan untuk mengekspresikan diri yang sering kali harus ditahan dalam keheningan, dorongan untuk mengendalikan keadaan yang berhadapan dengan kenyataan yang harus diterima, serta kebutuhan akan pengakuan yang sering kali berhadapan dengan stigma sosial.

Menurut Nicky, tiga ketegangan pertama merupakan pengembangan dari teori dialektika relasional yang telah ada sebelumnya, sementara dua ketegangan terakhir muncul langsung dari pengalaman para partisipan dan menjadi kontribusi baru dari penelitian ini.

Penelitian juga menunjukkan bahwa intensitas ketegangan yang dialami setiap partisipan berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti status perkawinan, dukungan pasangan, usia dan tingkat kemandirian anak, kondisi ekonomi keluarga, serta jaringan sosial yang dimiliki.

Berbagai strategi ini mencerminkan konsep empowered mothering, yaitu bentuk agensi aktif perempuan yang tidak sekadar menerima kondisi yang ada, tetapi terus berupaya mengambil kendali atas pengalaman keibuan dan kehidupan akademiknya. Dalam konteks ini, para ibu tidak ditempatkan sebagai korban pasif, melainkan sebagai subjek yang secara sadar terus berjuang untuk mencapai otoritas, keaslian diri, dan kemandirian.

Dari temuan tersebut, Nicky mengembangkan dua konsep orisinal yang menjadi kontribusi utama disertasinya. Konsep pertama adalah Dialectical Entrapment, yaitu kondisi ketika berbagai ketegangan hidup hadir secara bersamaan dan saling memperkuat satu sama lain. Dalam kondisi ini, individu tidak hanya menghadapi tekanan dari berbagai tuntutan yang bertentangan, tetapi juga terbebani oleh kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam situasi yang sulit untuk dihindari.

Konsep kedua adalah Performative Balance, yaitu praktik menampilkan citra diri yang terlihat seimbang dan mampu mengelola semua peran di hadapan berbagai pihak, meskipun secara pribadi individu sebenarnya mengalami kelelahan, tekanan, dan ketidakseimbangan yang berlangsung terus-menerus. Penelitian menunjukkan bahwa praktik ini muncul karena adanya standar ganda yang menuntut perempuan menjadi ibu yang ideal sekaligus akademisi yang selalu produktif.

Secara akademik, penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan Relational Dialectics Theory (RDT) 2.0 dengan mengintegrasikan perspektif feminis dan interseksionalitas ke dalam analisis komunikasi. Selain itu, konsep Dialectical Entrapment dan Performative Balance menawarkan kerangka analisis baru untuk memahami pengalaman perempuan dalam berbagai institusi yang beroperasi dengan logika neoliberal.

Melalui penelitian ini, Nicky menegaskan bahwa keberhasilan akademik seorang ibu tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial yang melingkupinya. Karena itu, perubahan yang dibutuhkan bukan hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat institusi dan struktur sosial yang selama ini membentuk pengalaman perempuan dalam dunia akademik.