Sumber: Youtube Garuda TV

Penyelenggaraan China-Eurasia Expo 2026 di Urumqi, Daerah Otonom Uyghur Xinjiang, menunjukkan bagaimana diplomasi ekonomi dan pembangunan konektivitas mampu menciptakan ruang kolaborasi yang semakin luas di tingkat internasional.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) sekaligus Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional, Prof. Evi Fitriani, penyelenggaraan expo berskala internasional tersebut menjadi bukti bahwa sebuah wilayah tidak harus berada di pusat ekonomi global untuk mampu menjadi simpul penting dalam jejaring kerja sama antarnegara.

“Saya kagum melihat bagaimana Urumqi dan Xinjiang, yang berada di wilayah pedalaman Tiongkok, mampu menyelenggarakan expo internasional dalam skala yang sangat besar. Expo ini menghadirkan peserta tidak hanya dari Asia Tengah dan Asia Selatan, tetapi juga dari Asia Tenggara, Australia, Afrika, hingga Amerika Latin. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan konektivitas mampu mentransformasi suatu wilayah menjadi pusat interaksi ekonomi dan diplomasi internasional,” ujar Prof. Evi.

China-Eurasia Expo ke-9 yang berlangsung selama lima hari mengusung tema “New Opportunities for Silk Road, New Vitality for Eurasian Cooperation”. Kegiatan ini mempertemukan 49 negara, menghadirkan 27 paviliun nasional, serta melibatkan lebih dari 3.000 perusahaan dari berbagai sektor industri. Lebih dari 80 agenda promosi perdagangan dan investasi diselenggarakan untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari teknologi hijau, ekonomi rendah karbon, perdagangan lintas batas, energi hijau, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Uni Emirat Arab, Rusia, Korea Selatan, dan Thailand untuk pertama kalinya membuka paviliun nasional. Kazakhstan dan Pakistan ditetapkan sebagai negara tamu kehormatan, sedangkan Vietnam menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang menghadirkan paviliun nasional.

Bagi Prof. Evi, meningkatnya partisipasi negara-negara dari berbagai kawasan menunjukkan bahwa China-Eurasia Expo telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pameran perdagangan. Forum tersebut menjadi instrumen diplomasi ekonomi yang mempertemukan kepentingan berbagai negara untuk membangun kemitraan yang lebih luas.

“Saya melihat expo ini membuka peluang kerja sama yang semakin mendalam, bukan hanya antara Tiongkok dengan negara-negara Asia Tengah dan Eropa, tetapi juga dengan negara-negara Asia Tenggara, Australia, hingga kawasan lain. Ini merupakan contoh bagaimana forum internasional dapat menjadi jembatan bagi lahirnya kolaborasi ekonomi yang lebih inklusif,” jelasnya.

Selain mempromosikan perdagangan dan investasi, China-Eurasia Expo 2026 juga menampilkan berbagai proyek konektivitas strategis dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI).

Salah satunya ialah pengembangan jaringan China-Europe Railway Express yang menghubungkan Tiongkok dengan Kirgizstan, Uzbekistan, dan Turki, serta direncanakan terus berkembang menuju kawasan Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Vietnam.

Menurut Prof. Evi, pembangunan jaringan transportasi lintas negara tersebut memiliki makna strategis yang jauh melampaui fungsi infrastruktur.

“Pembangunan jalur kereta api lintas negara bukan semata-mata untuk mempercepat arus perdagangan. Infrastruktur tersebut juga menjadi instrumen untuk membangun kepercayaan, memperkuat integrasi kawasan, dan menciptakan hubungan yang semakin erat di antara negara-negara yang terlibat. Dengan demikian, konektivitas menjadi fondasi penting bagi kerja sama ekonomi jangka panjang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Evi menilai bahwa pengalaman penyelenggaraan China-Eurasia Expo memberikan pembelajaran penting bagi Indonesia. Forum internasional semacam ini memperlihatkan bagaimana diplomasi ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring perdagangan, menarik investasi, sekaligus membangun kemitraan strategis dengan berbagai kawasan di dunia.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk berpartisipasi lebih aktif dalam forum-forum internasional seperti ini. Selain memperluas jaringan kerja sama, partisipasi tersebut juga dapat membuka peluang investasi, memperkuat perdagangan internasional, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global,” tuturnya.

Penyelenggaraan China-Eurasia Expo 2026 menunjukkan bahwa pembangunan konektivitas, penguatan infrastruktur, serta diplomasi ekonomi merupakan elemen yang saling melengkapi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi momentum untuk terus memperkuat kolaborasi internasional melalui diplomasi yang didukung oleh pembangunan ekonomi, inovasi, dan kerja sama lintas kawasan.

 

dikutip dari Garuda TV https://www.youtube.com/watch?v=pk6Z0melsjw