
Mahasiswa peserta mata kuliah Aktivisme dan Gerakan Sosial dari Departemen Antropologi Universitas Indonesia melakukan kunjungan lapangan ke dua organisasi non-pemerintah (NGO), yakni Solidaritas Perempuan di Jatipadang dan Greenpeace Indonesia di Menteng, Jakarta pada Sabtu (11/4).
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun dialog serta interaksi langsung antara mahasiswa dan para aktivis. Melalui pembelajaran dua arah tersebut, diharapkan lahir gagasan-gagasan baru sekaligus peluang kolaborasi yang mampu menjembatani teori akademis dengan praktik perubahan sosial di lapangan.
Di Solidaritas Perempuan (SP), mahasiswa mendapatkan pemahaman mengenai praktik gerakan feminisme yang berakar pada konteks lokal. Organisasi yang berdiri sejak 1990 ini berfokus pada perjuangan hak-hak sosial-ekonomi, perlindungan buruh, serta advokasi masyarakat adat.
Dalam praktiknya, SP mengedepankan pendekatan berbasis komunitas dan inklusivitas gender. Saat ini, organisasi tersebut memiliki sekitar 600 anggota perempuan dan 60 anggota laki-laki yang terlibat aktif dalam perjuangan kolektif. Selain itu, SP juga rutin menggelar Feminist Sunday Class setiap minggu, sebagai ruang diskusi terbuka bagi kaum muda untuk membahas isu-isu kontemporer dalam perspektif feminisme.
Sementara itu, di Greenpeace Indonesia, mahasiswa mempelajari strategi kampanye lingkungan yang berbasis riset dan kreativitas. Sebagai bagian dari jaringan organisasi global, Greenpeace Indonesia mengedepankan prinsip non-kekerasan dalam setiap aksinya.
Fokus kampanye organisasi ini meliputi isu hutan, kelautan, iklim dan energi, hingga persoalan perkotaan. Tidak hanya menyoroti kerusakan lingkungan, Greenpeace Indonesia juga aktif menawarkan solusi konkret dalam setiap kampanye yang dijalankan.
Dalam perkembangannya, strategi kampanye Greenpeace Indonesia semakin adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti media sosial dan situs web, serta pendekatan art activism untuk menyampaikan pesan secara kreatif kepada publik.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa aktivisme bukan sekadar aksi spontan, melainkan kerja kolektif yang berkelanjutan dan berbasis pengetahuan serta solidaritas. Isu gender dan lingkungan, meskipun memiliki pendekatan berbeda, dinilai saling melengkapi dalam upaya melawan ketidakadilan.
Salah satu mahasiswa peserta menyampaikan bahwa pengalaman tersebut memberikan perspektif baru terhadap peran generasi muda dalam gerakan sosial. “Setelah diskusi ini, aku jadi punya harapan lagi untuk mengisi ruang-ruang pergerakan lingkungan,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembelajaran kontekstual yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga terlibat secara langsung dalam dinamika gerakan sosial di masyarakat.





