Pilih Laman

Radhiyan Pribadi Pasopati, mahasiswa Ilmu Politik 2014, berhasil meraih predikat mapres utama FISIP UI setelah mengalahkan lima orang lainnya di babak final. Hal tersebut diumumkan langsung oleh Dekan FISIP UI, Dr. Arie Setiabudi Susilo, M.Sc., pada Malam Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi FISIP UI 2017 yang diselenggarakan pada Rabu (5/4), di Auditorium Juwono Sudarsono.

Dalam pidatonya setelah dikukuhkan menjadi mahasiswa berprestasi, Radhiyan bercerita telah menginginkan gelar tersebut sedari masih menyandang status Mahasiswa Baru FISIP UI. “Saat Pengenalan Sistem Akademik Kampus (PSAK) saya ditanyai target dan cita-cita saya selama kuliah. Konyolnya saya iseng menjawab ingin jadi Mapres. Saya bersyukur hal itu terwujud sekarang,” katanya.

Artikel Lainnya:  Sosialisasi Seleksi Bakal Calon Dekan FISIP UI

Juara kedua dan ketiga diraih oleh Netta Cynara Anggina dan Alfi Naufida Ulinnuha. Keduanya adalah mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2014. Mereka bertiga bersaing ketat dan membuat ketua dewan juri, Shofwan Al Banna kebingungan menentukan siapa pemenangnya.

Pada malam tersebut juga diumumkan mahasiswa berprestasi talent souting yang diraih oleh Dimas Putra Permadi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2015. Dimas diharapkan mampu meneruskan perjuangan Radhiyan dan mempersiapkan diri untuk memperbanyak prestasinya agar siap bertanding di perhelatan mapres tahun depan.

Acara juga diisi dengan penganugerahan mahasiswa berprestasi kategorial untuk bidang seni budaya, olahraga, kewirausahaan, kepemimpinan, dan sosial masyarakat. Mereka adalah mahasiswa yang memiliki peran penting dan berbagai pengalaman di bidangnya masing-masing. Misalnya mapres kategori kepemimpinan diraih oleh Syaeful Mujab yang adalah ketua BEM UI 2017 dan mapres seni budaya yang diraih oleh Hendi Herdiansyah yang telah melakukan misi budaya ke Korea.

Artikel Lainnya:  FISIP UI Jajaki Kerjasama dengan Beberapa Universitas di Amerika Serikat

Rangkaian pemilihan mahasiswa berprestasi FISIP UI diawali dengan kegiatan turun lapangan ke Pasar Kemiri untuk melihat realitas yang ada. Sebelas besar finalis kemudian diharuskan membuat karya tulis ilmiah yang berisi gagasan untuk memecahkan berbagai persoalan sosial. Kemudian terpilih enam besar yang harus bertanding di babak debat Bahasa Inggris. Selain itu, prestasi akademik, nonakademik, dan kepribadian para finalis juga dinilai.