Pilih Laman

Rabu (25/7), Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI bekerja sama dengan Kantor Internasional UI (UI International Office) mengadakan kuliah umum dengan tema Global CSR Practices: Challenges and Prospects yang bertempat di Auditorium Gedung Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Pembicara utama pada kuliah umum kali ini adalah Prof. Stephen Yong-Seung Park, Ph.D. dari Kyung Hee University, Korea Selatan. Profesor Park adalah guru besar industrial relations and human resources serta direktur Center for Peace through Commerce, Kyung Hee University.

Dalam kuliahnya, Profesor Park menyampaikan dunia kini bergerak ke arah paradigma baru, yang jauh berbeda dari paradigma sebelumnya. Seperti perubahan pada paradigma part menjadi whole, ego menjadi self (community), depedence menjadi independenceinterdepedence, learning to know menjadi learning to be, productivity menjadi creativity, dan shareholder value menjadi stakeholder value. Pergeseran paradigma seperti ini mempengaruhi berbagai hal, termasuk dunia ekonomi dan bisnis.

Artikel Lainnya:  Duka FISIP UI untuk Hizkia Jorry Saroinsong

Profesor Park juga menjelaskan bahwa responsibilitas selalu bersinggungan dengan kesadaran manusia. Kesadaran untuk terus mempertanyakan “Siapa kita?” dan “Untuk apa kita hidup?” sehingga menghasilkan sejumlah pertanyaan yang sifatnya ontologis.

Percampuran antara kesadaran manusia yang selalu ingin merefleksikan hakikat eksistensi dan pergeseran paradigma dalam dunia ekonomi dan bisnis menjadikan perusahaan untuk bergerak menjadi agen yang kolaboratif dalam pengembangan masyarakat dalam bentuk Corporate Sense of Responsibiliy (CSR).

Perusahaan yang dulunya hanya berorientasi pada maksimalisasi profit dituntut untuk memberikan keuntungan tidak hanya bagi para pemilik perusahaan (shareholders) tetapi juga kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk masyarakat.

Perlahan tapi pasti, perusahaan berubah menjadi lebih responsif melalui skema yang disebut spiritually evolved, self-effacing, dan servant leaders.

Artikel Lainnya:  Jejak Migrasi Austronesia dan Pengaruhnya

Profesor Park juga menyinggung bahwa, paradigma kolaboratif dalam dunia ekonomi dan bisnis harus melibatkan banyak pihak, seperti sektor publik (negara), sektor privat (perusahaan), non governmental organization (NGO), dan akademisi.

Pelibatan akademisi dalam dunia ekonomi yang kolaboratif harus sejalan dengan misi untuk mengubah paradigma pendidikan itu sendiri, dari “learning to know” dan “learning to do” menjadi “learning to be” dan “learning to live together”.

Diakhir perkuliahan, Profesor Park menggarisbawahi paradigma kolaboratif dalam dunia ekonomi dan bisnis sangat sejalan dengan nilai yang selalu dijunjung masyarakat Indonesia, yaitu gotong royong, sehingga perusahaan yang berada di Indonesia seharusnya mampu mengimplementasikan CSR dengan kualitas yang lebih baik. Iktikad baik pemerintah mengenai CSR telah dibuktikan melalui penerbitan sejumlah aturan perundang-undangan yang dikenal dengan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

Artikel Lainnya:  Simulasi Assessment AUN QA