Pilih Laman

Celerina Dewi Hartati berhasil menyandang gelar doktor Antropologi. Setelah berhasil mempertahankan hasil disertasinya yang berjudul “Sakral dan Profan dalam Dimensi Ruang dan Waktu: Studi Kasus Upacara di Kelenteng Hok Lay Kiong Bekasi” di hadapan para penguji. Sidang promosi doktor Celerina dilaksanakan pada Jumat (03/01) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI.

Latar belakang disertasi ini adalah religi rakyat Cina  yang sering diartikan dengan ciri-ciri sinkretis antara ajaran Daoisme, Konghucu dan Buddha seperti yang didefinisikan oleh para misionaris Yesuit yang datang ke Tiongkok pada awal tahu 1600 dan juga di definisikan sebagai beragam takhayul yang dilakukan secara massa.

Selain itu religi rakyat juga di definisikan sebagai unsur keseluruhan budaya orang Cina dan juga sebagai suatu proses pembentukan makna yang berubah-ubah.

Artikel Lainnya:  Hubungan Internasional FISIP UI Mengadakan Dialog Daring Bertajuk "Defining Nurani”

Religi rakyat Cina dapat di definisikan dalam dua konsep, yaitu religi rakyat Cina adalah religi kelas bawah atau disebut juga religi rakyat jelata. Serta religi rakyat Cina yang di praktikan hampir semua orang Cina di mana pun terlepas dari status sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, wilayah atau identifikasi agama tertentu.

Praktik kepercayaan orang Cina yang merupakan religi rakyat ini terlihat dari upacara-upacara yang diselengarakan di Klenteng Hok Lay, bekasi.

Upacara-Upacara yang diselengarakan adalah sembahyang ceit capgo (sembahyang setiap tanggal 1 dan 15 setiap bulan Imlek), Imlek (tahun baru Cina), Capgomeh (malam 15 yaitu upacara tanggal 15 bulan pertama Imlek), upacara ualang tahun dewa (sejit) atau sering disebut dengan ulang tahun klenteng dan Cioko (sembahyang rebutan).

Artikel Lainnya:  Pendaftaran Rektor UI Dibuka Hingga 11 September 2014

Disertasi ini merupakan kritikan terhadap teori Emile Durkheim mengenai konsep sakral dan profan. Emile Durkheim melihat religi sebagai suatu bentuk dikotomi antara sakral dan profan dalam dimensi ruang dan waktu. Diskusi sakral dan profan selama ini senantiasa memperlakukan ruang dalam analisis yang coextensive atau menyatu.

Padahal dalam beberapa kebudayaan, pemisahan kedua hal tersebut yaitu antara ruang dan waktu sangat dibutuhkan dalam memahami konsepsi sakral dan profan itu sendiri. Dalam kebudayaan Cina perlu adanya pemisahan ruang dan waktu dalam memperlihatkam yang sakral.

Disertasi ini menunjukan ruang sakral menjadi tidak sakral ketika ada upacara dan dimensi waktu menentukan konsepsi sakral. Melalui dimensi waktulah, proses transformasi terjadi dengan mengubah yang profan menjadi sakral demikian juga sebaliknya. Penelitian ini merupakan penelitian metode etnografi yang dilakukan di Klenteng Hok Lay Kiong, Bekasi.

Artikel Lainnya:  Manajemen Data dan Pengelolaan Jaring Pengaman Sosial di Tengah Pandemi Covid-19

Teknik utama yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pengamatan terlibat dan pengamatan terhadap upacara-upacara seperti sembahyang ceit capgo, rangkaian upacara Imlek mulai dari upacara mengantar dewa dapur, upacara memandikan patung dewa, sampai dengan upacara Imlek, upacara Capgomeh dan upacara ulang tahun dewa Hang Thian Siang Tee, yang merupakan dewa utama klenteng.

Dengan menganalisis upacara-upacara tersebut terlihat bagaimana konsepsi sakral terwujud dalam sebuah upacara dan dimensi waktu yang mengubah profan menjadi sakral.