Pilih Laman

Rony Agustino Siahaan mendapatkan gelar Doktor Ilmu Komunikasi pada Rabu (12/7) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, dengan judul disertasi “Performa Identitas Ibu Digital: Kompleksitas dan Pencapaian Peran Perempuan sebagai Ibu Stay-At-Home di Era Media Sosial.”

Ketua sidang promosi doktor, Prof. Dr. Doddy Prayogo, MPST. Promotor Dr. Hendriyani dan kopromotor, Endah Triastuti, Ph.D. Para dewan penguji Dr. Rita Gani, Laras Sekarasih, Ph.D, Dr. Nina Mutmainnah, Dr. Donna Asteria, Dr. Pinckey Triputra, Dr. Indah Santi Pratidina, Novi Kurnia, Ph.D.

Di era digital khususnya sejak kemunculan media sosial, telah terjadi perubahan besar pada cara hidup manusia sebagai realitas keseharian yang dibentuk oleh pengalaman personal dalam beragam engagement dengan media digital. Kini cara hidup tersebut mengejawantah ke dalam perilaku berkomunikasi yang menunjukkan kerja identitas.

Menurut Rony, identitas ibu sudah lama menjadi bidang kajian utama di negara Barat dan sampai sekarang pun kompleksitas identitas ibu masih menarik perhatian perempuan peneliti feminis. Sementara di Indonesia sendiri penulis belum melihat kajian ibu sebagai sebuah ‘body of knowledge’ selain sebagai topik penelitian yang menginduk pada bidang kajian perempuan.

“Dalam keterbatasan kajian ibu di Indonesia tersebut itulah saya mengamati kapitalisasi status keibuan (atau dalam paradigma kritis: komodifikasi identitas ibu) di Instagram dalam fenomena sharenting Instamom yang merupakan kelanjutan dari era momblogger,” ujarnya.

Disertasi ini mengeksplorasi praktik digital ibu stay-at-home yang menciptakan performa identitas di media sosial, seperti contohnya dalam praktik sharenting di Instagram, dalam kerangka mengkaji dinamika konstruksi identitas di ruang digital terkait kompleksitas identifikasi perempuan sebagai ibu.

“Secara historis identitas ibu stay-at-home merujuk kepada peran domestik ibu tradisional dan subjektivitas perempuan kelas menengah urban sebagai ibu kontemporer yang memiliki pergumulan transisi menjadi ibu yang dilematis, konflik identitas diri perempuan, dan ambivalensi pengasuhan,” jelas Rony.

Dengan pendekatan teori performativitas terhadap konstruksi identitas dalam praktik keseharian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan normativitas peran gender dan keragaman performativitas ibu yang diciptakan oleh praktik komunikatif di ruang digital dalam konteks pengasuhan sebagai praktik budaya dan situasi perempuan di Indonesia.

“Penelitian ini menemukan bahwa praktik digital keseharian ibu milenial tersebut mengakselerasi transisi menjadi ibu yang transformatif dan menciptakan performa subjek femininitas keibuan kontemporer yang menegosiasikan peran ibu tradisional. Subjektivitas perempuan yang mengkomodifikasi identitas ibu melalui konstruksi identitas diri ibu berjejaring pada akun Instagram menghasilkan beragam pencapaian performa ibu digital yang mengkontekstualisasikan peran strategis ibu di era neoliberlisme,” jelas Rony.

Hasil penelitian tersebut mengimplikasikan bahwa identitas ibu secara normatif terkait gender tidak sepenuhnya berlaku di ruang digital, karena pada saat yang sama performa ibu digital mengkonstruksi subjektivitas dalam konfigurasi femininitas keibuan yang baru.