Industri perikanan tangkap Indonesia tidak hanya berhadapan dengan persoalan eksploitasi sumber daya laut, tetapi juga dengan kompleksitas rezim perburuhan yang menopang proses produksi hingga distribusi komoditas perikanan.
Temuan tersebut mengemuka dalam Seminar Hasil Penelitian dan Soft Launching Buku Gelem Iwake Emoh Kuline: Dinamika Rezim Perburuhan dalam Kapal-Kapal Perikanan Tangkap Industrial di Indonesia yang diselenggarakan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia bersama Departemen Antropologi FISIP UI, Rabu (23/9) di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI, Depok.
Mengambil idiom Jawa “gelem iwake, emoh merumat weduse”(mau ikannya, tetapi tidak mau memelihara kambingnya) riset ini menggambarkan paradoks industri yang menghendaki hasil tangkapan dan akumulasi komoditas, tetapi belum sepenuhnya menempatkan kesejahteraan buruh sebagai bagian integral dari sistem produksi. Riset etnografi kolaboratif selama hampir dua tahun tersebut menganalisis rezim perburuhan melalui empat ruang: produksi, sirkulasi, reproduksi sosial, dan ekologi.
Penelitian menggunakan pendekatan etnografi kolaboratif dengan melibatkan buruh nelayan sebagai co-producer of knowledge. Peneliti melakukan imersi, antara lain selama 51 hari di kapal penampung dan 17 hari di kapal poll and line, serta melakukan penelitian terhadap pengalaman awak kapal. Lokasi penelitian mencakup Muara Baru, Bajo Mulyo Juwono, Tegal Sari, Karangsong, Pekalongan, Bitung, dan sejumlah kantung buruh nelayan di Pantura.
Pada ruang produksi, penelitian menemukan mekanisme kontrol yang berlapis, mulai dari hierarki jabatan, relasi paternalistik antara kapten dan awak kapal, hingga penggunaan CCTV pada kapal modern.
Sementara itu, sistem pengupahan baik harian, bulanan, maupun bagi hasil memiliki titik-titik kerentanan eksploitasi. Praktik kasbon, mulai dari kasbon pancingan, kontrak, koperasi, calo, hingga grosir, turut menciptakan sirkulasi modal yang pada sejumlah kasus berujung pada upah minus.
Dr. Josefina Anggraini (Dosen Antropologi FISIP UI) menilai pendekatan etnografi kolaboratif menjadi salah satu kekuatan penelitian karena mampu membuka akses terhadap industri yang relatif tertutup. Menurutnya, praktik kasbon perlu dipahami dalam konteks ketidakpastian struktural yang dihadapi buruh. Kasbon tidak semata-mata merupakan pilihan ekonomi yang bebas, tetapi menjadi salah satu mekanisme kepastian yang dapat diakses pekerja ketika pilihan di pasar kerja sangat terbatas.
Dari perspektif politik perburuhan, Irwansyah (Dosen Ilmu Politik FISIP UI) menyoroti bahwa dinamika tersebut perlu dibaca melalui Labour Process Theory. Ia melihat bahwa posisi kapten tidak hanya berkaitan dengan hubungan hierarkis di atas kapal, tetapi juga dengan bagaimana risiko produksi didistribusikan dalam rezim perburuhan. Ia juga menyoroti regulasi dan media sosial sebagai bagian dari infrastruktur yang membentuk proses rekrutmen dan hubungan kerja.
Sementara itu, Rahmat Mualim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan konteks mengenai perubahan industri pascamoratorium 2014. Ia menekankan perlunya pembenahan dari sisi rekrutmen, identitas digital awak kapal, transparansi pengupahan, standar akomodasi, serta koordinasi lintas instansi. Ia juga menyoroti adanya anomali dalam klasifikasi kapal yang dapat berdampak pada kondisi ruang bagi awak kapal.
Dari sisi industri, Janti Djuari dari AP2HI mengingatkan pentingnya mempertimbangkan karakteristik setiap alat tangkap sebelum menggeneralisasi temuan penelitian. Menurutnya, poll and line dan handline memiliki pola operasi, durasi pelayaran, sistem penyediaan kebutuhan pokok, serta mekanisme sertifikasi yang berbeda. AP2HI menyatakan keterbukaan untuk membangun baseline, program perbaikan, dan indikator yang dapat diverifikasi bersama DFW Indonesia.
Riset juga menunjukkan bahwa reproduksi sosial buruh banyak dieksternalisasi kepada tubuh pekerja dan keluarga. Jam kerja panjang, ruang istirahat terbatas, sanitasi minim, isolasi, serta risiko kesehatan menjadi bagian dari pengalaman kerja. Di darat, perempuan memainkan peran penting dalam menopang kebutuhan keluarga melalui kerja pengasuhan, perawatan, dan aktivitas ekonomi yang menopang keberlangsungan rumah tangga.
Dalam ruang ekologi, karakter ikan yang mudah membusuk membentuk rantai pendingin dan ritme kerja yang ketat. Peneliti juga mencatat risiko pelayaran jarak jauh, penggunaan kapal penampung, kecelakaan akibat paparan freon dan amonia, serta ketidakpastian ekologis yang turut memengaruhi praktik kerja dan kehidupan buruh.
Seminar dan soft launching buku ini menegaskan pentingnya melihat industri perikanan tangkap secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari komoditas dan keberlanjutan sumber daya, tetapi juga dari relasi kerja, reproduksi sosial, dan kondisi ekologis yang memungkinkan industri tersebut terus berlangsung.




