Pilih Laman

BEM FISIP UI menyelenggarakan kegiatan Seminar Nasional dengan tajuk “Papua adalah Indonesia”. Seminar tersebut diselenggarakan di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI (29/10). Wakil Manajer Bidang Khusus Kemahasiswaan FISIP UI, Yogo Tri Hendiarto, S.Sos., M.Si. memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Disamping itu, turut hadir pula Direktur Papua Center FISIP UI, Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc. dan Perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Papua UI. Sedangkan pembicara dalam kegiatan ini adalah Prof. Dr. Muhammad A.S. Hikam (Mantan Menristek era Presiden Abdurrahman Wahid), Dr. Adriana Elisabeth (Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI), dan Johni Jonathan Numberi, M.Eng. (Aktivis Papua dan Kandidat Doktor UI) serta dimoderatori oleh Josie Susilo Hardianto (Wartawan Kompas).

Artikel Lainnya:  Tantangan Keterbukaan Informasi Publik di Era Digital

Sejak lama, Papua sudah tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan melalui proses sejarah yang panjang. Namun, pembangunan fisik dan sosial di tanah Papua dirasa kurang optimal karena belum tertatanya peraturan yang berlaku. Johni Jonathan Number menuturkan, “Meskipun sudah ada aturan otonomi khusus bagi Papua, beberapa target, misi, dan apa yang diharapkan belum tercapai secara optimal karena rendahnya pembangunan, khususnya pada bidang pendidikan sehingga konflik dan kesenjangan adalah hal yang belum bisa dilepaskan. Dalam seminar ini juga dibahas mengenai pandangan Papua menurut ‘orang-orang Jakarta’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Adriana Elisabeth, “Orang-orang Jakarta selalu melihat Papua condong ke arah yang kurang baik, padahal bisa jadi Papua adalah lebih baik dari Jakarta. Atas hal ini, kadang kita sering memberikan diskriminasi di kehidupan sehari-hari. Guna menanggulangi konflik sosial yang terjadi seperti kasus di Tolikara beberapa waktu silam, Muhammad A.S. Hikam memberikan tawaran dengan pendekatan budaya dan dialog, “Untuk jangka panjang, pendekatan budaya dan meningkatan dialog perlu dilakukan baik oleh penyelenggara negara maupun masyarakat itu sendiri agar potensi konflik dapat dimimalisir”. (BEM FISIP UI)

Artikel Lainnya:  Kuliah Tamu Penasihat Keamanan Nasional Presiden Polandia