Pilih Laman

Dalam kunjungan kerjanya ke Huaqiao University, Tiongkok (27/9), Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc.,  memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa program sarjana Departemen Ilmu Hubungan Internasional Huaqiao University. Ia memberikan paparan tentang “Societal Development in Indonesia Nowadays: A Political Sociology Perspective”. Kuliah bertema Indonesia perlu dilakukan, mengingat masih banyak masyarakat Tiongkok yang belum mengenal Indonesia, juga sebaliknya. Padahal, hubungan antar negara-negara di Asia semakin meningkat, demikian pula hubungan antara Indonesia dengan Tiongkok. Setali tiga uang, para mahasiswa peserta kuliah tamu tersebut sewaktu ditanya tentang Indonesia, hampir semua belum terlalu mengenal Indonesia­, mereka justru lebih mengenal pulau Bali sebagai destinasi wisata.

Artikel Lainnya:  Bazaar sehari Carrefour di FISIP UI

Begitu pula sebaliknya, pemahaman banyak masyarakat Indonesia tentang Tiongkok belum menyeluruh. Banyak yang tidak mengetahui bahwa Tiongkok memiliki populasi Muslim yang besar, sekitar 20 juta orang, hasil dari penyebaran agama Islam dari negeri Arab ke Tiongkok lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Alhasil, masjid dan rumah makan halal banyak ditemukan di setiap kota di Tiongkok. Salah satunya yakni Masjid Qingjing di kota Quanzhou yang memilki makna penting dalam sejarah Islam, mengingat Quanzhou merupakan daerah awal yang mengkoneksikan Tiongkok melalui pelayaran Laksamana Cheng Ho (Zheng He) ke dunia.

Hasil diskusi dan tanya jawab Professor-Mahasiswa Huaqiao University mencerminkan bahwa di level ‘akar rumput’, pemahaman antar masyarakat masih jauh dari yang diharapkan. Hal ini perlu dibenahi, mengacu pada mekanisme kerjasama tingkat tinggi (level Wakil Perdana Menteri) yang menyebutkan “Hubungan Antar-Masyarakat” sebagai salah satu bidangnya. Dua lainnya yakni Ekonomi dan Politik serta Hukum dan Keamanan.

Artikel Lainnya:  Kerja Sama FISIP UI dengan Faculteit der Sociale Wetenchappen University of Leiden

Keberhasilan peningkatan pemahaman antar-masyarakat dapat dicapai dengan keterlibatan para aktor diplomasi multi jalur (multi-track diplomacy). Tidak hanya pemerintah, tetapi juga individu atau kelompok individu dinilai dapat berperan penting untuk meningkatkan pemahaman sosial, politik, dan budaya antar kedua negara dan mengurangi ketegangan antar kelompok atau bangsa.