Select Page

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) telah berhasil menambahkan kembali Guru Besar dalam bidang Ilmu Hubungan Internasional dengan digelarnya Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Fredy Buhama Lumban Tobing M.Si oleh Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro, pada Sabtu (06/08) secara hybrid di Audiotorium Juwono Sudarsono.

Acara tersebut dihadiri oleh Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, Prof. Dr. Iwan Gardono Sudjatmiko (Ketua Senat Akademik Fakultas), Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono (Ketua Dewan Guru Besar Fakultas), para pimpinan Fakultas, para pimpinan Departemen Ilmu Hubungan Internasional dan juga keluarga besar Prof. Fredy. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi segenap pimpinan, civitas akademika dan keluarga besar FISIP UI dalam menyambut Prof. Fredy sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Hubungan Internasional.

Pidatonya yang berjudul “Diplomasi Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Optimalisasi Multilevel dan Multitrack Diplomacy”, Prof. Fredy senantiasa mengingatkan kepada kita semua bahwa “hubungan diplomasi tidak hanya dilakukan oleh aktor pemerintah semata, melainkan perlu adanya keterlibatan aktor bisnis yang diayomi oleh aktor pemerintah agar pembangunan ekonomi dapat berjalan dengan semakin baik. Akhirnya, grand strategy diplomasi ekonomi Indonesia, khususnya dalam bidang perdagangan, harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika global yang terjadi saat ini dan ke depan.”

Di negara mana pun kebijakan luar negeri sangat ditentukan oleh karakter dan dinamika politik di dalam negeri (domestic politics). Pada saat yang sama kebijakan luar negeri juga dipengaruhi oleh adanya usaha-usaha untuk mengamankan sumber-sumber daya dukungan eksternal demi pembangunan nasional tanpa mengorbankan kemerdekaannya. Oleh karena itu, politik luar negeri dan domestik tidak dapat dipisahkan karena terdapat “saling mencakup secara simbiotik”. Politik luar negeri merupakan refleksi dari politik domestik. Dengan demikian, politik luar negeri merupakan hasil perpaduan dan cerminan politik domestik dan politik, baik regional maupun internasional/ global.

Dalam kaitan diplomasi ekonomi sebagai bagian dari upaya pencapaian kepentingan nasional Indonesia, penting untuk memotretnya dari sisi upaya Indonesia dalam membuka pasar atau mitra yang baru, “pada tahun 2014 didanai oleh hibah riset UI, saya bersama rekan- rekan di Departemen Hubungan Internasional pernah melakukan penelitian tentang Peluang dan Tantangan Indonesia dalam membangun mitra baru di kawasan Amerika Latin khususnya Chile, Meksiko dan Peru.  Kawasan ini sangat menarik diteliti mengingat pertumbuhan ekonominya yang terus mengalami peningkatan yang signifikan. Namun demikian, hubungan kerja sama ekonomi, khususnya perdagangan dengan Indonesia masih sangat rendah,” ujar Prof. Fredy.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa nteraksi yang intensif dan aktif antar aktor adalah syarat utama dalam upaya diplomasi ekonomi negara, “namun demikian, perlu dicatat bahwa interaksi yang terbangun seyogyanya dilakukan di berbagai level (multilevel diplomacy), dari temuan penelitian tersebut, Indonesia, Meksiko, Chile, dan Peru penting untuk memanfaatkan berbagai institusi di mana ketiga negara terlibat seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC).”

Dengan menggunakan strategi diplomasi ekonomi dalam kerangka konsep multilevel dan multitrack, optimalisasi perdagangan dapat dilakukan dalam kerangka multilevel tidak hanya oleh aktor pemerintah, namun juga oleh kelompok bisnis, namun tetap dalam kendali pemerintah sebagaimana budaya ekonomi politik Indonesia selama ini. Hal ini tentu bertujuan untuk tetap menjaga kepentingan nasional dan kesejahteraan masyarakat lokal di tengah daya saing global.

Melalui multitrack diplomacy berbagai aktor dilibatkan dalam proses perdagangan internasional. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu melibatkan dan memfasilitasi perusahaan-perusahaan Indonesia untuk membuka relasinya dengan berbagai perusahaan di kawasan dengan potensi mitra  baru. Business to Business yang terjalin akan mengoptimalkan capaian dalam diplomasi ekonomi Indonesia.

Selain itu, dibutuhkan pula diversifikasi aktor komoditas unggul Indonesia yang telah menempati posisi strategis dalam komoditas ekspor dunia, yakni dengan mendorong pegiat UMKM sebagai manifestasi diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan demikian, tidak hanya melakukan perjanjian di antara para elit dalam pertemuan-pertemuan bilateral maupun multilateral, diplomasi ekonomi juga seyogyanya digerakkan dengan konektivitas antar individu. Dengan harmonisasi berbagai aktor tersebut, maka diharapkan upaya ekspansi dan penetrasi pasar bagi produk-produk Indonesia semakin masif, intensif, dan inklusif.

Dengan bertambahnya Guru Besar, diharapkan nantinya Departemen HI FISIP UI akan membuka pascasarjana doktoral, menurut Ketua Departemen “mohon doa dan dukungannya untuk program S3 HI yang akan dibuka tahun depan,” ujar Asra Virgianita, Ph.D.