Apakah Hormuz akan menjadi “Suez Moment” bagi Amerika Serikat? “Suez moment” adalah istilah dalam politik internasional yang merujuk pada momen ketika kekuatan besar menyadari keterbatasan kekuasaannya dan mengalami penurunan pengaruh global secara dramatis.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Shofwan Al Banna, menilai respons negara-negara sekutu terhadap seruan Amerika Serikat untuk membantu membuka Selat Hormuz yang diblokade Iran menunjukkan dinamika baru dalam hubungan internasional.
Menurutnya, sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan sikap enggan untuk terlibat. Sementara itu, dari Eropa, Menteri Pertahanan Jerman menyatakan bahwa keterlibatan militer harus memenuhi persyaratan politik domestik, termasuk persetujuan parlemen (Bundestag) serta mandat internasional.
“Jika kapal Amerika Serikat saja mengalami kesulitan, maka akan semakin sulit bagi negara lain, termasuk Jerman, untuk turut serta,” ujarnya, dikutip dari instagram pribadinya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang selama ini dikenal dekat dengan kebijakan luar negeri AS juga menunjukkan kehati-hatian dan tidak tertarik untuk memperluas konflik. Sementara Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dinilai sebagai pihak yang relatif lebih terbuka, meskipun tanpa pernyataan langsung yang tegas.
Shofwan menjelaskan bahwa situasi ini memicu kritik dari Amerika Serikat terhadap negara-negara sekutu yang dianggap tidak menunjukkan rasa timbal balik atas perlindungan yang selama ini diberikan, khususnya dalam kerangka NATO (The North Atlantic Treaty Organization).
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dalam sejarah, satu-satunya penerapan Pasal 5 NATO justru terjadi untuk membela Amerika Serikat, yakni pasca Serangan 11 September. Dalam konteks tersebut, negara-negara Eropa, termasuk Inggris, turut mengirimkan pasukan ke Afghanistan dan Irak.
Lebih lanjut, Shofwan mengaitkan fenomena ini dengan konsep “Suez moment”, yang merujuk pada Krisis Suez. Peristiwa tersebut menandai kemunduran pengaruh Inggris dan Prancis sebagai kekuatan global setelah upaya mereka bersama Israel untuk menguasai Terusan Suez gagal akibat tekanan internasional.
“Pertanyaannya, apakah kita sedang menyaksikan ‘Suez moment’-nya Amerika Serikat, di mana pengaruhnya sebagai negara adidaya mulai menurun? Ini menjadi pertanyaan terbuka,” jelasnya.
Ia menambahkan, hanya waktu dan perkembangan geopolitik ke depan yang dapat menjawab apakah penolakan negara-negara sekutu terhadap seruan Amerika Serikat kali ini merupakan indikasi melemahnya hegemoni global negara tersebut.
“Sejarah yang akan membuktikan,” tutupnya


