Pilih Laman

Krisis iklim memperkuat ketidaksetaraan kekuasaan dan kekayaan yang sudah berlangsung lama dalam kapitalisme global. Selama lebih dari setengah abad, pertanyaan “lingkungan” telah menjadi pusat perdebatan politik dunia, dibingkai oleh pertumbuhan, keberlanjutan, pembangunan, dan keadilan. Saat krisis iklim yang semakin dalam mengarah pada “darurat iklim” ditambah dengan seruan untuk “Green New Deals,” kondisi kendala dan kemungkinan baru muncul.

Konferensi tahunan yang ke-9 Jaringan Penelitian Ekologi Dunia atau World-Ecology Research Network (WERN) adalah komunitas cendekiawan dan aktivis global yang berkomitmen untuk mempelajari perubahan mengenai alam dan masyarakat. Kegiatan ini menganalisis perubahan historis yang menjadikan organisasi manusia sebagai produsen dan produk dari jaringan kehidupan.

Konferensi yang di selenggarakan oleh Departemen Sosiologi FISIP UI pada 20 Juli 2023 di Auditrium Mochtar Riady ini mengangkat tema “Power, Profit & Planetary Life: The Global South and Socio-Ecological Liberation in the Capitalist World-Ecology”, mengeksplorasi dan merekonstruksi hubungan sosio-ekologis dari kekuasaan, keuntungan, dan kehidupan yang telah mengatur pembangunan yang tidak merata sejak 1492.  

Dalam sambutannya Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, “saya sangat antusias dengan diskusi yang kritis ini dan bagaimana kita mitagasi dan beradaptasi dengan krisis iklim yang muncul diperlukan, Indonesia menjadi tempat yang sesuai dan tepat unutk berdiskusi mengenai hal ini.”

Prof. Aji menekankan bahwa, “perubahan iklim telah memperingatkan kita bahwa krisis iklim itu benar dan sudah terjadi. Suhu permukaan global memburuk sekitar satu derajat celcius lebih tinggi pada tahun 2011 hingga 2020 dibandingkan dengan satu abad yang lalu dan semakin cepat.”

Menurut Prof. Aji, suhu permukaan global telah meningkat bencana iklim tak terelakkan. Hal itu sudah terjadi di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa daerah misalnya di pantai utara jawa tengah sekarang berada di bawah permukaan laut dan hanya satu dekade yang lalu daerah tersebut masih merupakan sawah yang sangat produktif.

“Saya juga percaya bahwa masalah iklim sangat terkait dengan masalah ketidaksetaraan dan eksploitasi. Emisi gas rumah kaca global terus meningkat dari penggunaan energi yang tidak berkelanjutan, penggunaan lahan, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi,” jelasnya.

Prof. Aji optimis dengan diselenggarakannya Konferensi tahunan World-Ecology Research Network menjadi sangat penting untuk berkontribusi dalam upaya memahami masalah kompleks ini, ia juga berpesan untuk hidup harmonis dengan alam dan jangan berhenti untuk melestarikan keindahan dunia ini.

Sebagai pembicara utama dalam kegiatan ini yaitu, Prof. Jason W. Moore (Unthinking the Climate Bomb: Imperialism, Class Politics, and Climate History in the Holocene and Beyond), Dr. Oliver Pye (Bandung, Madiun and Two Revolutions. Indonesia’s Forests in the World-Ecology), Francisia SSE Seda, Ph.D (Dialogical Sociology and Socio Ecological Liberation ), Prof. Dr. Damayanti Buchori (Transdisciplinarity,The Hidden Third and Socioecological Liberation: A Personal Odyssey), Suraya Afiff, Ph.D (Indonesia’s Climate Politics: The Challenge of Citizen Activism).