Pilih Laman

Kota Seni adalah sebuah festival yang bertajuk kesenian yang merupakan salah satu program unggulan dari BEM FISIP UI. Rangkaian acara ini diselenggarakan selama dua term semester yakni di bulan Mei dengan lokakarya Gelas Rupa dan di term berikutnya pada bulan Desember awal di tahun 2015. Kota seni bertujuan menghimpun dan menawarkan alternatif kesenian dalam tataran global namun tetap dengan narasi lokal yang ditawarkan. Seni rupa, tari, teater, film, hingga musik mulai dari konvensional hingga kontemporer akan disajikan melalui mata acara yang beragam mulai dari lokakarya, pameran, screening film, hingga panggung pertunjukkan.

Tahun ini, Kota Seni mengusung tema ruang temu. Ruang temu yang dimaksud bertujuan mempertemukan beragam interpretasi dan pandangan dari beragam individu yang tinggal di perkotaan yang kerap tidak bertemu baik di tataran gagasan maupun secara fisik. Beragam karya yang dihadirkan dalam Kota Seni 2015 diharapkan dapat mempertemukan kebisingan dan kebungkaman yang terjadi di ranah perkotaan.

Rangkaian festival Kota Seni resmi dibuka dengan lokakarya di term pertama, yakni lokakarya Gelas Rupa. Lokakarya ini merupakan hasil kolaborasi dari BEM FISIP UI dengan Jakarta32C dengan mengusung tema “Batas Selatan”. Batas selatan sebagai tema dimaksudkan sebagai bahasan klise mengenai wilayah-wilayah di Selatan Jakarta yang menjadi pusat pebangunan dan gedung-gedung bertingkat dengan romantisme yang dibangun melalui arsitekturnya sendiri. Lokakarya ini diletakkan sebagai pembuka agar mahasiswa FISIP bisa saling bertukar pikiran dengan komplotan seniman dari Jakarta32C.

Artikel Lainnya:  Departemen Ilmu Komunikasi Selenggarakan Pengabdian Masyarakat Bertema Penggunaan Gawai pada Anak Usia Dini

Usai Gelas Rupa, dimulailah rangkaian puncak acara Kota Seni yang dimulai dari pembukaan pameran seni rupa dan parade dari masing-masing jurusan untuk menyambut kemeriahan dari pembukaan rangkaian Kota Seni. Di rangkaian berikutnya, disajikan beragam pemutaran film yang membahas beragam isu mengenai perkotaan dengan suka duka yang dialami individu yang terlibat didalamnya. Terdapat pula lokakarya untuk membuat beragam kerajinan tangan sederhana yang mudah diikuti mulai dari membuat karya dari keramik, stencil, hingga shibori. Selain itu, beragam pertunjukkan panggung seperti band dan tari disajikan. Di akhir rangkaian, terdapat Gelmab yaitu pementasan teater dari mahasiswa baru FISIP UI yang dibagi berdasarkan jurusan masing-masing. Tema yang diusung dalam Gelas Maba 2015 ini pun tentunya sejalan dengan tema Kota Seni yakni Utopia. Subtema yang diambi berdasarkan ideologi-ideologi politik populer yang dituangkan dalam bentuk pertunjukan teater, tata artistik properti, parade, dan poster dari masing-masing jurusan yang membawakan. Diharapkan, Gelmab sebagai salah satu mata acara unggulan dari Kota Seni ini dapat merepresentasikan ke-heterogenitas-an kota dengan beragam ambiguitas yang dibangunnya.

Dari rangkaian Kota Seni ini diharap dapat membangun narasi baru yang dialami oleh warga yang tinggal di perkotaan. Realitas-realitas sosial yang memuakkan dapat dituangkan melalui beragam medium kesenian di Kota Seni. Pun para seniman dan penikmatnya dapat dipertemukan melalui rangkaian kegiatan dan pameran. Kota Seni diharapkan mambu membangun wacana global mengenai peranan “pertemuan” dari setiap karya dan proses pengkaryaannya. Mengutip dari Becker (1974), seni seharusnya menjadi bagian dari collective action yang berusaha mendekatkan dan menghubungkan antara seniman, karya, hingga penikmat seni itu sendiri. Untuk itulah proses pengkaryaan, pengkurasian, hingga pagelaran dari Kota Seni mampu menjadi collective action yang dapat menjembatani realitas sosial perkotaan yang mungkin selama ini berada dalam ranah imaji belaka. Beragam keluh kesah, gundah gulana, hingga suka cita mampu terekspresikan melalui beragam programnya mulai dari pameran, lokakarya, hingga pertunjukkannya.

Artikel Lainnya:  Filantropis Milenial : Membawa Kedermawanan ke Arah Keberlanjutan

Rangkaian Kota Seni melalui karya-nya semoga dapat menjadi penengah dari kesemrawutan kota dan tidak dijadikan alat untuk menghakimi realita sosial dengan institusi yang terlibat didalamnya. Karya-karya yang disajikan dapat dijadikan wadah pengekspresian beragam emosi yang mungkin sulit untuk dituangkan melalui rangkaian kata. Beragam kritik, saran, yang membangun sangat diharapkan guna membangun ruang diskusi terbuka sebebas-bebasnya. Dengan begitu, ruang temu yang diusung sebagai tema dalam rangkaian Kota Seni 2015 dapat terealisasikan. Beragam perspektif baru yang diutarakan melalui kritik maupun karya diharap mampu menjadi rujukan baru untuk melihat beragam realitas sosial di perkotaan. (BEM-FISIP UI)