Pilih Laman

Dunia kini memasuki tahap industrialisasi generasi keempat yang ditandai dengan era digitalisasi termasuk dalam jual beli saham. Kini, investasi dalam bentuk demikian tidak hanya menjadi monopoli pemodal besar, masyarakat kecil secara individu pun dapat terlibat dalam perdagangan di bursa efek.

Namun, para spekulator dalam membuat keputusan untuk menjual atau membeli saham hanya menggunakan metode BMJM (Beli Murah Jual Mahal). Padahal mengandalkan spekulasi seperti tersebut belum tentu benar, terlebih jika keadaan harga pasar terbaru muncul dan berbalik arah.

Naluri, insting, dan common sense seperti ini seringkali merugikan para investor pemula. Riwayat dari harga saham, komoditi, atau valuta asing tidak dapat serta merta diprediksi dengan cara yang demikian, karena harus dipelajari sebelumnya melalui pengamatan bentuk grafik yang terjadi.

Artikel Lainnya:  Iman Usman: “Cari perhatian boleh tetapi harus lewat prestasi”

Berangkat dari hal ini, John P. Kaunang, salah satu kandidat doktor Ilmu Administrasi Universitas Indonesia tertarik untuk menyusun disertasi yang berjudul Analisis Model Prediksi Harga Saham pada Bursa Efek Indonesia dengan Model Statistik Maxwell-Boltzmann.

Selain itu, hal utama yang disoroti dalam disertasi ini adalah penggunaan statistik Maxwell-Bolztmann untuk memprediksi perilaku saham di bursa efek. Penggunaan statistik Maxwell-Boltzmann pun menarik untuk dibahas, karena sejatinya statistik tersebut lazim digunakan dalam disiplin fisika untuk menggambarkan kecepatan partikel gas yang bergerak dalam bejana (tabung) tertutup.

John P. Kaunang menyampaikan disertasinya pada sidang promosi doktor terbuka pada Rabu (4/7) di Auditorium Juwono Sudarsono yang diketuai oleh Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M.Si., dengan promotor Prof. Dr. Ferdinand Dehoutman Saragih, M.A., ko-promotor Ir. Bernardus Yuliarto Nugroho, MSM., Ph.D., dan tim penguji yang beranggotakan Prof. Dr. Alder Manurung, Prof. Dr. Martani Huseini, Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Si., M.M., Dr. Roy Valiant Salomo, M.Soc. Sc., Dr. Umanto, M.Si., dan Novita Ikasari, M.Com., Ph.D.

Artikel Lainnya:  Kelas Kolaborasi Internasional FISIP UI dan Faculty of Arts, The University of Melbourne

Dengan statistik Maxwell-Boltzmann dapat dilihat hubungan yang erat antara volume saham dengan harga saham. Pola pergerakan dengan statistik ini pun tidak bersifat acak, melainkan mengikuti suatu pola pergerakan harga–sesuai dengan Hukum I Newton yang menyatakan bahwa arah suatu pola gerakan cenderung berlanjut sampai ada tanda-tanda akan berhenti atau berbalik arah. Ketika menggunakan statistik Maxwell-Boltzman, kesesuaian prediksi tren pergerakan harga saham pun menyentuh angka 69%

Sehingga, statistik Maxwell-Boltzmann lebih unggul dalam memperkirakan: (1) harga saham; (2) jangkauan lebar prediksi perubahan harga saham; maupun (3) kecepatan perubahan momentum yang sering mengalami ketertinggalan (lagging) dibanding statistik lain seperti MACD, 10 SMA – 10 EMA, RSI, William %R, OBV maupun Osilator Stokastik.

Artikel Lainnya:  Mengulik Kriminologi Forensik

Atas disertasinya, John P. Kaunang dikukuhkan sebagai doktor Ilmu Administrasi dengan yudisum sangat memuaskan.