Pilih Laman

Penelitian ini di latar belakangi oleh terpilihnya seorang perempuan kepala daerah yang berasal dari kasta yaitu Mas Sumantri yang berpasangan dengan Artha Dipa, dimana pasangan ini menjadi kandidat penantang dan menang Pilkada Karangasem-Bali tahun 2015.

Kadek Dwita Apriani berhasil menyandang gelar doktor Ilmu Politik. Setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Perilaku Memilih Masyarakat dalam Pilkada Kabupaten Karangasem – Bali Tahun 2015: Studi Kasus Kemenangan Perempuan Sebagai Bupati di Wilayah Berkultur Patriarki” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Kadek dilaksanakan pada Jumat (27/12) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Kemenangan pasangan mas Sumantri dan Artha Dipa ini menjadi fenomena penting karena mereka mengalahkan dua kandidat yang diusung oleh partai besar dimana salah satu pasangan ini merupakan incumbent.

Fenomena empiris ini menjadi dasar terbentuknya pertanyaan penelitian dalam disertasi ini yaitu faktor-faktor apa yang menyebabkan kemenangan kandidat perempuan dalam pemilihan kepala daerah di wilayah berkultur partriarki seperti Kabupaten karangasem, Bali pada tahun 2015? Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini digunakan dua teori utama yaitu teori perilaku memilih dan teori gender stereotype.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran dengan desain sekuensial eksplanatori yang terdiri atas dua fase utama yaitu fase kuantitatif yang disusul oleh fase kualitatif.

Artikel Lainnya:  Returness ISIS Indonesia: Dekontruksi Pemahaman Terhadap Pandangan Dunia yang Adil

Temuan penelitian ini menunjukan bahwa faktor penyebab keterpilihannya Mas-Dipa dalam Pilkada Karangasem 2015, bukanlah faktor kasta dan gender, melainkan karena beberapa faktor lainnya, seperti: kandidat ini (Mas-Dipa) dipandang memiliki kualitas instrumental dan simbolis yang lebih baik dibanding dua kandidat lain, kinerja incumbent dalam sektor ekonomi yang dinilai buruk oleh pemilih, jumlah pemilih dengan identifikasi partai politik di kabupaten ini yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak memilikinya, dan pemanfaatan opinion leader di organisasi sosial tradisional seperti Banjar dan Dadia yang telah dibangun oleh suami Mas Sumantri sejak lama.  

Ini memperlihatkan bahwa keterpilihan perempuan kepala daerah di Karangasem tidak dapat dilepaskan dari efek familial ties.

Penelitian ini memberi kontribusi pada teori yang digunakan. Pada teori perilaku memilih, faktor kandidat, kinerja incumbent dan pengelompokan sosial tradisional Banjar dan Dadia terlihat lebih signifikan dibandingkan faktor lain seperti faktor kasta dan identifikasi partai politik.

Artikel Lainnya:  HMIP FISIP UI gelar Polfair 2014

Dalam pengelompokan sosial tradisional di Bali terlihat lebih spesifik dibandingkan faktor lain seperti faktor kasta dan identifikasi partai politik.

Dalam pengelompokan sosial tradisional di Bali terlihat peran opinion leader masih mempengaruhi pilihan politik masyarakat, namun kini pengaruhnya terbaca pada organisasi-organisasi sosial tradisional bersakala kecil seperti Banjar dan Dadia, bukan lagi pada level desa adat.

Pada teori gender stereotype, kontribusi penelitian ini terletak pada konteks fenomena yang dapat dikaji dengan teori ini. Teori gender stereotype tidak sepenuhnya dapat menjelaskan keterpilihan perempuan dalam Pilkada Karangasem 2015 karena konteks masyarakatnya yang berkultur patriarki.

Di luar dua teori utama tersebut, penelitian ini juga menunjukan implikasinya terhadap  konsep familial ties. Terpilihnya perempuan di wilayah berkultur patriarki turut disebabkan oleh hubungan kekerabatannya dengan laki-laki yang memiliki pengaruh dalam masyarakat, namun latar belakang kerabat laki-laki itu tidak harus politis dominan. Ia dapat merupakan elit ekonomi dan tokoh masyarakat.

Artikel Lainnya:  Sidang Promosi Doktor: Hernita Wahyuni (Program Studi Ilmu Administrasi)

Kontribusi lain dari disertasi ini terletak pada pemanfaatan metode campuran untuk mengkaji perilaku memilih dalam pemilihan kepala daerah dan pengembangan alat ukur guna melihat perilaku memilih dalam masyarakat Bali.