Select Page

Adhalina Maria resmi menjadi doktor dalam bidang antopologi. Gelar tersebut resmi didapatkan setelah Adhalina berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Agensi dan Performativitas Gender Perempuan dan Transpuan Pekerja Seni dalam Merespon Konstruksi Gender pada Topeng Betawi” pada sidang promosi doktor yang dilaksanakan secara hybrid di Auditorium Juwono Sudarsono, Kamis (21/07).

Sidang promosi doktor Adhalina dengan promotor Prof. M.A. Yunita Triwardani W, MS., M.Sc., Ph.D dan kopromotor Mia Siscawati, M.A., Ph.D serta para penguji Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang, M.A., Lugina Setyawati Setiono, M.A., Ph.D., Dr. Irwan Martua Hidayana., dan Dave Lumenta, Ph.D.

Disertasi ini menggambarkan perempuan dan transpuan pekerja seni yang memiliki dua ranah kehidupan, yaitu ranah kehidupan sehari-hari dan ranah seni pertunjukan, dalam menghadapi konstruksi gender pada komunitas Topeng Betawi.

Fokus pada disertasi ini memiliki tiga hal. Pertama adalah performativitas gender dan agensi dari pengalaman perempuan pekerja seni yang merespon subordinasi perempuan pekerja seni, seperti perempuan yang tidak dapat menjadi pemimpin, domestikasi perempuan, dan pembungkaman suara perempuan. Kedua, performativitas gender dan agensi dari perempuan pekerja seni yang merespon kekerasan berbasis gender dan pelecehan seksual. Ketiga, performativitas gender dan agensi dari transpuan pekerja seni dalam merespon diskriminasi dan kekerasan gender yang tentunya memiliki perbedaan dari pengalaman perempuan pekerja seni.

“Penelitian ini menggunakan metode etnografi yang membuat saya melakukan partisipasi secara total dalam kehidupan sehari-hari dari informan yang diteliti. Penelitian ini juga memberikan kebaruan dalam performativitas gender dan agensi yang dimiliki oleh individu dengan dua ranah kehidupan,” ujar Adhalina.

Konstruksi gender seperti subordinasi terhadap perempuan, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender yang terdapat dalam komunitas Topeng Betawi tercipta dari kompilasi antara nilai budaya patriarki, norma heteronormativitas, dan ajaran agama Islam yang digunakan sebagai pedoman dalam menjalankan hidup sehari-hari.

Adhalina menjelaskan bahwa perempuan pekerja seni merespon subordinasi dan kekerasan berbasis gender secara berbeda antara ranah kehidupan yang satu dengan yang lain. Ketika berada di ranah seni pertunjukan mereka merespon tindakan tersebut dengan menunjukkan performativitas gendernya sebagai perempuan yang memiliki kedudukan setara dengan laki-laki dan sebagai perempuan yang tidak bisa menerima perlakuan kekerasan. Mereka berhasil mewujudkan intensinya sehingga menghasilkan agensi yang dapat menghentikan tindakan subordinasi dan kekerasan berbasis gender yang dilakukan oleh lawan mainnya di atas panggung.

“Namun, ketika berada di kehidupan sehari-hari, mereka melakukan performativitas gendernya sesuai dengan harapan masyarakatnya yaitu menempatkan dirinya di bawah laki-laki dan menerima perlakuan kekerasan sebagai hukuman atas dirinya yang tidak dapat menjalankan perannya sebagai perempuan dengan baik. Mereka mengganggap pelecehan seksual sebagai sesuatu yang wajar, namun bisa diminimalisir dengan menjadi perempuan yang saleh,” tambahnya.

“Dalam hal performativitas gender, perempuan dan transpuan pekerja seni memanfaatkan panggung sebagai media dalam memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya. Hal itu karena nilai budaya patriarki, norma heteronormativitas, dan ajaran agama tidak terlalu berpengaruh dalam ranah seni pertunjukan. Jadi, kelonggaran pertunjukan Topeng Betawi dapat mendukung performativitas gender dari perempuan dan transpuan pekerja yang sebenarnya ingin mereka lakukan,” jelas Adhalina.

Lebih lanjut ia menjelaskan, makna panggung pertunjukan bagi perempuan dan transpuan pekerja seni adalah sebagai arena yang paling “jujur’. Mereka dapat memainkan lakon sebagai orang lain, namun sesungguhnya sedang menunjukkan diri yang sebenarnya tapa takut diadili oleh komunitasnya karena berlindung atas nama pertunjukan yang menghibur penonton.

Hasil Penelitian

Penelitian ini menunjukkan empat hal. Pertama, dalam merespon konstruksi gender, perempuan dan transpuan pekerja seni melakukan performativitas gender yang berbeda antra ranah kehidupan sehari-hari dengan ranah seni pertunjukan. Kedua, komponen pembentuk agensi perempuan dan transpuan pekerja seni tidak selalu muncul pada setiap ranah kehidupannya. Artinya, komponen agensi yang satu belum tentu muncul dalam ranah kehidupan lainnya. Ketiga, terjadi keterlindanan agensi dari perempuan dan transpuan pekerja seni pada kedua ranah kehidupannya yaitu, ranah kehidupan sehari-hari dengan ranah seni pertunjukan. Keempat, seni pertunjukan yang tidak memiliki naskah dan aturan atas dialog dan akting yang baku telah memberikan kesempatan bagi pekerja seninya untuk menyuarakan kesetaraan gender.