Pilih Laman

Pada Jumat (20/12) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Didik Novi Rahmanto berhasil menyandang gelar Doktor dalam Kriminologi. Setelah mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Returness ISIS Indonesia: Dekontruksi Pemahaman Terhadap Pandangan Dunia yang Adil” dihadapan para penguji.

Penelitian ini berdasarkan perkembangan isu terorisme yang menunjukan bahwa terorisme berdasar agama telah menjadi sebuah tren di dunia, mengingat bahwa agama merupakan salah satu alat propaganda yang cukup efektif untuk membuat manusia berani mengorbankan diri demi kepercayaan agama.

Dalam perkembangan dinamika terorisme, Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) merupakan salah satu kelompok terorise yang mendapat perhatian sangat luas. Hal yang penting dilakukan ISIS dalam deklarasi tersebut adalah seruan kepada muslim di seluruh dunia untuk bergabung dan berjihad bersama ISIS.

Deklarasi negara khalifah dan propaganda tentang banyaknya keuntungan dan kemudahan oleh ISIS akhirnya meyakinkan banyak orang datang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Orang-orang ini kemudian disebut sebagai foreign terrorist fighters (FTF) atau ada juga yang menyebut dengan foreign fighters.

Kejadian nyata yang menunjukan betapa bahayanya FTF gelombang 1 di Indonesia, dimana alumni Afghanistan yang kembali ke Indonesia menjadi pelaku serangan Bom Bali 1. Indonesia memiliki jumlah FTF signifikan, hingga tahun 2019 total sudah terdapat 2.377 orang FTF dengan rincian yang masih berada di Suriah dan Irak 1.413 orang, tewas 112 orang, deportan 554 orang dan returness sebanyak 120 orang serta berencana berangkat 178 orang.

Artikel Lainnya:  Peneliti FISIP UI Ciptakan Aplikasi Android “KCJ Train”

Menggunakan metode penelitian kualitatif dalam membahas latar yang melandasi kepulangan WNI yang menjadi FTF di Suriah kembali ke Indonesia. Temuan hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat tiga faktor utama yaitu expectation gap, radicalism dan individual obligation.

Serta tiga faktor penunjang yang mempengaruhi perilaku WNI untuk berangkat ke Suriah maupun mempengaruhi keputusan returness Indonesia untuk tidak kembali ke jaringannya yaitu interaction and exposure, ideal status and role based on religion, anomalie and frustation.

Faktor utama yang mempengaruhi seseorang untuk bergabung maupun berhenti menjadi teroris adalah pemahamannya terhadap dunia yang ideal karena pandangan mereka tentang dunia yang adil seperti Suriah  yang digambarkan dalam propaganda ISIS.

Sementara returness memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke jaringan terorisme karena adanya perubahan terhadap pandangan dunia yang ideal, returness tidak melihat Suriah sebagai dunia yang ideal.