Pilih Laman

Prof. Vedi R. Hadiz, salah satu alumnus FISIP UI, kembali menciptakan karya di bidang akademis. Karya Prof. Vedi adalah buku berjudul ‘Islamic Populism in Indonesia and the Middle East’. Buku tersebut kemudian dibahas bersama dalam acara bedah buku pada Rabu (24/8/2016) di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI. Dalam acara bedah buku ini turut hadir Syahrul Hidayat, Ph.D. dari Departemen Ilmu Politik FISIP UI dan Arya Sandhiyudha, Ph.D. selaku Direktur Eksekutif dari Madani Center for Development and International Studies.

Secara garis besar, buku ini merupakan pendekatan baru untuk bidang politik Islam. Buku tersebut membahas studi baru yang membandingkan evolusi populisme Islam di Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan negara-negara Timur Tengah. Dengan memanfaatkan pendekatan dari sosiologi sejarah dan ekonomi politik, Prof. Vedi berpendapat bahwa politik Islam dapat dipahami sebagai produk dari perjuangan kontemporer kekuasaan, sumber daya material, dan akibat dari konflik di berbagai konteks sosial dan historis.

Artikel Lainnya:  Rangkaian Adwar Workshop dalam Pekan Komunikasi 2016

Dengan dimoderatori oleh Dr. Ade Armando dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, acara bedah buku dimulai dengan pemaparan awal dari Prof. Vedi. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa penelitiannya mengedepankan studi komparatif terutama pada politik Islam di Indonesia, Turki serta Mesir. Penelitiannya ini berfokus pada satu pertanyaan utama yaitu ‘Mengapa Politik Islam di Indonesia berbeda dengan Turki dan Mesir?’

Dalam buku yang ia tulis, Prof. Vedi mengatakan bahwa negara Turki dan Mesir berbeda dengan Indonesia. Di Turki, politik Islam justru berkembang akibat sentimen yang muncul dari bentuk negara sekuler-nasionalis yang sejak awal diusung oleh pemimpin revolusi Kemal Ataturk. Hal ini berbeda dengan politik Islam di Indonesia yang muncul dengan sendirinya. “Politik Islam tidak meminta negara islam, mereka mengikuti negara yang sudah ada,” katanya. Keadaan tersebut juga berbeda dengan keadaan di Mesir tatkala terjadi perang dingin paska kejadian Arab Spring. Di sana, kelompok Ikhwanul Muslimin berhasil menguasai kekuatan oposisi politik yang paling terorganisir. Meski berhasil menguasai masyarakat Mesir pada saat itu, namun organisasi tapi tidak berhasil menguasai negara.

Artikel Lainnya:  Belajar Menulis Boga di Fisipers Day 2017

Setelah paparan awal diberikan, diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari para pembahas. Syahrul Hidayat, Ph.D. menyampaikan bahwa buku ini menarik karena bukan untuk membahas pemikiran Islam secara teologis, tapi menggali soal sosial, ekonomi, dan politik. Ia juga menyoroti konsep Islam populisme itu sendiri yang dalam buku ini dijelaskan sebagai suatu gerakan aliansi multi kelas. Pembedah selanjutnya, Arya Sandhiyuda kemudian melanjutkan dengan menanggapi bahwa istilah Islamic Populism tersebut dapat menjadi istilah yang populer. Ia mengatakan bahwa istilah sebelumnya seperti Civil Islam, Political Islam, dan sebagainya dapat menjadi tidak berlaku. Istilah lama tersebut dapat menjadi kurang relevan atau bahkan komunitas Islam sendiri menolak istilah tersebut.

Prof. Vedi R. Hadiz adalah ilmuwan sosial Indonesia yang bekerja sebagai Professor of Asian Studies di Asia Institute, University of Melbourne, Australia. Sebelumnya, Hadiz bekerja sebagai Professor of Asian Societies and Politics pada Asia Research Centre, Murdoch University, Australia dan sebagai Associate Professor pada Jurusan Sosiologi National University of Singapore (NUS). Ia juga pernah bekerja pada Asia Research Centre, Murdoch University, Australia, sebagai Research Fellow. Selain itu, ia juga merupakan Adjunct Professor di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia. Prof. Vedi R. Hadiz lulus S1 FISIP UI dan memperoleh gelar PhD di Murdoch University pada 1996.

Artikel Lainnya:  Renovasi Ruang Lembaga Giatkan Diskusi Mahasiswa

Sebagai seorang akademisi, Prof. Vedi rajin menciptakan karya tulis ilmiah. Beberapa karya tulis ilmiahnya pernah terbit di Indonesia dalam jurnal Prisma dan di luar negeri dalam jurnal Development and Change, New Political Economy, Democratization, Third World Quarterly, Pacific Review, Journal of Contemporary Asia, Critical Asian Studies, Historical Materialism, dan sebagainya. Ia memperoleh Future Fellowship dari Australian Research Council pada 2010. Prof. Hadiz pernah menjadi peneliti tamu pada Universitas Kyoto di Jepang, International Institute of Social Studies di Belanda, dan School for Advanced Studies in the Social Sciences (EHESS) di Perancis.