Select Page

Internet cenderung membentuk media yang cepat dibandingkan sebagai media yang detail dalam penyajian informasi. Adanya pergerseran praktik jurnalisme media daring, saat ini banyak berita dari media daring sangat bergantung pada berita yang telah dikemas sebelumnya, yakni bergantung pada materi public relations dan juga layanan kantor berita. Selain itu adanya hambatan jurnalis media daring seperti ada tekanan untuk menghasilkan berita online hampir real-time telah meyebabkan hilangnya akurasi, pengecekan dan bahkan melaporkan berita sebelum hal tersebut dikonfirmasi.

Hal itu dikemukakan Ilham Fariq Maulana yang merupakan alumni Pascasarjana Departemen Ilmu Komunikasi, saat ini ia menjadi SEO content writer. Ilham membuka presentasi yang berjudul Habitus pada Jurnalis Media Daring yang Menggunakan Konsep Jurnalisme Lambat (Studi Kasus Jurnalis Tirto.id dan Katadata.co.id) dalam rangkaian seminar nasional telah diselenggarakan Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI tentang Media Daring dan Jurnalisme Lambat pada Masa Pandemi, pada Jumat (13/05).

Jurnalisme pada dasarnya tidaklah bisa dipisahkan dari teknologi karena jurnalisme sendiri juga bergantung pada fungsi teknologi untuk membantu pesan dan juga membagikannya kepada masyarakat. Proses dari analog menjadi digital mengubah volume berita yang diterima oleh publik, kecepatannya atau velocity penyampaiannya, keragaman atau variety rasanya, dan penilaian khalayak tentang kebenaran atau velocity.

“Salah satu konsep kerja dari jurnalisme digital itu adalah jurnalisme data. Para akademisi dan praktisi menilai bahwa jurnalisme data itu sebuah praktik pelaporan berita yang baru,” sambungnya.

Jurnalisme data itu membutuhkan keahlian seperti membentuk pemberitaan yang substansial, akses ke kumpulan data, dan banyak lagi. Hal ini jika dihubungkan yang sudah jurnalisme lambat menunjukkan bahwa jurnalisme lambat itu sebenarnya ingin menunjukkan kepada pembaca sumber informasinya, bagaimana informasi itu dikumpulkan dan membedakan subjektivitas dan ketidakpastian selama proses penemuan fakta.

Artinya konsep jurnalisme lambat itu tidak melawan praktik penayangan dan pendistribusian dalam waktu yang hampir real-time. Tapi jurnalisme lambat setiap waktunya ingin memberikan refleksi kepada jurnalisme media daring dan juga para media daring khususnya untuk mempertimbangkan mode slow atau mode lambat.

“Pemilihan konsep habitus sendiri didasarkan pada pandangan bahwa jurnalisme lambat tidak hanya memfokuskan pada kritik gaya ruang berita yang memfokuskan hampir akselerasi. Praktik jurnalisme digital dan jurnalisme lambat dapat dijelaskan melalui pengalaman dan pemahaman nilai yang mereka dapatkan sepanjang hidupnya, yang disebut dengan habitus,” ujar Ilham.

Dikatakan, habitus adalah hasil proses belajar yang sangat panjang dan berkesinambungan. Habitus ini tidak mudah hilang ataupun tidak mudah untuk diubah. Karena habitus itu menubuh di setiap masing-masing individu.

Peran vital media pada masa pandemi Covid-19, menyajikan informasi secara rinci tentang ancaman kesehatan kepada publik, pembuatan keputusan dan komunitas ilmiah.

“Kualitas jurnalisme pada pra-krisis pandemi Covid-19 seperti media memberitakan datangnya Covid-19 ke Indonesia dengan proyeksi ketakutan dan kepanikan secara berlebihan, media terlarut dalam teori-teori konspirasi seputar virus Corona yang sulit diverifikasi dan media menyambut berita hoax dan misinformasi yang beredar di media sosial seputar Covid-19 tanpa sikap kritis. Yang pada akhirnya di maintenance dengan media mulai bersikap kritis dan keras terhadap pemerintah terkiat kebijakan-kebijakan yang diambil seperti lockdown, PSBB dan lain sebagainya,” ujar Irwan Nugroho (Alumni Departemen Ilmu Komunikasi FIISP UI.

Menurut Dr. Irwansyah (Dosen Deprtemen Ilmu Komunikasi FISIP UI), “ekosistem informasi berubah dengan jurnalistik memasuki dunia daring, memiliki website kemudian jurnalistik memasuki media sosial. Seperti dibuktikan oleh pandemi Covid-19, konsep kesehatan dibangun secara budaya, ekonomi dan politik oleh karena itu pemahaman lokal tentang kesehatan menjadi penting. Hal ini menunjukan perlunya kesadaran akan kekuatan media mainstream dan sumber informasi lainnya untuk melestarikan gagasan kesehatan yang dibangun secara budaya dan agar informasi ini didasarkan pada basis pengetahuan dan pemahaman medis yang terus berkembang.”

Irwansyah juga memberikan rekomendasi, yaitu perlindungan kemerdekaan dan kebebasan jurnalis dan karyanya, resiliensi profesi jurnalis dan karyanya termasuk tentang Covid-19 merupakan memory collective bagi bangsa untuk menghadapi berbagai problematika yang lebih kompleks di masa depan.